Kisah Tiga: Jujur Tanpa Suara


MENCARI pemuda dan dara tamatan SMP untuk dipekerjakan sebagai room boy dan room girl di kampung bukanlah usaha yang mudah. Tahun 70-an, lulusan SMP sungguh langka di kampung kami. Pikiran kuno orang-orang kampung tentang sekolah masih menjadi penghuni setia di segenap pandangan mereka. Pandangan deskriminatif itu sangat jelas pada perempuan. Anak perempuan untuk apa sekolah tinggi-tinggi, nanti akhirnya ke dapur juga. Begitulah pikiran kuno mereka.  Padahal, jelas-jelas mereka mengerti bahwa pendidikan bisa menciptakan kehidupan lebih baik. Pendidikan juga merupakan kewajiban. Mungkin juga mereka pura-pura tidak mengerti. Paling tidak, mereka dapat belajar dari pengalaman hadirnya perusahaan minyak dan kontraktor-kontraktor yang umumnya berkebangsaan asing itu. Yang jelas, aku merasakan sekali. Untung saja aku sempat menamatkan SMP. Kalau tidak, mana mungkin bisa bekerja sebagai tenaga keamanan di perusahaan bonafit itu.

Namun, yang kulihat, pemikiran penduduk di kampungku ibarat katak di dalam tempurung. Mereka beranggapan bahwa bersekolah hanya untuk memperoleh pekerjaan. Jika tidak, ya, buat apa sekolah. Padahal, menurut keyakinan kami sebagai warga yang menganut Islam di kampung ini, menuntut ilmu merupakan anjuran agama, sangat perlu. Ilmu bagaikan air zamzam bagi makhluk hidup. Tetapi, ya, itu tadi. Mengubah sikap tidak semudah mengubah bentuk.

 Long[66]Husin diminta mencari beberapa pemuda dan dara untuk bekerja sebagai room boy dan room girl di mess kontraktor Petro Sea. Ramai juga yang akan dipekerjakan di sana, sekitar lima belas orang. Mereka ini bertugas membersihkan kamar, mencuci pakaian, mengantarkan makanan dan minuman buat Tuan Ryand dan kawan-kawannya. Dalam pencarian, aku yakin bahwa pikiran Long Husin sama halnya seperti  pikiran orang-orang pada umumnya. Beliau mendahulukan sanak keluarga terdekat. Menurutku, itu wajar saja. Siapa pun yang berkesempatan seperti Long Husin, pasti berpikiran dan berbuat begitu. Membantu sebaiknya dimulai dari orang-orang terdekat, asalkan memenuhi syarat. Long Husin yang terkenal jujur dan terpandang itu tidak mau asal-asalan. Meskipun keluarga dekat, tetapi tidak memenuhi syarat, orang tua itu tidak akan mau menerimanya. Sikap Long Husin ini menjadi teladan bagi setiap orang di perkampungan ini.

Sudah lima hari masa penerimaan itu. Masih kurang satu nama lagi di senarai Long Husin. Sebenarnya, nama itu sudah ada padanya, tapi masih dalam pertimbangan yang dalam. Calon terakhir itu adalah anak Saudara[67]nya sendiri, yaitu anak dari adik bungsunya yang bernama Rukmini. Long Husin nampak ragu dengan keadaan dan kemampuan Murni, anak Rukmini itu. Padahal, secara persyaratan akademis, dara Bu Rukmini ini sudah memenuhi persyaratan. Meskipun beloh, dia tamat SMP.

Dulu, soal sekolahnya sempat dipermasalahkan. Mana mungkin Murni kecil bisa mengikuti pelajaran di sekolah reguler. Menurut ketentuan, dia harus menuntut ilmu di Sekolah Luar Biasa (SLB). Namun, untunglah beberapa guru waktu itu bijak. Dengan pertimbangan di kampung kami tidak punya SLB, maka Murni kecil diterima sekolah layaknya anak-anak normal. Eh, dasar anak cerdas. Dia bisa mengikuti pelajaran orang-orang normal. Bahkan, sempat pula meraih juara kelas. Ini memang keberhasilan yang luar biasa.

Setelah sekian lama menimbang nama itu, akhirnya Long Husin sampai juga pada keputusan menerima Murni. Murni sangat gembira karena bisa bekerja sebagai room girl di mess Petro Sea. Dalam pikirannya, dapat bekerja berarti bisa meringankan beban Emaknya.

‘’Mur. Long percaya kamu sanggup. Kamu akan bergaul dengan orang-orang yang berbangsa lain. Budaya mereka berbeda dengan kita. Karena itu, bekerjalah sungguh-sungguh. Nasihat Long ini tolong ingat baik-baik.’’

Murni mengangguk. Ada kecerahan dan keceriaan di matanya. Paling tidak, nampak dari semangatnya ketika mengangguk itu.

HARI-HARI yang dilalui Murni sekarang sudah berbeda, tapi perbedaan itu tidak terjadi pada sikapnya, prinsipnya. Waktu memang terus berubah. Murni merupakan hasil tempaan yang tidak tanggung. Dara ini tidak dengan mudah terpengaruh, terbujuk, dan tergoda dengan persoalan-persoalan seperti kemajuan. Tapi, bukan berarti dia dara kolot. Segala sesuatu yang berkaitan dengan diri dan keluarga, dia akan membuat pertimbangan untung-rugi dengan bermacam kemungkinan. Seorang yang cermat seperti Murni tentu akan menghasilkan pekerjaan-pekerjaan yang hebat karena dia memang seorang dara yang hebat.

Subuh kelam, dia tidak lagi menyembah batang getah, membungkuk-bungkuk sambil menyodok[68] pisau getah ke tubuh pohon itu. Murni tak perlu lagi bersedih membayangkan penderitaan pepohonan getah ketika disadap oleh ketajaman pisau yang biasa digenggamnya.

‘’Aku pun tidak perlu seperti pohon itu. Setiap hari menderita, setiap hari dilukai. Orang-orang hanya mengambil keuntungan dari penderitaan yang berkepanjangan. Laksana perut bumi kampung kami, setiap hari diledakkan, lalu darahnya disedot oleh ular-ular itu,’’ batinnya tersingkap[69].

Di mess itu, bersama Murni ada empat belas orang lagi; lima jejaka dan sembilan dara.  Mereka bekerja sebagai satu tim yang ditunjukajarkan oleh Long Husin.  Nampaknya, Kamil, teman sekerjanya itu, ada hati dengan Murni. Hanya, hingga sekarang dan entah sampai bila, Kamil masih merahasiakannya. Perasaan Kamil terhadap Murni tersimpan membatu dalam kata-kata, tidak dalam gelagat[70]. Dara secerdas Murni mudah saja menebak isi hati jejaka Kamil. Murni memahami dari setiap gelagat Kamil yang penuh perhatian terhadap dirinya. Namun, Murni tidak begitu menghiraukannya. Gelagat Kamil dibiarkannya seperti angin berlalu tanpa memberikan kesan apa-apa. Dalam nalurinya, menyelesaikan pekerjaan akan lebih baik daripada memikirkan macam-macam. Apalagi memikirkan soal perasaan orang lain, itu ‘kan tidak mudah.

Di bawah tunjuk ajar Long Husin, tiap pagi Murni, Kamil, dan kawan-kawannya melakukan pembersihan habis-habisan di mess kontraktor Petro Sea itu. Masing-masing mereka memegang tugas untuk membereskan satu kamar milik orang-orang asing tersebut. Tanggung jawab ini diserahkan Long Husin bulat-bulat kepada kelima-belas dara dan jejaka kampung. Sebenarnya, pekerjaan mereka tidak terlalu berat. Setelah menyapu, pakaian-pakaian kotor mereka masukkan ke mesin cuci, lalu menjemurnya di penyampai[71]. Kemudian, pakaian-pakaian yang kering mereka angkat dan dirapikan dengan menggunakan strika. Mereka juga mengantarkan sarapan pagi, makan tengah hari, juga makan malam.

Murni mendapat tugas membereskan keperluan Tuan Ryand.

Pernah beberapa kali Murni menjumpai beberapa lembar uang dolar di saku Tuan Ryand ketika mencuci pakaian.

Pagi-pagi, Murni mengetuk pintu kamar Tuan Ryand.

Daun pintu terbuka, Tuan Ryand tercengang ketika Murni menyodorkan lembaran dolar ke arahnya. Mata mereka bertentangan. Tak ada suara, hening. Ryand hanya mengernyitkan kening dan mengangkat bahunya sedikit tanda keheranan. Tangan kanan Murni yang menyodorkan lembaran dolar itu masih tercakang[72]karena uang tersebut masih belum disambar Ryand. Bagaimana dia mau mengambil. Dia belum tahu bahwa itu adalah miliknya.

Kejadian pagi itu merupakan peristiwa pertama kali Murni dengan Ryand bertatap muka. Sebelumnya, mereka hanya tahu nama. Murni hanya tahu bahwa tugasnya sebagai room girl untuk  Ryand.  Ryand begitu pula, hanya tahu bahwa room girl-nya bernama Murni. Biasanya, Murni membereskan kamar Ryand ketika orang putih itu sudah berangkat ke ladang minyak. Begitu pula dengan sarapan dan makan siang-malam Ryand hanya disediakan di meja makan yang terletak di luar kamarnya.

Ryand tampak kikuk[73] melihat tangan Murni masih terus menyodorkan uang dolar kepadanya. Dia tak bisa berbicara karena tak mengerti bahasa Indonesia. Akhirnya, hanya gerakan-gerakan yang berbicara. Ryand tidak menyangka kalau bahasa isyarat yang digunakannya bisa dimengerti dengan lancar oleh Murni. Ryand dan Murni di pagi itu terus berbicara tanpa suara. Mereka berkenalan, berborak[74]ringan, berbincang tentang apa saja dengan isyarat yang penuh makna. Ryand merasakan baru sekali ini dia bisa berbual tanpa hambatan dengan warga tempatan. Mereka bebas bersuara dengan hampa suara.

‘’Ini saya temukan dalam kocek[75] seluar[76] kerja Tuan.’’

‘’Kamu siapa?’’

‘’Murni. Saya bertugas sebagai room girl untuk Tuan.’’

‘’Panggil saya Ryand saja. Wah, kamu jujur sekali.’’

‘’Ini bukan milik saya. Saya tak berhak mengambilnya. Saya harus kembalikan kepada Tuan….’’

‘’Panggil nama saja,’’ Ryand memangkas perkataan Murni.

Mereka terus berbual dengan isyarat penuh makna. Saling mengerti, saling paham. Bertemu pandang. Murni menolak ketika Ryand memberikan uang itu untuknya. Ryand berkeras agar Murni menerima. Sekeras niat Ryand untuk memberi, begitulah kerasnya niat Murni untuk tidak menerima pemberian orang asing itu. Perbualan mereka menjadi rahasia bagi orang-orang awam karena ketidakmengertian. Namun, akibat dari isyarat itu, lahirlah su’uzon[77]terhadap Ryand dan Murni.

Suasana pagi itu putus begitu saja karena Ryand tergesa-gesa berangkat ke ladang minyak di Kampung Jawa dan Kurau untuk melakukan pengawasan dan pengecekan sumur minyak yang baru dibina semalam.

‘’Oke, tidak apa-apa. Kalau begitu, uang ini saya ambil lagi,’’ Ryand berujar dengan isyarat yang datar. ‘’Terima kasih atas kejujuran kamu Murni. Saya  pergi dulu.’’ Isyaratnya masih datar. Terima kasih yang melompat dari mulut Ryand adalah keikhlasan. Rasa terima kasih itu seikhlas pengembalian uang yang dilakukan oleh Murni. Terima kasih yang penuh ikhlas itu lahir karena perbuatan kejujuran. Kejujuran bisa mendatangkan kebaikan dan rezeki yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Kejujuran Murni yang melahirkan rasa terima kasih Ryand sehingga ia relakan uang tersebut untuk dara itu meskipun Murni menolaknya dengan halus. Ryand paling suka dengan orang-orang jujur karena kejujuran itu ibarat barang antik, sudah langka.

‘’Murni,’’ tiba-tiba Ryand berbalik dan memanggil dengan suara. Badan Murni yang sudah sebagian masuk ke kamar Ryand untuk berkemas-kemas, keluar lagi. Ia menoleh Ryand.

‘’Maaf, boleh aku minta sesuatu?’’ kata Ryand dengan isyarat.

‘’Apa?’’ Murni dengan isyarat.

‘’Bolehkan kamu temani aku berbual waktu-waktu istirahat? Itu pun kalau kamu tidak keberatan.’’

‘’Boleh, tapi kenapa harus saya?’’

‘’Kamu ‘kan tahu aku buta bahasa di sini. Hanya dengan kamu aku bisa nyambung.’’

‘’Jika kamu perlu, saya selalu di kantin Long Husin, kecuali malam.’’

‘’Terima kasih atas kesediaanmu. Aku permisi.’’

Ryand berlalu ke tempat kerja. Murni pun lenyap di telan kamar, membereskan kamar tuan yang sekarang sudah menjadi kawannya.

PERSAHABATAN Murni dengan Ryand mulai merecup[78]. Nilai-nilai persahabatan antara mereka seperti madu asli. Tanpa kontaminasi, tanpa campuran. Namun, penglihatan manusia selalu saja menyelinap[79] ke arah yang kurang baik, su’uzon. Kekurangarifan memang sentiasa berpijak dan terjebak dalam persoalan-persoalan prasangka yang bukan-bukan. Yang terjadi adalah vonis, bukan demokrasi, juga bukan toleransi. Tidak hanya di lingkungan room boy dan room girl yang heboh memperbincangkan tentang kedekatan Murni dengan Ryand. Kabar kurang baik itu sudah pula keluar ke warga kampung. Kabar-kabar sumbang terus menyebar bagai teror. Ini sungguh kurang adil, bahkan tidak adil buat Murni dan Ryand. Begitu mudah mulut-mulut mencoreng persahabatan Murni dan Ryand dengan segala bentuk persoalan.

‘’Coba kamu perhatikan baik-baik, Mil. Idolamu sudah lengket dengan Tuannya. Lihat sana tu. Mana ada room girl begitu dekat dengan majikannya,’’ Wahyuni berbisik ke telinga Kamil sambil meluruskan telunjuknya ke arah Murni dan Ryand. ‘’Perempuan begitu yang kaucintai, Mil? Kamu salah pilih. Lihat saja, entah apa yang mereka bicarakan. Mungkin soal cinta,’’ lidah api Wahyuni menjalar ke otak Kamil. Sepertinya, Kamil begitu mudah termakan hasutannya. Padahal, ini adalah taktik busuk Wahyuni untuk mendapatkan cinta dari dari Ryand.

Kedekatan Murni dengan Ryand menjadi ramai. Long Husin agak gusar juga karena  Murni adalah anak saudaranya. Tentu saja, jika dicubit paha kiri, paha kanan pun ikut terasa. Tapi, Long Husin memang orangtua yang bijaksana. Dia tahu benar bahwa kejadian ini semata-mata karena sifat iri seseorang. Karena itu, sebagai pengelola cleaning service, dia mendiamkan saja persoalan angin lalu ini. Dia jgua tidak mau menebak-nebak siapa orang yang iri itu. Bapak saudara Murni itu juga tidak mau menimbulkan su’uzon baru lagi di lingkungan ladang minyak ini. Baginya, ini soal biasa. Di satu sisi, cinta itu memang indah dan bahagia. Namun di sisi lain, cinta bisa melahirkan iri, dengki, fitnah, dan ghibah[80]. Long Husin berpikir tak perlu terjerat ke masalah-masalah yang menambah karat pada hati.

JIWA Kamil tidak senyaman dulu. Lidah api Wahyuni benar-benar sudah bekerja dalam kalbunya. Hasutan itu menjentik-jentik[81] sehingga melahirkan pedih. Jiwa yang mudah termakan hasutan adalah teman dekat para musuh kita yang nyata: setan. Bulu kening Kamil turun naik, bola matanya seumpama menjulat[82] dibakar lidah api Wahyuni. Geram, gelisah, cemburu, tak semenggah[83], terusik, dan beribu macam gambaran jiwa yang goyah.

‘’Tapi, kamu juga bukan kekasihnya?’’ tiba-tiba hati Kamil mengingatkan dengan bisikan bening.

Di kamp dekat ruang makan, Murni dan Ryand terus berbual panjang. Mereka berbicara apa saja yang mereka mau. Merdeka berbual. Banyak yang diperoleh Ryand dari perbualannya dengan Murni. Nampaknya  Ryand benar-benar menikmati keramahan dan kepetahan[84]Murni dalam berbicara meskipun hanya dengan gerakan jemari tangannya. Bule ganteng itu jadi mengerti adat istiadat penduduk kampung. Sedikit pun mereka tidak menyentuh tentang perasaan cinta selama satu jam berbual di meja makan.

‘’Kamu seorang perempuan yang cerdas, Mur,’’ Ryand memuji dengan kejujuran.

Wajah Murni mengembang ibarat bunga kembang sepatu. Mekar penuh berseri. Merah merona.

‘’Kamu jangan memuji saya seperti itu. Saya jadi kikuk,’’ pinta Murni.

Waktu istirahat makan siang habis. Tiba saatnya Ryand kembali ke lokasi pengeboran sumur minyak. Murni mengemasi barang pecah-belah tempat makan Ryand dan membersihkannya. Murni dan Ryand bisu. Mereka hanya saling pandang, menebarkan senyum, dan lambaian tangan. Tentu sekali dengan harapan dapat bercengkerama di meja makan seperti siang ini.

J


[66] gelar sapaan/panggilan sapaan kepada saudara tertua; anak sulung

[67] kemenakan

[68] menusuk

[69] terbuka

[70] tingkah laku

[71] ampaian; tempat menjemur pakaian

[72] belum turun

[73] kaku; serba salah

[74] berbuak

[75] saku

[76] celana

[77] prasangka negatif

[78] tumbuh dengan subur

[79] menerka; memasuki

[80] umpatan

[81] menyentil dengan jari

[82] berkobar

[83] tak tentu arah; kalangkabut

[84] kepandaian berbicara

Tinggalkan komentar

Filed under Novel "Sumbang"

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s