Marhalim Zaini


Pelangi Imaji(nasi)  Marhalim Zaini: Sastra Kontekstual?

Oleh Musa Ismail *)

Awalnya, saya mengenal Marhalim Zaini (MZ) melalui Segantang Bintang, Sepasang Bulan (SBSB) dan puisi-puisinya di Harian Riau Pos. Lalu, entah tahun bila (saya lupa), baru kenal MZ secara langsung. Ketika itu, penyair yang cerdas bahasanya (aspek linguistik dalam karya-karya kreatifnya) ini—menurut saya—mudik ke Bengkalis, ibukota kabupaten tempat kelahirannya dengan membawa sekebat brosur promosi tentang AKMR (Akademi Kesenian Melayu Riau) untuk SMAN 3 Bengkalis, tempat saya menghidupkan tungku dapur. Sejak itu, kesan saya bahwa MZ adalah penyair sederhana, apa adanya, menjunjung prinsip hidup, dan tentu saja orang yang tunak di dunianya.

Di dunia sastra, mungkin tak ada yang meragukan kemampuan dan keterlibatan MZ. Dari naskah drama, cerpen, novel, esai, apalagi puisi, terus saja mengalir bagai embun. Karya-karya kreatifnya, terutama puisi, terus saja  berdengung bagai lebah yang terbang. Kata MZ dalam SBSB, ’’Terlebih dari itu, puisi kemudian hadir menjadi sebuah dunia yang di dalamnya menyimpan kemungkinan-kemungkinan ruang estetis yang tak terhitung jumlahnya. Saya membayangkan, ia menyerupai sarang lebah dengan ribuan lubang yang menyumpan madu. Sementara dengungan sayap lebah-lebah yang beterbangan di luarnya adalah langgam yang akan didendangkan oleh bahasa puisi yang telah jadi. Apakah sejumlah puisi saya dalam buku ini telah terdapat ribuan lubang yang menyimpan madu, atau hanya menjadi ampas kata-kata. Untuk hal ini, saya hanya bisa mengatakan bahwa, paling tidak saya telah berniat dan berbuat (2004: i).

***

Dalam tulisan ini, saya bukan bermaksud memperbincangkan sikap berontak/perlawanan seorang MZ. Idealisme yang sudah mengental dalam jiwa penyair ini secara tidak langsung telah membentuk prinsip kehidupannya di gelanggang sastra. Bagi saya, selain visualisasi waktu yang begitu teserlah dalam karya-karyanya (terlebih puisi-puisinya), adalah pelangi imajinasi. Pelangi imajinasi dalam karya-karya MZ terkesan begitu menggoda, penuh warna, memancing interpretasi, dan memerlukan perenungan yang memadai dalam hal memahaminya. Sudah tentu, sastrawan seperti MZ tidak akan melahirkan karya-karya kreatifnya dari keadaan sia-sia atau dari kehampaan. Seperti apa yang dikatakan Agus R. Sarjono bahwa sastrawan tidak menulis dari ruang kosong dan hampa sejarah dan lingkungan.

Bahasa-bahasa MZ adalah pilihan kata yang benar-benar mantap. Dalam karya sastra, bahasa ibarat tulang penyangga keberadaan karya sastra. Rene Wellek dan Austin Warren menjelaskan bahwa bahasa adalah bahan mentah sastrawan. Sementara itu, Sudiro Satoto mengatakan bahwa hubungan bahasa dengan sastra sebagai lingkaran bahasa yang diterobos oleh lingkaran sastra di berbagai wilayah bahasa. Dari penjelasan tersebut sangat jelas bahwa bagi sastra, bahasa  seumpama pelangi warna-warni bagi suatu lukisan. Berkaitan dengan fungsinya inilah, akan menciptakan pelangi-pelangi imajinasi yang bertenaga dan penuh pesona.

Salah satu kecerdasan adalah kecerdasan kreatif. Jenis kecerdasan ini terlahir dari jaringan imajinasi. Jika kita kaji-kaji, sebenarnya imajinasi lebih tua daripada fakta. Sebelum diciptakan kapal terbang, sudah pasti kita berimajinasi terlebih dahulu. Bagi saya, imajinasi merupakan daya impian dahsyat yang mampu memberikan berbagai gambaran kenyataan. Bahasa yang digunakan sastrawan akan mampu mewujudkan pelangi imajinasi tentang berbagai persoalan kehidupan, baik sejarah maupun lingkungannya.

Puisi-puisi, novel, dan cerpen MZ tidak hanya sekedar reproduksi kejiwaan. Tetapi, juga menggambarkan kenangan masa silam dalam gambaran panca indra. Bahasa-bahasanya bukan visual semata, tetapi menghadirkan persepsi yang jauh melebihi sekedar gambaran visual. Imajinasi yang dihadirkan MZ dalam karya-karyanya juga berfungsi sebagai pendeskripsian pemikiran-pemikiran dengan pilihan kata yang melahirkan kekokohan bahasanya.

Pelangi imajinasi yang teranyam sangat halus oleh MZ dalam karya-karyanya. Bahasa-bahasanya, menurut saya, adalah bahasa-bahasa pemberontakan atau perlawanan yang dijalin menjadi begitu lembut, halus, dan sangat santun. Sebagai praduga, mungkin waktu dan ruang telah menempa kepribadiannya selama di Yogyakarta, suatu kota yang mengagungkan kehalusan berbahasa jika dibandingkan dengan kawasan Sumatera. Bahasa seperti itu jelas tampak dalam Segantang Bintang, Sepasang Bulan (SBSB, kumpulan puisi), Langgam Negeri Puisi (LNP, kumpulan puisi), Amuk Tun Teja (kumpulan cerpen), dan Getak Bunga Rimba (novel). Mari kita simak satu puisi dalam SBSB yang berjudul Gumam Teluk Mambang (1).

Aku menziarahi telukmu, dua puluh enam tahun,

sejak pohon karet usiamu belum seliar hutan, dan

dataran gambut belum bertebing laut.

Merumuskan ingatan, serupa menghitung titik-titik

cahaya siang yang mengintip dari lubang-lubang

hujan di atap rumbia, begitu tajam menikam meranti,

lantai senja yang berdaki.

Tapi harus kukaji, mambang hitam penunggu

batang mempelam yang setia mencatat kecemasan

anak-anak ketam dalam lubang malam. Sebab

demikianlah aku, dua puluh enam tahun, menyimpan

ketakutan atas telukmu yang kian waktu kian rumpang.

Begitu jelas pelangi imajinasi dan gambaran waktu. Bukan sekedar imajinasi indrawi yang dilahirkan, tetapi juga imajinasi kinestetik. Puisi di atas juga melakarkan tentang imajinasi kedesaan dan kehidupannya. Di bagian lain, dalam SBSB, MZ melahirkan imajinasi kekotaan dan kehidupan modern (seperti dalam puisi Magelang-Jakarta dan Membaca Jakarta). Dengan demikian, akan melahirkan pula sesuatu yang ironis antara kehidupan suatu desa dan kehidupan modern: suatu pertentangan tradisional dengan modernisasi.  Pelangi-pelangi imajinasi semacam ini  akan menghadirkan apa yang dikatakan Wellek dan Warren bah  imaji diformulasikan sebagai reproduksi mental, suatu ingatan masa lalu yang inderawi, dan berdasarkan persepsi, tidak selalu bersifat visual.

Seperti apa yang dikatakan Wellek dan Warren tentang suatu ingatan masa lalu, karya-karya MZ cukup memberikan fokus tentang kehidupan masa lalu. Namun, ingatan masa lalu sebagai suatu imajinasi itu dikemasnya dalam lingkup yang lebih modern. Kesan tentang imajinasi ini dapat kita tangkap dalam Amuk Tun Teja. Ingatan-ingatan masa lalu dalam kumpulan cerpen ini lebih banyak mengisahkan tentang konflik kejiwaan dan bayangan kelam. Bahkan, Maman S. Mahayana dalam prolognya menegaskan bahwa Amuk Tun Teja mengisahkan tentang dunia suram, tentu saja dalam anyaman pelangi imajinasi MZ. Di samping itu, dalam cerpen yang berjudul Amuk Tun Teja, MZ memperlihatkan keberpihakannya kepada perempuan. Seakan-akan dalam cerpen itu, MZ mengajak kaum perempuan melakukan suatu perlawanan terhadap ketidakadilan yang menimpanya. Dalam cerpen-cerpennya ini, MZ begitu bersahaja menghadirkan legenda Melayu seperti Hang Tuah dan Hang Jebat dalam kehidupan modern. Tanpa sadar, MZ dalam hal ini, serupa juga dengan Taufik Ikram Jamil dalam Sandiwara Hang Tuah dan Membaca Hang Jebat.

Kekuatan-kekuatan karya sastra yang dilahirkan MZ, menurut hemat saya, terletak pada kemampuannya mengolah pilihan kata sehingga menjadi bahasa estetik. Lebih khas lagi, pilihan kata yang dijalin MZ  adalah diksi-diksi yang berasal dari lingkungan kehidupannya. Kalau kita kembali ke asal kampung halamannya, maka kita terasa begitu akrab dengan laut, pantai, bakau, siput, teluk, pasir, cangkul, gambut, dan semacamnya. Kata-kata seperti itu memberikan gambaran kuat terhadap warna-warni imajinasi dalam karyanya.

Baik puisi, cerpen, maupun novelnya, MZ memperlihatkan suatu bentangan pemikiran yang sangat realistik tentang lingkungan dan sejarah Riau. Kehidupan dan pernik-perniknya begitu nyata sebagai suatu lukisan yang bermain-main dalam setiap karyanya. Berbagai pola adat, kenangan sejarah, kempisan perut kaum miskin, keterpinggiran/marjinalisasi masyarakat, idealisme, harapan dan sikap tentang suatu kebudayaan (seperti pembelaan lagu-lagu dalam novel Getah Bunga Rimba). Karya-karyanya begitu kental dengan nuansa Melayu. Kejeniusan lokal yang dijalin oleh pemikirannya membentuk hamparan kisah dan kesan yang kadang-kadang memilukan, bahagia, tragis, dan mengajuk jiwa.

Bahasa-bahasa yang dipakai MZ sebagai medium utama sastra terkesan begitu maksimal menjalankan fungsinya. Jalinan-jalinan kata yang membentuk frase, klausa, dan kalimat seolah-olah bebas mengepakkan sayapnya  mengalir ke muara sungai dari pemikiran-pemikiran MZ. Membaca karya-karyanya, seakan-akan kita mencium, melihat, mendengar, merasakan, meraba, dan mengecap sesuatu yang terletak di hati dan perasaan orang-orang Riau. Kita juga bisa merasakan gerak, getar, perbuatan, denyut adat/budaya, dan juga perihnya luka yang ditanggung masyarakat negeri ini.

Pada umumnya, MZ bergerak dari kampung. Melalui karya-karyanya, MZ mengusung lingkungan kampung sekuat tenaga sehingga memberikan arti mendalam di tengah-tengah kehidupan yang serba modern. Karya-karyanya terasa begitu dekat dengan kehidupan masyarakat luas di tanah air, terutama Riau, termasuklah tentang kemarahan, keterasingan, dan darah yang selalu mengalir dalam pipa-pipa minyak di negeri ini. Dalam karya-karyanya, MZ berkabar tentang apa saja yang berkaitan dengan lingkungan dan sejarah Riau. Dia berkabar tentang laut, kebun, ladang minyak, keserakahan, derita kuli, dan sebagainya. MZ terasa begitu dekat dengan masyarakat kelas bawah, rakyat jelata yang hidup susah. Reproduksi kejiwaan karya-karyanya begitu objektif mengenai gambaran masyarakat Riau. Kesan-kesan seperti ini mengingatkan saya pada satu kata, yaitu kontekstual. Saya bersimpulan, MZ telah melahirkan karya sastra kontekstual Riau saat ini. Penyair yang membanggakan saya (mungkin agak subjektif) ini mengemas, mengeram, dan melahirkan pelangi imajinasinya dalam kandungan kontekstual lingkungan dan kesejarahan Riau.***

 

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s