Kisah Tujuh


Hati Murni

SELAMA bekerja di perkebunan karet Tuan Liem, Halimah dan Supartini selalu merayu Murni agar mau mendekati majikannya. Namun, Murni memang murni ketika itu. Semua rayuan, hasutan, iming-iming, dan angin syurga tidak pernah dipedulikannya. Berita terakhir yang didengar Murni bahwa Halimah dan Supartini justru yang kini menderita panjang. Kematian Tuan Liem ternyata telah menyapu semua kemegahan, kemewahan, dan perlindungan yang mereka rasakan. Begitulah jika tuhan sudah berkehendak. Semuanya bisa diambil bila saja Dia menginginkan.

Halimah dan Supartini telah menerima pembalasan dari tuhan. Dia tak mampu mengubah nasibnya sendiri secara baik-baik. Jalan sesat yang mereka tempuh berdua selama bekerja di ladang karet Tuan Liem menjadikan kehidupan mereka kian melarat. Jalan gelap yang mereka tempuh selama ini ternyata tidak berujung cahaya. Gelap semata-mata.  Anak Tuan Liem yang bernama Tuan Ah San telah membuang mereka dari pekerjaan sebagai penyadap karet. Tuan Ah San benar-benar marah. Kematian  ayahnya disebabkan kedua kembang itu. Halimah dan Supartini telah membubuhkan racun di dalam minuman Tuan Liem sebab ingin meraup semua harta. Ini semua karena tamak yang bersarang dan berkarat di hati mereka.

Tuan Ah San juga tahu bahwa kedua perempuan jahanam itu menjadi pasangan gelap ayahnya ketika masih hidup. Ah San waktu itu tidak bisa berbuat banyak untuk melarang ayahnya. Setiap nasihat yang keluar dari mulut Ah San tentang kejahatan kedua perempuan itu, selalu saja ditolak mentah-mentah. Kemenangan dan kebenaran selalu saja menyebelahi Halimah dan Supartini ketika sampailah pada batas akhir kehidupan ayahnya. Kini, Halimah dan Supartini mendekam di penjara. Isu terakhir yang berkembang di tengah-tengah masyarakat bahwa Halimah dan Supartini dipenjara bukan hanya gara-gara meracuni majikannya. Mereka berdua ternyata terlalu jauh berbelok ke kiri. Kedua betina miang[183]  itu juga terlibat sebagai pengedar narkoba. Keduanya tertangkap tangan pihak berwajib menyamar menjadi konsumen. Penangkapan perempuan itu tentu menghebohkan kampung kecil itu. Masyarakat baru menyadari bahwa narkoba bukan hanya mengganyang orang-orang kota, tetapi juga bias mencucuk hingga ke jantung desa.

Dari balik jeruji  jil[184], air mata menetes ke lantai. Wajah keduanya tampak penuh kekesalan. Tapi apa mau dikata, menyesal kemudian tiada berguna. Tak ada seorang pun warga kampung menjenguk perempuan itu di penjara. Di mata masyarakat, Halimah dan Supartini sungguh hina. Sebenarnya, orang-orang penjara atau narapidana seperti mereka bisa menjadikan penjara sebagai bejana[185] untuk perenungan kembali ke jalan lurus. Banyak di antara mereka justru menjadi alim setelah menghirup udara segar. Namun, tidak sedikit pula yang kembali terperosok pada jalan yang sama. Sunguh celaka!

’’Kamu begitu tulus, Mur. Tidak seorang pun warga yang sanggup menjenguk kami, kecuali dirimu. Padahal, kami pernah berniat mencelakakanmu, menjadikanmu sebagai gundik Tuan Liem di ladang getah beberapa waktu lalu,’’ suara penuh iba itu melompat dari mulut Supartini. Ada air bening tumpah dari pelupuk matanya yang mulai kuyu[186].

’’Ya. Betul, Mur. Tetapi, keikhlasan dan ketulusan yang ada pada dirimu telah menangkis semua niat buruk kami. Meskipun kesadaran selalu datangnya terlambat, tetapi kekesalan kami terlebih dahulu telah menukik jantung, menyesakkan dada. Sepertinya, kami, khususnya aku tak sanggup lagi rasanya untuk meneruskan hidup,’’ suara Halimah tampak berat dan sarat dengan keputusasaan dan kekesalan yang tak bertepi. Ada sebongkah siksa bersembunyi di sudut naluri kemanusiaannya. Bongkahan siksa itu  terus saja mendorong, menyesak, dan memaksa hati kecilnya untuk berontak dengan kebejatan yang telah lama bersarang.

’’Kakak berdua jangan berkata begitu. Yang lalu, biarkan saja ditelan waktu. Hari ini lebih baik kita jadikan waktu-waktu terbaik untuk berbuat sesuatu yang patut. Mur tidak pernah menyimpan kenangan pahit itu. Tak berguna. Justru mengambil yang jernih lebih membuat kita bijaksana daripada hanya mencungkil dan mengenang kepahitan.’’

Halimah dan Supartini diam laksana disengat listrik. Mungkin mereka merenungi apa yang dikatakan Murni tadi. Buktinya, ada anggukan kecil bereaksi di kepala mereka. Jeruji-jeruji sel yang berdiri kokoh dengan jarak hanya sejengkal itulah tempat Halimah dan Supartini menyandarkan kepala mereka sambil berbual manis dengan Murni. Mereka masih bisu, tak tahu mau berkata apa lagi.

’’Mengapa kakak berdua hanya diam. Apakah kehadiran saya di sini cukup mengganggu? Kalau mengganggu, biarlah saya pergi,’’ perasaan Murni agak peka juga ketika itu. Dia merasakan bahwa dirinya tidak diperlukan.

’’Jangan! Jangan pergi! Kami tidak merasa terganggu. Justru kedatangan Mur ke sini sangat menggembirakan hati kami. Kami merasa masih punya keluarga yang punya kasih dan sayang. Kami diam karena merasa malu pada diri sendiri,’’ Supartini mengakui.

’’Kakak merasa sangat senang hari ini karena kamu datang,’’ timpal Halimah dengan lembut.

Keharuan, kasih sayang, kedekatan, persahabatan, dan keakraban menjelma di tengah-tengah penjara. Tiga perempuan itu berangkulan dari balik jeruji-jeruji besi.

’’Non, waktu jenguk sudah habis. Dipersilakan meninggalkan tempat ini,’’ seorang petugas kepolisian menyapa Murni dengan amat ramah. Sejuk rasa hati mendengar suaranya. Jarang sekali mendengarkan suara lembut seperti itu di penjara. Ketika itu, memang sulit sekali! Kelembutan terlalu jauh pergi meninggalkan kita. Nyaris tak mengenal mereka yang bertugas di sana. Akhir-akhir ini, sejak tumbuhnya kesadaran akan pembaruan dan modern, kelembutan itu datang lagi, menyapa lagi, dan bertingkah laku seperti semulajadi.

***

PAGI-PAGI sekali, Long Husin memarahi Wahyuni. Kemarahan lelaki separuh baya itu bagaikan petir menyambar, meledak-ledak. Emosinya betul-betul telah memuncak. Agaknya, ada rasa malu yang tak tertahankan.  Dara itu dimaki habis-habisan. Sumpah-serapah semuanya  berhamburan keluar bersama rembesan air liur Long Husin. Orang tua itu marah sekali. Wajahnya merah. Tak pernah seumur hidupnya memarahi orang lain seperti itu. Kemarahan Long Husin karena berpunca dari ketidaksenonohan sikap Wahyuni yang menggoda Ryand dengan berbagai cara. Apa yang dilakukan Wahyuni terhadap majikannya, semuanya dilaporkan Ryand kepada Long Husin. Hal yang paling membuat Long Husin hilang kesabaran adalah perbuatan yang merendahkan marwah diri sendiri. Rupanya Long Husin sudah tahu bahwa Wahyuni mencoba menjebak Ryand dengan cara bugil di depan bule itu. Tentu saja dengan harapan Ryand mau menggauli tubuhnya dengan penuh birahi. Rupanya, mimpi-mimpi indah Wahyuni berubah menjadi kenyataan pahit hari itu.

’’Kau memang dara tak tahu malu. Merendahkan marwah diri dan juga tradisi sendiri kepada orang luar. Menjualkan harga diri sama halnya dengan berdagang marwah bangsa sendiri. Lihat para pelacur di sana itu. Apapun alasan yang mereka kemukakan, tetap saja mereka menginjak marwah diri sendiri.’’

Wahyuni tak berbunyi. Bergerak pun tidak. Tubuhnya agak lesu. Dia dikeluarkan dari pekerjaannya.

Kejadiannya berawal pada malam sepi itu. Entah bagaimana caranya, Wahyuni menyelinap masuk ke kamar Ryand ketika pemuda bule itu keluar sebentar makan angin. Ketika Ryand kembali dan membuka daun pintu kamar, dia terkejut bukan main. Wahyuni sudah pasrah tanpa sehelai benang pun di atas katel[187]Ryand.

’’Sudah lama aku menantikan saat seperti ini. Ayolah tuan! Kemarilah! Yuni akan menjadikan malam ini sebagai malam terindah buat kita.’’

Ryand hanya diam. Pandangannya terhadap Wahyuni penuh dengan api kebencian, jijik, dan sinis.

’’Ayo, kenakan pakaianmu. Memalukan sekali! Dasar betina tak tahu malu! Ayo, pakaikan pakaian ke tubuhmu atau kamu mau kalau aku menghebohkan kelakuanmu?’’ Bahasa Melayu Ryand sudah lumayan juga semenjak dia berkawan karib dengan Murni.

’’Dasar banci. Pengecut! Percuma saja aku mencintai dirimu. Jantan sialan! Tak tahu diuntung,’’ Wahyuni gantian memaki Ryand. Sebenarnya, kata-kata makian yang keluar dari mulut Wahyuni itu tidak lebih dari taming untuk menghilangkan rasa malu di depan Ryand.

’’Kamu tidak pantas mendapatkan cinta dariku. Mana mungkin ada lelaki yang mau dengan kebusukan hatimu. Bersihkan dulu hatimu itu maka akan datang cahaya pada dirimu,’’ Ryand menasihati Wahyuni. Wahyuni tertunduk. Mungkin malu menggunung di perasaannya ketika itu.

 

PAGI itu, Wahyuni mati kutu. Dia tertindas habis. Di depan Long Husin, dara itu tak mampu lagi untuk membela diri. Sikap tidak senonoh telah menjatuhkannya ke derajat terendah. Harga dirinya jatuh tapai. Sudahlah begitu, Wahyuni diberhentikan pula dari pekerjaannya sebagai room girl.

’’Perbuatanmu tak bisa dimaafkan. Mulai hari ini, kemas semua barang-barangmu dan angkat kaki dari sini,’’ Long Husin melepaskan begah[188] .

’’Tapi, Long…,’’ Wahyuni mencoba membela diri.

’’Tak ada tapi-tapi. Long tak mau lagi melihat mukamu yang jalang itu.’’

’’Maafkan Yuni, Long. Tolong jangan berhentikan Yuni dari pekerjaan ini. Hanya inilah satu-satunya pekerjaan yang dapat membantu ibu.’’

’’Jangan kau membabitkan ibumu di sini. Keputusan Long sudah muktamat.’’ Lalu, Long Husin meninggalkan Wahyuni sendirian di situ. Air mata terus merembes pipi dara bernasib sial itu. Kesialan yang dialami bukan karena orang lain, tetapi sebab diri sendiri. Diri sendirilah yang menyebabkan kita menjadi buntung atau untung. Bukankah tuhan ada mengatakan bahwa nasib kita berada di tangan kita sendiri.

Long Husin yang sedang duduk di ruang tamu rumahnya merenung jauh. Orang tua itu tampaknya sedang melepaskan segala kelelahan dan kemarahan hari ini. Hatinya penuh kecamuk, tapi bukan karena kesal telah memecat Wahyuni. Lalu, Kamil masuk setelah mengucapkan salam.

’’Siang, Long!’’ Kamil menyapa lembut dan sopan.

’’Siang juga, Mil.’’

’’Long kelihatan lelah. Apa ada masalah?’’ Kamil basa-basi. Sebenarnya, pemuda yang menaruh hati  pada Murni itu telah tahu duduk persoalannya.

’’Tidak. Masalahnya sudah selesai.’’

’’Persoalan apa, Long?’’ Kamil basa-basi lagi.

’’Wahyuni.’’

’’Mengapa dengan Wahyuni?’’ Kamil masih basa-basi.

’’Long memecatnya.’’

’’Mengapa?’’

’’Soal marwah. Wahyuni telah menjatuhkan marwahnya sendiri, juga marwah kampung ini kepada orang luar.’’

’’?’’

’’Kau mungkin tahu soal perangai Wahyuni. Ketika Murni masih bekerja di sini, lidah apinya menjulat-julat memfitnah keponakan Long itu. Berbagai hal di jadikannya cerita yang memojokkan Murni. Kau tahu itu ’kan? Tetapi, itu masih bisa Long maafkan. Masih bisa Long korbankan Murni dari pekerjaanya. Sekarang, dia coba menjual marwah kepada Ryand. Atas nama cinta, Yuni sanggup pasrah bugil di ranjang bule itu. Long tidak bisa membayangkan apa isi otak perempuan seperti dia itu. Otaknya penuh racun dan tahi agaknya,’’ Long berbicara dengan nada geram.

Kamil tak mengeluarkan komentar apa-apa. Di hatinya, ada malu yang mencucuk[189] rasa. Kini, dia sadar kalau beberapa waktu lalu Yuni telah menghasutnya untuk segera meminang Murni dengan setengah memaksa.

’’Rupa-rupanya, Yuni menginginkan Ryand,’’ pikiran Kamil menyimpulkan. ’’Dasar perempuan badung,’’ imbuhnya pula.

Dari pintu rumah Long Husin, tampak Wahyuni melangkah gontai. Sambil menjinjing tas berisi pakaiannya, gadis itu menunduk lesu. Matanya masih mengalirkan kekesalan yang tak berujung. Long Husin terus saja memandangnya, Kamil juga. Tetapi, keduanya diam seperti patung arca. Tiba-tiba, langkah Wahyuni berhenti. Dengan penuh keraguan, diarahkannya pandangan ke muka pintu rumah Long Husin sehingga tatapannya bertembung dengan orang tua itu. Beberapa saat, tatapannya ditarik kembali dan langsung meneruskan langkah pulang.

Kejadian yang menimpa Halimah, Supartini, dan Wahyuni telah membuat warga kampung menjadi kian dewasa. Mereka semakin sadar bahwa semua perbuatan akan memperoleh imbalan yang sesuai. Benih yang tidak senonoh akan membuahkan hasil yang tidak baik pula. Sebaliknya, menyemai benih kebaikan akan menuai hasil kebaikan.

’’Satu lagi teman kita dipecat,’’ Kamil membawa berita kepada Sumini.

’’Dipecat? Siapa?’’

’’Wahyuni.’’

’’Rasakan. Biar dia tahu apa itu kebusukan,’’ geram Sumini tumpah.

’’Kamu bukannya sedih, malahan senang.’’

’’Tentu saja aku senang. Gara-gara dia ’tu, Murni berhenti kerja.’’

‘’?’’ Kamil tak bersuara. Tangannya garu-garu kepala.

’’Hei, Mil, mengapa diam saja? Seharusnya, kita gembira. Tidak ada Wahyuni berarti bebas gosip, tahu tidak.’’

’’Tapi, tidak boleh begitu. Yuni juga kawan kita.’’

’’Aku tak mau mengakuinya sebagai kawan. Kawan seperti apa kalau menusuk dari belakang.’’

’’Sudahlah. Jangan tambah bebannya dengan maki hamun begini. Mari kita doakan agar dia kembali pada kebenaran.’’

’’Amiiin,’’ jawab Sumini bersahaja.

’’?’’

Lalu, kisah lama membayang di hadapan Sumini. Gadis itu terkenang lagi kisah perseteruannya dengan Wahyuni. Mereka sampai tarik-menarik rambut dalam selisih paham silam. Namun, yang paling menyakitkan hati Sumini adalah soal lidah api Wahyuni yang membakar ketulusan Murni. Karena itu pula, Sumini merasa sangat bersyukur atas nasib sial yang menimpa Wahyuni saat ini meskipun dia sendiri tahu bahwa sikapnya salah menurut tatanan adat resam di kampung mereka.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


[183] Mentel; genit; seksi

[184] penjara

[185] Wadah; tempat

[186] keadaan mata seperti kurang tidur

[187] ranjang

[188] perasaan marah bercampur galau

[189] menikam

Tinggalkan komentar

Filed under Novel "Sumbang"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s