Dilema Uji Kompetensi Guru


oleh Musa Ismail, M.Pd.

Menurut rencana, November 2015 nanti pemerintah melalui Kemendikbud akan melaksanakan kembali Uji Kompetensi Guru (UKG) untuk seluruh guru. UKG ini akan dilaksanakan di 5.000 tempat (TUK). Tujuannya untuk melakukan pemetaan terhadap kompetensi yang dimiliki guru Indonesia. Selama ini, pemerintah baru memiliki gambaran terhadap 1,6 juta guru. Berdasarkan data Dirjen Guru dan PTK Kemendikbud, dari jumlah tersebut, hanya 192 guru yang memiliki kompetensi di atas nilai 90. Sementara itu, 1.875 guru memiliki nilai di bawah 10. Saat ini, rata-rata nilai UKG hanya 4,7. Target renstra tahun ini, rata-rata nilai UKG adalah 5,5. Secara bertahap, rata-rata UKG pada 2019 ditargetkan mencapai 8,0.

Data hasil UKG di atas menggambarkan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Pertama, telah terjadi dilema keberadaan kemampuan guru Indonesia. Dilema ini terutama berkaitan dengan sistem UKG bersifat langsung melalui internet (online). Hal ini tentunya berkaitan dengan masalah kemampuan guru, terutama guru yang tidak menguasainya secara benar. Selain itu, persoalan geografis yang bisa menjadi kendala akan kelancaran UKG tersebut. Kedua, keraguan keakuratan data hasil UKG jika dikomparasikan dengan kesahihan soal-soal UKG. Secara empiris ketika pelaksanaan UKG pada 2012, berbagai kenyataan akan keraguan kesahihan soal UKG mencuat. Soal-soal yang digunakan kurang mencerminkan pengujian suatu kompetensi yang bermutu. Di antaranya, beberapa soal ada yang diulang-ulang. Ada pula soal yang tidak memiliki stimulus, sedangkan guru dituntut menjawab berdasarkan stimulus soal. Persoalan lainnya, yaitu konstruksi kebahasaan soal pun kacau/rancu sehingga mengganggu pemahaman guru. Hal-hal semacam ini seharusnya tidak terjadi jika soal-soal UKG dirumuskan (diformulasikan) dengan profesional. Ketiga, munculnya keprihatinan akan kompetensi guru di tanah air. Ini berarti bahwa guru-guru di Indonesia secara umum tidak memiliki kompetensi yang unggul. Dengan kata lain, sebagian besar guru tidak layak berada di depan kelasnya. Ini merupakan pukulan terberat buat para pencerdas insan cendikia. Keempat, hasil UKG yang notabene rendah selama dan terekspose selama ini telah menciptakan anggapan buruk bagi kompetensi guru. Seharusnya, hasil ini didahului dengan berbagai analisis dari berbagai segi pula sehingga benar-benar matang, termasuk kelayakan soal yang diujikan beberapa tahun lalu itu. Jika formulasi soal UKG bermasalah seperti sebelumnya, maka hasil UKG tidak akan sahih sebagai pengukur kompetensi guru.

Realitas saat ini, tidak adanya tindak lanjut dari hasil UKG sebelumnya. Semestinya, pihak Kemendikbud melakukan berbagai kegiatan peningkatan kualitas bagi guru-guru yang katanya berkompetensi rendah, bukan mendiamkan saja. Pola peningkatan kualitas ini pun selalu saja menjadi dilema dan masalah dari dulu hingga kini. Pelaksanaannya tidak sesuai dengan pola yang komprehensif sehingga terkesan asal-asalan. Kemendikbud harus memiliki konsep komprehensif sehingga pola peningkatan kualitas guru seperti pelatihan dapat memberikan keluaran (output) yang meningkatkan kompetensi guru lebih maksimal. Bukan yang terjadi selama ini bahwa keluaran itu dijadikan sebagai bahan olok-olok di muka guru. Apakah begini caranya memuliakan guru seperti yang didengungkan selama ini?

Pada dasarnya, UKG merupakan ujian teoretis buat guru. Tentu saja hasilnya mengarah pada aspek pengetahuan. Sementara itu, jika kita komparasikan dengan aspek kinerga guru sebagai pendidik, juga berkelindan dengan aspek keterampilan dan sikap dalam praktik kehidupan sehari-hari. Pertanyaan, apakah hasil teoretis bisa menjadi ukuran akurat dalam menilai kompetensi guru. Bukankah penilaian yang otentik (authentic assesment) itu harus dilakukan dengan berbagai jenis penilaian yang sebenarnya? Dengan kata lain, UKG yang teoretis itu hanya merupakan gambaran sebagian kecil dari kompetensi guru yang sebenarnya di dalam kelas. Akan lebih baikkah guru yang teoretis UKG-nya tinggi jika dibandingkan dengan guru yang teoretis UKG-nya sedang? Hidup ini bukanlah teori, tetapi praktik. Dilema ini juga harus menjadi analisis pihak Kemdikbud untuk mengklasifikasikan kompetensi guru yang sebenarnya. Saya yakin seyakin-yakinnya bahwa haisl UKG di atas bukanlah gambaran kompetensi Indonesia yang sebenarnya. Guru-guru Indonesia masih banyak yang berkompetensi luar biasa, yang tidak terjangkau oleh instrumen UKG. Maaf, ini bukan pembelaan terhadap guru!

Di sisi lain, guru sebagai pendidik juga dituntut memiliki kesadaran penuh. Kesadaran penuh ini tentu saja berkaitan dengan hasil UKG. UKG bukanlah hantu yang perlu ditakuti, tetapi sebagai cabaran untuk memecut kompetensi diri sebagai pembentuk karakter anak bangsa. Pelaksanaan UKG ini, paling tidak, akan mencerminkan kemampuan teoretis jika formulasi soalnya profesional. Karena itu, tantangan UKG ini seyogyanya disambut dengan menyenangkan. Ini merupakan bekal khusus sehingga akan memunculkan kesadaran diri tentang kompetensi yang kita miliki dari salah satu aspek.

Oleh sebab itu, ada beberapa hal yang semestinya dilakukan oleh guru dalam menghadapi UKG. Pertama, cari dan unduh kisi-kisi soal UKG di internet. Kedua, pelajari setiap kisi-kisi dan carilah relevansinya dengan materi-materi dari berbagai sumber belajar. Ketiga, cari, unduh, dan pelajari pula soal-soal UKG di internet sebagai bahan awal pengetahuan. Keempat, rekayasa prediksi soal UKG melalui kisi-kisinya. Semoga kompetensi guru Indonesia melalui UKG nanti benar-benar akurat sehingga tidak dihujat.***

*) Penulis adalah pendidik di SMAN 3 Bengkalis dan pengajar di STAIN Bengkalis.

Tinggalkan komentar

Filed under Tak Berkategori

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s