Sumpah


Sumpah Oktober
Cerpen Musa Ismail

SABTU. Hari belum begitu tinggi dan sedikit sepi. Lapangan Banteng berkecamuk dalam bisu. Resa merah bagai darah dan putih bagai belulang beraduk dalam nusantara semangat yang menggebu. Di Gedung Khatolieke Jongenlingen Bond (KJB), Waterlooplein itu, telah terpahat semangat membaja dari para pemuda seperti kita: AKU, KAMU, dan MEREKA. Kita menyatu dalam darah dan belulang pada hari itu. Merona.
“Kau pasti ingat Yamin, juga Sugondo,” aku menyela ketika Jabar masih terbayang Indonesia Raya yang menghilang beberapa waktu lalu. Dia juga terbayang paskibra yang menggotong mayat dan menggantungnya di ujung tiang bendera beberapa tahun silam.
“Pemuda cemerlang itu? Mana mungkin aku melupakan mereka,” sambung Jabar, politisi besar negeri ini. “Perhimpunan yang diketuai Sugondo telah memprakarsai pertemuan dahsyat di gedung KJB. Sekebat semangat persatuan, terlahir di bangunan tua itu. Aku tak akan pernah melupakan mereka. Justru aku semakin merindukan persatuan,” ungkapnya dengan keyakinan.
“Ya, kau benar. Persatuan di tanah air ini perlu ditata oleh pemuda seperti mereka. Kau ingat kata Yamin tentang persatuan? Hanya ada lima faktor yang bisa memperkuat persatuan Indonesia: sejarah, bahasa, hukum adat, pendidikan, dan kemauan. Tetapi, aku takut ini semakin kusam.” Semoga ketakutanku itu cuma kekhawatiran kosong. Aku tahu benar bahwa Indonesia merupakan negara dan bangsa besar. Aku dan bangsa besar ini sadar sekali kalau persatuan itu bagai kebatan lidi yang siap membersihkan sampah yang mengotori kehidupan di tanah air.
“Tapi, jangan lupa pada Sie Kong Liong walaupun kita kehilangan jejaknya,” Jabar mengingatkanku tentang pemuda Tionghoa itu.
“Pemilik gedung tempat berlangsungnya kongres kedua itu? Ya, aku sungguh bangga dengan sikap kebangsaannya. Dengan mengizinkan peserta kongres menggunakan gedungnya itu, berarti dia begitu peduli terhadap masa depan bangsa ini.”
Beberapa pohon hias, tertata indah di perkarangan gedung mirip rumah itu. Para pemuda peserta kongres di rumah tua sederhana itu bagai warna-warni dan beragam jenis tanaman yang subur indah di perkarangan. Berbeda dengan museum lain, masyarakat tidak banyak mengetahui informasi tentang museum ini. Gedung tua di sisi Barat Jalan Kramat Raya, ibukota itu tampak biasa saja. Halamannya tidak terlalu luas. Hanya bisa menampung beberapa mobil. Gedung itu tidak semegah beberapa gedung di sekitarnya. Karena itu, mata lebih senang menikmati gedung disekitarnya.
Mungkin beribu mata tak tahu. Ibarat hujan, hanya karena kemarau sehari, tersapu kering semuanya. Ribuan mata itu mungkin juga tak mau tahu kalau di gedung tua itulah telah lahir sumpah, juga puisi yang luar biasa. Berjuta laksa semangat pemuda Indonesia tumbuh berseri di rumah dan taman itu. Di sinilah, terlahir jati diri bangsa besar.
“Tetapi, aku gamang, Jabar, gamang sekali. Jati diri kita ini perlahan-lahan kian digerogoti oleh karat teknologi,” sambil memandang lalu lalang di beberapa sisi jalan. Para pelajar berseragam bergegas pulang dari sekolah sambil memencet tombol telepon genggam. Sebagiannya, singgah di beberapa warnet. Di sini, ada yang mencari tugas sekolah, ada juga sekedar main berbagai permainan sambil mengisap racun yang ada dalam rokok. Padahal mereka tahu, rokok itu sangat berbahaya.
“Ya. Aku terkadang gamang juga. Kamu benar. Aku heran mengapa masih ada yang tidak mau belajar dari sumpah bulan ini. Akankah kita buta sejarah?” Mata Jabar agak membelalak memandang wajahku. Aku hanya mencibir sambil mengangkat kedua bahu.
Rumah itu pernah menjadi hotel, toko bunga, hingga kantor inspektorat bea dan cukai. Baru pada 1973, ketika usiaku baru 2 tahun, rumah atau gedung itu dijadikan museum. Bangunan itu juga sebelumnya dijadikan sebagai pemondokan para pemuda yang tengah menuntut ilmu di sekitar Salemba. Saat itu, pemilik kos biasa disebut kosthuis, sedangkan anak kos laki-laki disebut kostjongen dan perempuannya kostmeisjes. Sayang, Sie Kong Liong, aku dan Jabar pun kurang tahu.
“Yamin menulis pada secarik kertas putih. Sumpah! Yamin menulis sumpah pada Minggu itu. Dengan cekatan, tangannya bagaikan penari yang meliuk-liuk di atas panggung menyuguhkan pesona,” aku bagaikan pemuda yang ikut dalam pertemuan bersejarah ketika itu.
Minggu. Cerah tidak begitu gerah. Angin tipis berhembus dari kisi-kisi jendela. Semangat intelektual menggema di gedung Oost-Java Bioscoop. Mereka membahas masalah pendidikan. Tidak seperti janji-janji politik. Para pemuda intelektual itu merumuskan konsep untuk generasi masa depan.
“Anak harus mendapat pendidikan kebangsaan. Harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis,” begitu pendapat Woelan dan Sarmidi. Para peserta pertemuan di gedung itu setuju.
Rapat penutup dilaksanakan di gedung Indonesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106. Sekali lagi gelora intelektual dan persatuan menggebu-gebu di garis cakrawala bangunan itu. Di langit, terlukis gambaran Indonesia masa depan, tanah air yang bersatu padu membangun kemajuan.
“Nasionalisme dan demokrasi itu penting selain gerakan kepanduan,” Sunario meyakinkan penuh semangat. “Gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gerakan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, yaitu hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan,” sambung Ramelan menguatkan.
Instrumen biola lagu Indonesia Raya karya Wage Rudolf Supratman bergema sebelum pertemuan bersurai. Nasionalisme, patriotisme, perjuangan bagai dedaunan kelapa yang meliuk-liuk mengikuti semangat lagu. Meriah! Megah!
“Sebenarnya, di gedung itu Indonesia Raya dimulai. Kita sudah menemukannya, Saudaraku! Kita sudah menemukan benda berharga yang selama ini kita cari. Mereka, para pemuda itu, yang memegangnya. Indonesia Raya ada di tangan mereka, tertuang dalam sumpah mereka,” semangat Jabar ibarat gelombang pasang yang menggema di tengah samudera. “Kita harus melangkah kembali dari sumpah itu,” ketusnya sambil mengacungkan tangan sendirian pada malam hening di beranda rumahnya. “Aku harus mengangkat ini di depan rakyat.”
Tak berapa lama setelah menemukan jawaban, Jabar meneleponku. Suami Lastri itu begitu bersemangat. Dia tampak amat senang telah menemukan Indonesia Raya dalam sumpah itu. Senyum merona menghiasi mukanya yang penuh wibawa. Ya, sejak menjadi politisi, Jabar sangat berwibawa. Aku tentu saja terbawa arus gembira Jabar, eh, tidak. Tentu saja aku terbawa arus gembira karena Indonesia Raya telah ditemukan dalam sumpah. Sekali lagi, aku sungguh gembira.
***
Seperti biasa, penghujung tahun selalu mengundang hujan. Namun, Oktober tahun ini, negeriku tidak terlalu diguyur hujan. Bukan berarti terjadi pergeseran musim. Menurut perkiraan cuaca BMG, tiga bulan terakhir ini akan terjadi curah hujan yang cukup deras. Kekhawatiran terjadi banjir tentu saja menusuk-nusuk pikiran rakyat.
“Ah, semua itu sudah ketentuan Allah,” aku coba menepis kekhawatiran. “Bukan, itu akan terjadi karena ulah kita sendiri,” aku berpikir sendiri. Tiba-tiba saja, Jabar sudah berada di sampingku.
“Ini sejarah, Kawan. Sejarah ini bukan tak mungkin berulang. Sumpah yang telah diucapkan itu akan menjadi bencana jika kita melanggarnya. Kekuatan sumpah itu semestinya sudah menjadi darah, daging, dan tulang tubuh bangsa ini,” Jabar memuntahkan pikirannya.
Aku diam seketika.
“Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan?” Aku menyambung tiba-tiba.
“Aku ingin menegaskan bahwa sumpah itu sangat penting.”
“Aku setuju. Tapi, kau juga tahu. Di luar sana, di pasar, di kantor, bahkan di sekolah, nyaris semuanya melupakan sumpah bersejarah itu. Semuanya disibukkan dengan urusan perut.”
“Karena itu, Kawan, karena itu kita harus mengalirkan arus kesadaran. Kita harus membangun kembali negeri ini dengan sumpah itu. Jiwa Yamin dan kawan-kawan harus hidup kembali jika ingin negeri ini menjadi lebih terhormat dan besar.”
Barisan upacara pada 28 Oktober tahun ini diwarnai berita-berita korupsi. Kasus Hambalang, MK, pembunuhan Holly, dan Bunda Putri melompat-lompat di antara barisan upacara. Hanya aku dan Jabar yang sibuk dengan sumpah. Tapi tentu mereka tahu bahwa kasus-kasus itu menjerat karena mereka telah melanggar sumpah, makan sumpah. Barisan upacara terus saja bersuara. Mereka bicara apa saja.
Langit mendung bagai gadis manja sedang meringis. Suara-suara terus saja memecah sunyi di setiap barisan. Aku hanya merutuk dalam hati mempertanyakan mereka: Mengapa dalam setiap upacara peserta tidak peduli dengan kebermaknaan?
Dalam bisik-bisik di tengah barisan, tiba-tiba saja terjadi keributan di tribun. Seseorang merampas teks Sumpah Pemuda dari tangan pembina upacara. Kejar-kejaran pun tak terelakkan. Hampir semuanya mengepung perampas itu. Teks tersebut tak bisa dibacakan oleh pembina karena tidak hafal. Teks itu telah ditelan Jabar.
“Dasar pecundang. Rupanya, di barisan upacara ini pun, sumpah kita telah hilang. Makan sumpah!” Aku marah.***

*) Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis, lahir 14 maret 1971 di Karimun, Kepri. Menulis cerpen, puisi, novel, dan esai. Karyanya antara lain novel Tangisan Pudu (Gurindam Press, 2008), Lautan Rindu (Mujahid Press, 2010), kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut (Seligi Press, 2009), dan Hikayat Kampung Asap (Seligi Press, 2010).

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s