PAK dan Reformasi Guru


Oleh Musa Ismail*)

Januari 2013 akan diberlakukan Penilaian Angka Kredit (PAK) guru yang baru. Pemberlakuan ini sesuai dengan Permenneg PAN dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Artinya, sistem PAK guru lama hanya berlaku sekitar setahun lebih. Permenneg ini merupakan pengganti Keputusan Menteri Negara Pendayaan Aparatur Negara Nomor 84/1993 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angkat Kreditnya. Diberlakukannya Permenneg ini diharapkan mampu mereformasi guru. Hal ini dikarenakan menurut data NUPTK November 2010, masih terdapat 2.791.204 guru yang semestinya digesa untuk ditingkatkan kompetensi dan profesionalitasnya. Selain itu, memungkinkan untuk meningkatkan mutu kinerja, pengembangan profesi berkelanjutan (PKB), dan pengembangan karier.

Pelaksanaan peraturan ini nantinya akan memperketat persaingan mutu di kalangan guru. Tidak seperti sistem kenaikan pangkat sebelumnya, guru bisa naik pangkat minimal dalam masa dua tahun dengan akumulasi angkat kredit tertentu. Melalui sistem kepangkatan guru yang akan diberlakukan awal 2013 nanti, kenaikan pangkat guru akan lebih selektif. Kenaikan pangkat guru tidak semudah peraturan sebelumnya. Guru benar-benar dituntut memperlihatkan kompetensi profesionalnya dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik bangsa dan negara.

Ada beberapa penyebabnya. Pertama, besar angkat kredit per kriteria, baik unsur utama maupun unsur penunjang, pada umumnya menyusut. Kedua, diwajibkannya karya tulis untuk kenaikan pangkat guru mulai dari golongan III b ke atas (sebelumnya dari golongan IV a ke atas) dengan kriteria nilai kredit yang harus dipenuhi. Selama ini, karya tulis menjadi sesuatu yang menakutkan bagi sebagian besar guru sehingga banyak yang ’’mati’’ di IV a. Jika guru tidak berubah dengan membudayakan dirinya untuk menulis, berkemungkinan besar banyak guru yang tersendat di III c atau III d. Ini bukan suatu sikap psimistif, tetapi suatu cambuk yang akan membangunkan para pendidik agar membangun tradisi menulis (tradisi kreatif). Ketiga, adanya pengharusan memenuhi kriteria angka kredit dari segi pengembangan diri dengan akumulasi nilai tertentu seperti mengikuti pelatihan-pelatihan.

Jalan Keluar

Pemberlakuan peraturan yang ’’pahit’’ ini memang harus ditelan. Akan bermasalah jika para guru menjadikannya sebagai suatu masalah. Akan menjadi cambuk jika para guru menyadari perubahan perhatian pemerintah selama ini walaupun ada yang menilai pemerintah masih setengah hati (misalnya, tentang tunjangan profesi bagi guru sertifikasi yang dijejali dengan kewajiban 24 jam tatap muka). Yang jelas, ada indikasi bahwa profesi guru menjadi suatu profesi yang diirikan oleh profesi lain. Bahkan, dalam cakupan yang lebih luas dan harus dipertanyakan, mengapa manusia-manusia negara ini, terutama oknum elit politik  dan oknum pejabat selalu berkira (menghitung-hitung) jika kesejahteraan untuk guru ditingkatkan. Setiap kenaikan gaji guru, mulailah semuanya menghitung untung-rugi. Selalu saja beralasan bahwa jumlah guru sangat banyak. Ini suatu pemikiran yang tidak realistik. Kalau guru tidak banyak jumlahnya (mencukupi), kaki pendidikan bangsa ini akan terseok-seok. Jika alasan klise itu saja yang dimunculkan, perubahan apa yang kita harapkan. Pemikiran seperti ini bisa merusak konsep dan rancangan perubahan dunia pendidikan.

Sehubungan dengan pemberlakuan Permennag ini, ada beberapa jalan keluar yang semestinya dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi/kabupaten/kota. Pertama, secepat dan secermat mungkin melaksanakan program sosialisasi, terutama bagi guru, kepala sekolah, pengawas, pegawai dinas/instansi terkait seperti BKD agar tidak terjadi ketimpangan pengetahuan antarketiga unsur tersebut. Kedua, merencanakan dan memaksimalkan progam pelatihan, workshop, MGMP/KKG/KKKS. Ketiga, menerbitkan jurnal ilmiah untuk menampung karya tulis para guru. Keempat, memprogramkan sayembara karya inovatif para guru secara rutin. Kelima, dari sisi guru, tidak hanya cukup dengan keinginan untuk berubah, tetapi berbuat atau berupaya untuk mengubah diri sendiri dalam kaitannya dengan pengembangan keprofesian berkelanjutan.

Reformasi Guru

Ketika tiba pemberlakuan pada awal 2013 nanti, peraturan ini akan memberikan dampak positif bagi para guru yang berpikiran positif. Namun, bagi guru berpikiran negatif, peraturan tersebut akan dianggap menyusahkan, mempersulit, dan sebagai sikap setengah hati pemerintah untuk menyejahterakan guru. Sebagai guru, penulis mengajak agar berpikiran positif dengan segala kemungkinan kreativitas. Peraturan ini akan berdampak besar bagi reformasi guru. Pemberlakuan peraturan ini akan mengasah kinerja guru yang lebih profesional, bukan sekedar sertifikat yang diperoleh dari berbagai pelatihan. Sikap profesional guru pun secara bertahap akan mengalami perubahan dengan berbagai tantangan yang diberikan dalam peraturan ini.

Reformasi guru memang perlu, bahkan mendesak. Harus diakui, masih banyak di antara guru (mungkin termasuk penulis) terbelenggu dengan sistem pembelajaran yang konvensional. Kinerja yang diperlihatkan pun sudah usang. Jangankan tindakan/upaya untuk berubah, niat pun dibungkus oleh sikap psimistis. Sekebat sikap negatif yang mengikat pikiran para guru merupakan sikap yang bertentangan dengan semangat reformasi pendidikan, termasuk reformasi guru.

Di beberapa segi, pendidikan kita memang menggembirakan. Namun, langkahnya masih perlu dipergegas dan dipertepat. Guru-guru yang mampu bergegas dan mempercepat kompetensi profesinya akan mempengaruhi perubahan sikap profesinya. Guru-guru seperti inilah nantinya yang akan membangun dan membentuk budaya kinerja yang konstruktif, kreatif, inovatif, dan beretos kerja yang hebat. Para guru yang masih bertahan dengan keusangannya, akan tergilas oleh seleksi alam melalui peraturan tersebut.

Fenomena sosial berubah. Kehidupan setiap saat berubah. Kemajuan pendidikan mengalami akselerasi yang tidak terbantahkan. Modernisasi teknologi informasi melejit luar biasa. Model, sikap, dan perilaku siswa sudah jauh berbeda sejak kebangkitan teknologi digital. Jika para guru masih bertahan dengan kondisi sepuluh tahun ke bawah, bukan tidak mungkin pembelajaran yang dilaksanakan tidak memberikan makna apa-apa. Hanya guru yang mereformasi jiwa dan raganya yang akan menang dalam persaingan. Semoga saja, pemberlakuan sistem kenaikan pangkat baru bagi para guru akan menjadi pemicu dan pemacu untuk segera bangkit dari tidur sehingga lahir guru masa depan.***

*)Penulis adalah Guru SMAN 3 Bengkalis dan Penulis.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s