Sekolah dalam Masalah


Oleh Musa Ismail

(Guru SMAN 3 Bengkalis dan penulis)

Seharusnya, sekolah merupakan tempat terjadinya proses belajar mengajar (bukan proses menghajar). Di sinilah, para peserta didik diharapkan mampu mandiri, kreatif, inovatif, dan mengembangkan kognitif, psikomotor, dan afektifnya berdasarkan multikecerdasan. Di sinilah juga, seharusnya para peserta didik menjadi lebih merdeka melalui bimbingan pendidiknya. Dengan demikian, sekolah akan menjadi ”surga” bagi peserta didik sehingga pembelajaran yang sebenarnya bisa tercipta.

Kita tidak perlu membanding-bandingkan dengan kejayaan negara luar dalam membangun pendidikan (education building). Namun, kejayaan negara luar patut dijadikan patokan (benchmarking) untuk membangun dan membentuk motivasi. Mari kita mengkaji fenomena negatif yang terjadi di sekolah kita saat ini sebagai bahan pembelajaran.

Pertama, pemberlakuan penyeragaman. Pemberlakuan penyeragaman ini bukan hanya berkaitan dengan pakaian. Penyeragaman KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) pun sangat bertentangan dengan ”roh” pendidikan, apalagi jika KKM ditentukan tanpa analisis mendalam. Pemberlakuan penyeragaman ini—sadar atau tidak—sangat paradoks dengan hakikat keunikan manusia. Hakikat perbedaan individual dalam sistem dan teori pendidikan dicampakkan begitu saja. Pemberlakuan penyeragaman ini secara perlahan dan pasti telah membelenggu peserta didik.

Kedua, munculnya deskriminasi dan pembohongan publik. Status sekolah RSBI, sekolah binaan (khusus), sekolah model, dan kelas pintar merupakan benih-benih deskriminasi yang akan kita panen suatu saat. Sementara itu, pembohongan publik justru terjadi antara nilai rapor dan nilai ijazah peserta didik. Di sini, terjadi kesenjangan yang luar biasa. Kebohongan ini juga akan kita tuai pada suatu ketika.

Ketiga, tindakan disiplin yang non-edukatif. Sekolah-sekolah kita memiliki aturan tata tertib sebagai patokan kedisiplinan. Siapa pun tidak bisa menolak bahwa kedisiplinan itu sangat penting. Yang menjadi persoalan di sekolah kita, kedisiplinan ibarat perisai untuk melegalkan tindakan non-edukatif. Manusiawikah jika pendidik menggunting rambut peserta didiknya secara serampangan? Manusiawikan jika pendidik menggunting baju peserta didiknya gara-gara tidak dimasukkan. Manusiawikah kalau pendidik menggunting celana peserta didiknya karena model pensil? Di mana letak kedisiplinan, kalau peserta didik yang tidak disiplin dibentak, dimarahi, diceramahi tanpa henti? Saya melihat ini merupakan suatu penindasan.

Keempat, pembelajaran yang membosankan. Di abad ke-21 (abad iptek), sangat aneh kalau pembelajaran masih dilaksanakan dengan sistem mencatat. Pembelajaran konvensional yang usang itu masih saja unggul. Justru inilah yang masih banyak terjadi. Akhirnya, bukan PAKIEM (Pembelajaran Aktif, Kreatif, Inovatif, dan Menyenangkan) yang terbangun, tetapi pembelajaran yang membosankan. Kondisi ini terjadi karena pendidik tidak mau mengubah pola pikir (status quo-nya) yang antiperubahan itu. Selama pendidik masih berada dalam zona nyaman dengan status quo-nya itu, pembelajaran yang membosankan akan terus saja terjadi.

Kelima, terlalu menjejali peserta didik dengan beban materi pembelajaran. Fenomena ini dapat kita tangkap dari pemberian pekerjaan rumah kepada peserta didik. Penjejalan beban materi pembelajaran ini sangat terasa sejak di sekolah dasar. Nyaris setiap pendidik memberikan pekerjaan rumah untuk  setiap mata pelajaran. Yang lebih memprihatinkan lagi, ada beberapa SD tidak mau menerima calon siswanya jika belum bisa membaca.

Keenam, pendidik yang tidak mau memperbarui diri dan keilmuannya. Merasa sudah cukup dengan ilmu yang dimiliki, bukanlah karakter pendidik sejati. Pendidik yang mau mengajar, seyogyanya mau belajar. Di samping itu, sikap skeptis dan apriori yang menggerogoti pola pikir pendidik akan memperparah menerima berbagai kemungkinan. Salah satunya adalah skeptis dan apriori dengan penerapan model-model pembelajaran.

Ketujuh, keterasingan siswa yang kinestetik. Siswa yang kinestetik adalah siswa yang suka bergerak, lincah, senang berbuat dan membuat sesuatu. Dalam kelas, siswa seperti ini selalu ada, tetapi tidak banyak. Akibat penyeragaman pembelajaran, siswa ini menjadi terpinggirkan, kurang  mendapatkan perhatian dari pendidik, dan selalu tervonis sebagai pesalah. Siswa inilah yang sering dimarahi dan diberikan sanksi yang kadang-kadang kurang manusiawi.

Kedelapan, intervensi eksternal. Politik dan kebijakan pemerintah yang negatif sangat menindas independensi sekolah. Penindasan ini berlanjut seperti benang kusut yang tak terselesaikan. Sekolah dijadikan alat untuk mewujudkan keinginan pribadi, bukan keinginan organisasi pendidikan yang merdeka dari berbagai tekanan/pendiktean.

Beberapa fenomena negatif di sekolah kita saat ini, patut mendapat penanganan khusus. Fenomena ini sudah menjadi penyakit kronis. Suatu perubahan mendasar dan keberanian untuk mengubahnya perlu dimunculkan. Dalam hal ini, pendidik idealis dan idealisme pendidik patut dikokohkan kembali. Sekolah sebagai suatu sistem kelembagaan (organisasi) dituntut lebih memfokuskan pada kepuasan pelanggan, baik internal maupun eksternal. Fenomena negatif sekolah kita ini, oleh Everett Reimer, dinamakan Sekolah Mati (School is Dead). Fenomena  seperti ini sudah terjadi di Amerika sekitar tahun 50-an. Kematian sekolah bisa disebabkan beberapa hal, yaitu (1) warga sekolah yang tidak mau berubah, (2) masih tradisional/konvensional, (3) intervensi politik, (4) selalu berpikiran ingin gratis, (5) pihak sekolah, masyarakat, dan pemerintah kurang peduli, (6) kurangnya nilai pendidikan/karakter.

Kita menyadari bahwa pendidikan bertujuan untuk memanusiakan manusia. Berdasarkan beberapa fenomena negatif ini, kita justru melakukan aksi yang—menurut saya—kurang manusiawi. Meskipun persoalan ini hanya contoh kasus, tetapi kasus ini justru berlaku secara universal di sekolah-sekolah kita. Sepertinya, kita sudah kehilangan akal atau kehabisan jalan untuk melakukan tindakan-tindakan yang relevan dengan roh pendidikan (sekolah). Akhirnya, perbuatan kita adalah menghajar manusia sehingga kita menjadi pembunuh berbagai keunikan tingkat kecerdasan dan talenta peserta didik.***

Siapa yang harus mengubah situasi ini? Jika kita masih berdalih bahwa fenomena negatif ini mendidik, berarti alur penindasan di sekolah kita tidak akan selesai. Kondisi ini akan berlanjut entah berapa puluh tahun ke depan seperti halnya ketika saya masih SD dan berlanjut hingga kini. Jika kita membaca fenomena ini sebagai suatu kekeliruan, berarti kitalah yang seharusnya mengubah situasi ini sehingga kembali normal. Sekolah akan berhasil kalau dibangun dengan budaya pendidikan yang sebenarnya, bukan berlindung dengan alasan yang mendidik. Nah, sudah saatnya sekolah kita kembalikan ke jalan yang benar.***

*) Penulis adalah guru SMAN 3 Bengkalis.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s