Realitas Psikologis Tokoh dalam Novel “Air Mata Bulan”


Realitas Psikologis Tokoh dalam Novel ’’Air Mata Bulan’’

Oleh Musa Ismail *)

Karya sastra berkait dengan berbagai subdisiplin ilmu lain. Selain sosiologi dan antropologi, kajian terhadap produk sastra juga tidak bisa lepas dari aspek psikologis. Hal ini dikarenakan medium sastra, yaitu bahasa merupakan cerminan ekspresi kejiwaan pengarang. Di sisi lain, tokoh-tokoh yang terlahir dalam karya sastra seperti novel akan memancarkan aspek-aspek psikis dalam interaksi kehidupan dunia sastra. Endraswara mengatakan bahwa bahasa dalam sastra adalah simbol psikologis. Bahasa sastra adalah bingkisan makna psikis yang dalam (2008:4)). Bagi Freud, aspek psikologi adalah alam bawah sadar, yang disadari secara samar-samar oleh individu yang bersangkutan. Ketaksadaran justru merupakan bagian yang paling besar dan paling aktif dalam diri setiap orang (lihat Endraswara, 2008:4).

Kehidupan nyata manusia tidak terpisah dari kondisi kejiwaannya. Karakter manusia dalam kehidupan nyata bisa saja memiliki kesamaan (baik kebetulan ataupun tidak) terhadap karakter manusia dalam produk sastra. Ungkapan-ungkapan kejiwaan yang dijalin dalam karya sastra memberikan suatu ruang tersendiri. Apalagi jika ruang-ruang itu kita lakukan suatu perbandingan dengan realitas sehari-hari. Karena itu, kehidupan manusia (tokoh-tokoh) dalam karya sastra tak bisa dibantah. Wujud karakter yang dijalin pengarang akan memberikan kesan unik kepada para pembaca. Mempelajari dan memahami aspek psikologis tokoh-tokoh dalam karya sastra membabitkan diri kita untuk mempelajari dan memahami kehidupan nyata.

Pada dasarnya, kita adalah tokoh-tokoh yang berperanan masing-masing dalam kehidupan dunia. Kita berjiwa. Kejiwaan yang kita miliki bermuatan khas, aneh, unik, dan berwarna-warni. Karena itu, mempelajari manusia nyata (kita) dan manusia imajinatif (dalam karya sastra) menjadi sangat menarik. Bahkan, Aminuddin (1990:108) menilai kedua tipe manusia ini memiliki kedudukan sama penting. Mencermati aspek kejiwaan sangat menarik dan menelan perhatian. Alasannya karena kejiwaaan itu terus merecup, tumbuh, berubah, melaju, bahkan bisa berbalik ke awal. Kondisi kejiwaan semacam ini, selain dalam kehidupan sehari-hari, sudah tentu menjelma pula dalam setiap karya sastra. Karena itu, menurut saya, karya sastra bisa juga dikatakan sebagai dokumen-dokumen kejiwaan.

’’Air Mata Bulan’’ yang dilahirkan Olyrinson merupakan salah satu karya pilihan Ganti Award 2008. Secara psikologis, judul yang disuguhkan memiliki daya ajuk yang tinggi terhadap pembaca. Dalam judul ’’Air Mata Bulan’’, terdapat beberapa interpretasi. Pertama, adanya emosi yang tertekan oleh sesuatu yang menyakitkan (penuh penderitaan). Kedua, adanya segelintir harapan yang diimpikan untuk menggapai kebahagiaan atau keindahan dalam kehidupan. Ketiga, menggambarkan perjuangan gigih yang memerlukan suatu pengorbanan. Secara utuh, judul novel ini melukiskan tentang kesengsaraan, penderitaan, kemiskinan, dan segala macam yang bisa dikaitkan dengan ’’air mata’’ sebagai tafsiran perlambangan dramatik yang lebih merefleksikan aspek psikologis. Dari judulnya juga, dapat saya simpulkan mengandung dua aspek dalam struktur kejiwaan, yaitu konasi dan kognisi. Menurut Endraswara, konasi adalah aspek kehendak dalam struktur jiwa manusia. Kehendak akan meluap ketika menginginkan sesuatu. Dalam sastra pun akan terjadi hal senada. Ketika pengarang atau tokoh menginginkan apa saja, konasi yang berperan. Konasi kadang-kadang mematahkan emosi dan akal (kognisi). Kognisi adalah akal sehati dalam jiwa. Kognisi merupakan cermin pemikiran jernih yang berdampingan dengan konasi.

Novel ini mengambil latar sentral di Sumatera Utara. Latar fokusnya di jermal. Tokohnya sebagian besar adalah para remaja antara 16 hingga 20 tahun. Secara psikologi, usia tersebut merupakan masa-masa gejolak pubertas (adolesen). Tokoh utama novel ini adalah Toro (16 tahun), seorang remaja yang terpaksa bertanggung jawab, menjadi tulang punggung keluarga. Awalnya, Toro terpaksa bekerja sebagai pembantu Haji Jamil di perkebunan kelapa sawit karena ayahnya didera penyakit. Hidup di tengah keluarga miskin, Toro yang jago berenang mengambil upah menyelam untuk mengambil bibit sawit yang ditenggelamkan banjir.

Selain Toro, ada Papui, saudara angkatnya. Papui sebaya dengan Toro, tetapi berbadan tegap. Pikirannya agak lemah. Hanya kekuatan yang dapat diandalkan darinya. Karena kemiskinan yang mendera kehidupan mereka, Toro dan Papui terpaksa menjadi pekerja di jermal. Mereka tak ubahnya kuli kontrak yang sudah dibayar. Selama dalam perjalanan dengan truk, mereka sudah mendapat tekanan dari kaki tangan pemilik jermal. Kaki tangan pemilik jermal itu menghardik dan memaksa agar tidak berbuat sesuatu yang bertentangan.

Ketertekanan batin mereka tidak hanya sampai di situ. Ketika sudah tiba di jermal, perlakuan yang mereka terima lebih menyayat hati. Di jermal, sudah menunggu Udin, sebagai pengawas jermal, dan beberapa temannya. Udin yang berbadan tegap, liat, dan bertato berkuasa atas segalanya di jermal itu. Dia bisa memaki, menghardik, memukul, bahkan lebih daripada itu. Di jermal inilah, malapetaka terjadi.

Paling tidak, ada tiga tokoh yang menarik dibahas secara psikologis dalam novel ini. Pertama, Toro dan Papui. Awalnya, Toro adalah anak yang bertindak apa adanya. Dia tak pernah melakukan hal-hal negatif, apalagi melakukan perlawanan terhadap orang lain. Tingkatan kejiwaannya berupa perasaan dan akal (niveau human). Meskipun selama di jermal Toro masih mengandalkan niveau human-nya, tetapi kejiwaannya sedikit melecut untuk melakukan pemberontakan terhadap sesuatu yang tidak disenanginya. Selain itu, di dalam jiwa Toro pun muncul jiwa religious (niveau religious). Peloncatan kejiwaan Toro ini muncul sebagai akibat dari renungan moral, batin, sikap, dan pertimbangan akal sehat (kognisi). Perlakuan-perlakuan yang tidak manusiawi dari Udin telah mengubah karakternya untuk melawan, baik batiniah maupun jasmaniah.

’’Namaku Toro, dan ini temanku Papui. Aku bukan perempuan dan dia bukan kerbau. Kami datang ke sini untuk bekerja bukan untuk dihina seperti ini.’’ (hlm.38).

Darah Toro mendidih. ’’Namaku bukan Yanti!’’ teriaknya.(hlm.39).’’

Kejiwaan Toro terus terusik. Jermal itu, baginya, sama dengan penjara dengan para sipir kejam. Setiap hari, ada marah dan dendam dalam dirinya terhadap Udin yang memperlakukan mereka seperti binatang. Terlebih lagi ketika dia tahu bahwa Udin menyodomi Daru untuk melampiaskan nafsu biologisnya. Kondisi di jermal inilah yang ikut serta mengubah dan mempengaruhi keperibadian Toro untuk menjadi pelawan demi kebaikan. Secara psikologis, faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan dan kematangan kejiwaan manusia.

Keberadaan tokoh Papui dalam novel ini cukup penting. Tokoh ini merupakan tokoh yang karakternya tak bisa berdiri sendiri. Mungkin karena keterbatasannya sebagai remaja kurang normal. Dia tak pernah marah dan tak pernah melawan. Tetapi, dia akan berubah ganas jika Toro menyuruhnya untuk menyerang siapa saja yang menyakiti mereka. Secara psikologi, Papui merupakan manusia yang bisa bekerja dengan cara perintah. Dia seperti robot atau komputer yang akan bekerja apabila diperintah terlebih dahulu. Namun, keadaan bisa memutar kejiwaan dan aksi seseorang. Perubahan psikologis Papui dapat kita simak dalam kutipan berikut.

’’Dan pada saat itu, seseorang menendang pintu, dan melemparkan mayat yang menghitam itu ke dalam gubuk! ’’Papui!!! Seisi gubuk berteriak. Papui berdiri dengan badan basah kuyup. Matanya merah karena menangis. ’’Aku memang bodoh, tapi tidak buta!’’ teriaknya. ’’Mereka ingin membunuh aku di laut, Toro,’’ kata Papui kepada Toro. ’’Jadi aku melawan dan memaksa tukang perahu itu membawaku ke mari. Dia sudah kuikat dengan tali kapalnya sendiri.’’ (hlm. 142).

 

Kedua, tokoh Daru. Kalau Udin memanggil Toro dengan sebutan Yanti, maka Daru disapanya dengan nama Diana. Di jermal celaka itu, Daru lebih lama menderita. Sebelum Toro tiba, Daru sudah dijadikan sebagai tumbal pelampiasan nafsu oleh Udin. Setiap selesai disodomi Udin, Daru duduk bersimpuh di luar sambil menangis dan memandang bulan ngapapekon. Dadanya dipenuhi penyesalan, kepedihan, merasa dilumuri kotoran, dan tak berguna. Kejiwaan Daru semata-mata dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran negatif atau pesimis dari dalam dirinya sendiri. Perlakuan sekehendak hati oleh Udin terhadap dirinya telah menghapus berbagai kemungkinan untuk menata masa depan yang didambakan. Karena itu, aksinya laksana pungguk merindukan bulan. Daru mendambakan kebahagiaan, tetapi dia merasakan tak mungkin menggapainya.

Ketiga, tokoh Udin (20 tahun). Secara psikologi, tokoh ini mengalami deviasi dan delinkuensi. Berbagai bentuk penyimpangan dilakukannya terhadap remaja di bawah usianya. Kekuasaan yang ada padanya digunakan untuk menindas, menjajah, menjarah, dan melecehkan orang lain, baik secara psikis maupun fisik. Dalam novel ini, Udin tergolong penderita psikopat antisosial, antimoral, asusila, bahkan seperti tak memiliki jiwa kemanusiaan. Tokoh ini lebih mengandalkan tingkat jiwa binatang (niveau animal). Semua aksi yang muncul dari jiwanya, tak ada yang menyenangkan hati perut orang lain. Dia menyodomi, menjarah upah, mencela, memukul, menghardik, berkata kasar, dan berbagai perilaku deviasi dan delinkuensi lainnya.

Sebagai tokoh antagonis yang muncul di pertengahan plot, tidak terlihat adanya hubungan perilaku Udin dengan faktor hereditas (keturunan). Saya berkesimpulan, kekacauan jiwa tokoh Udin ini seratus persen dipengaruhi oleh lingkungan tempat kerjanya (jermal). Dapat diinterpretasi bahwa semulanya diawali dengan keisengan, kebosanan, dan pengaruh kekuasaan. Akibat muncul rasa bahwa dirinya tertinggi di suatu keadaan, peristiwa, atau jabatan (jermal), lantas lahir hasrat konasi yang tak bisa dikendalikan sehingga mengarah kepada hal-hal negatif.

Di luar ketiga tokoh penting di atas dalam novel tersebut, ada terdapat tokoh sampingan yang mengalami deviasi dan delinkuensi dalam hal seks. Tokoh-tokoh tersebut merupakan tokoh bayangan yang memperkuat eksistensi tokoh Udin. Beberapa remaja yang menyebelahi Udin, justru terjangkiti penyakit Udin dalam kelainan seks. Lebih parah lagi, mereka melakukan sodomi terhadap ikan (pari) sehingga berakibat pada kematian salah seorang temannya.

Dengan novelnya ini, Olyrinson ingin menyuguhkan suatu realita psikologis yang pahit, berdarah, dan menyakitkan. Rekaman-rekaman dalam novel ini masih mengingatkan kita pada para pelaku sodomi yang sempat menghebohkan dan meresahkan orang tua. Realitas sosial dan realitas psikologis dalam novel ini tak bisa kita bantah. Semua realitas psikologis yang disuguhkan Olyrinson, akan memberikan kesan psikologis tersendiri pula bagi pembaca. Deviasi-deviasi seksual melalui tokoh Udin dan beberapa temannya merupakan gambaran betapa pengaruh lingkungan sangat berbahaya.

Gagasan-gagasan yang dituang dalam ’’Air Mata Bulan’’ merupakan ide-ide sederhana. Namun, ide-ide sederhana ini mampu diramu pengarangnya sehingga menimbulkan kesan psikologis yang mendalam. Aspek moral, religius, akal pikiran (kognisi), kehendak (konasi), dan norma-norma kehidupan dapat kita tarik dengan mendalam. Novel ini mengajak untuk merenungkan betapa dekatnya berbagai kebejatan dan kejahatan dengan diri kita. Juga begitu akrabnya kehidupan kita dengan aspek-aspek psikis yang menyimpang, termasuklah penyimpangan orang tua yang memaksa/terpaksa mempekerjakan anaknya yang masih di bawah umur. Inilah sisi gelap bangsa kita: keadaan kejiwaan yang rusak!***

 

*) Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis dan penulis.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s