Feminisme dalam “Kopi Hujan Pagi”


Feminisme dalam Cerpen & Puisi ”Kopi Hujan Pagi”

Pertelingkahan Seks, Kelaraan,

dan Memaknai Kerinduan Perempuan

Musa Ismail *)

/1/

Karya sastra merupakan rekaman kehidupan (life track record) yang pada umumnya mengalami proses rekaan. Ketika ”mengejan” karyanya, para sastrawan (penyair) mustahil mengarantina dirinya untuk tidak melakukan proses rekaan. Proses rekaan inilah yang akan memperlihatkan kepiawaian (intelektual) sastrawan dalam mengolah hasil karyanya untuk pembaca. Sebagai rekaman kehidupan (saya kurang setuju dengan sebutan karya sastra sebagai rezim budaya/culture regime seperti ditulis dalam Metodologi Penelitian Sastra, Endraswara, 2008:143), karya memiliki kekuatan mencatat pelangi dunia. Perseteruan, percintaan, perbudakan, penderitaan, kebahagiaan, kasih sayang, dan sebagainya menyatu dalam karya sastra seperti halnya persoalan itu juga menyatu dalam kehidupan kita. Persoalan feminisme pun memiliki ruang khas di dalam puisi dan prosa rekaan.

Secara leksikal dan etimologi, feminisme berasal dari kata feminist yang berarti pejuang hak-hak kaum wanita, kemudian meluas menjadi feminism, yaitu suatu faham atau isme yang memperjuangkan hak-hak kaum wanita. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI, 2008: 410) feminisme merupakan gerakan wanita yang menuntut persamaan hak sepenuhnya antara kaum wanita dan pria. Definisi secara leksikal ini telah membawa pemahaman yang keliru di kalangan masyarakat. Fakih dalam Trianton (2009) mengungkapkan, secara umum orang akan salah sangka atas feminisme yang dianggap hanya sebagai gerakan pemberontakan terhadap kaum laki-laki. Istilah lain yang setara dengan feminisme adalah gender. Feminisme sebagai gerakan awalnya berangkat dari asumsi bahwa kaum perempuan pada dasarnya ditindas dan dieksploitasi. Feminisme menjadi usaha untuk mengakhiri penindasan dan eksploitasi tersebut. Akhirnya mereka sepaham bahwa hakikat perjuangan feminis adalah demi kesamaan, martabat, dan kebebasan mengontrol raga dan kehidupan, baik di dalam maupun di luar rumah.

Goefe melihat feminisme bukan hanya sebagai gerakan, melainkan lebih mendasar dari itu. Ia menganggap feminisme adalah teori persamaan hak antara laki laki dan wanita di bidang politik, ekonomi, dan sosial, atau gerakan yang terorganisasi yang memperjuangkan hak-hak serta kepentingan kaum wanita. Artinya, sebagai sebuah teori, feminisme ini tidak harus identik dengan perjuangan kaum perempuan. Sebagai sebuah teori, feminisme juga banyak dipraktikkan oleh kaum pria sehingga lahirlah terminologi male feminis. Istilah male feminist di Indonesia masih tergolong baru dan belum begitu akrab. Terminologi ini muncul tatkala feminisme mulai merambah ranah studi yang intensif pada pengembangan wacana yang kritis dan analisis atas masalah feminis laki-laki. Feminisme pria (male feminist) adalah sebutan bagi kaum laki-laki yang ikut berjuang melawan penindasan terhadap perempuan. Mereka juga sering disebut sebagai kelompok pro-feminist. Kelompok dan pandangan male feminist muncul karena adanya gerakan kaum feminisme yang menolak keterlibatan laki-laki dalam penyetaraan masalah gender. Sesungguhnya kaum laki-laki pun bisa menjadi feminis sepanjang sikap dan tingkah lakunya menunjukkan penghargaan dan menghormati perempuan.

Dalam dunia sastra, feminisme dapat digunakan sebagai pendekatan teori kritik sastra. Sugihastuti mengungkapkan bahwa kritik sastra feminis adalah sebuah kritik sastra yang memandang sastra dengan kesadaran khusus akan adanya jenis kelamin yang banyak berhubungan dengan budaya, sastra, dan kehidupan manusia (dalam Tranton). Dengan demikian, feminisme sastra merupakan suatu metode penelitian sastra yang mengangkat persoalan perempuan dalam karya sastra. Persoalan-persoalan yang ditelaah, menurut Endraswara (2008:146), berkaitan dengan beberapa hal, yaitu (1) kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam sastra, (2) ketertinggalan kaum perempuan dalam segala aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan aktivitas kemasyarakatan, dan (3) memperhatikan faktor pembaca, khususnya bagaimana tanggapan pembaca terhadap emansipasi wanita dalam sastra.

Kopi Hujan Pagi (KHP) merupakan kumpulan puisi dan cerpen para penulis tamatan Sekolah Menulis Paragraf (SMP). Ada fenomena menarik yang berdaya ajuk dari kumpulan karya sastra tersebut. Sebagian besar penulisnya adalah kaum perempuan muda Riau. Tentu saja mereka sangat energik. Ini terbaca dari karya-karya mereka yang terekam dalam KHP. Kemunculan KHP menjadi khazanah tersendiri di ruang kesusastraan Riau khususnya dan Indonesia umumnya. Bukankah untuk saat ini, Riau miskin sastrawan perempuan? Terdapat 15 cerpen yang dihasilkan oleh 7 penulis. Enam penulis di antaranya adalah perempuan. Bukankah ini bukti untuk mengurangi kemiskinan itu?

Tidak seperti biasanya, judul buku KHP ini tidak diambil dari salah satu judul cerpen atau puisi yang termuat di dalamnya. Memang ada pemakaian kata kopi di beberapa karya (puisi dan cerpen) dalam buku ini dan kata hujan dan pagi. Namun, bukan berarti judul buku kumpulan puisi dan cerpen ini merupakan tampalan dari beberapa kata tersebut. Judul ini mengajuk penulis untuk menginterpretasinya dengan lebih merdeka. Kata kopi merupakan kata konkret bagi sastrawan. Kata ini memiliki makna yang luar biasa jika dikaitkan dengan kebudayaan bangsa kita. Sebagai jenis minuman, kopi memberikan kenikmatan tersendiri bagi penikmatnya. Terselubung makna dari aspek sosiologi dan antropologi di dalamnya. Apalagi kata kopi itu digabungkan dengan frasa konkret hujan pagi. Frasa hujan pagi pun bisa dimaknai secara ambiguitas: bisa bermakna rezeki atau pun sebaliknya bagi orang-orang tertentu. Frasa kopi hujan pagi (judul buku ini), menurut penulis, bisa saja menggambarkan aspek feminisme: kesetiaan perempuan kepada suami yang menyuguhkan makanan/minuman setiap hari. Kelihatan suatu pekerjaan yang sepele, tetapi memiliki nilai kesetiaan yang tidak terhingga. Namun, dari gambaran ini juga bisa terjadi pertelingkahan hubungan antarlelaki (suami) dan perempuan (isteri). Masalah inilah yang terungkap dalam cerpen-cerpen di buku KHP.

”Suara-suara perempuan” begitu merdeka dalam cerpen-cerpen di KHP. Para penulis muda ini meneriakkan advokasi tentang kaum mereka. Perasaan ingin dilindungi, persoalan seks, kelaraan, dan profil perempuan karier. Di samping itu, ada gambaran lain dari seorang lelaki.

Kedudukan dan peran tokoh perempuan dalam cerpen-cerpen ini memperlihatkan berbagai kemungkinan. Tokoh perempuan di beberapa cerpen terlihat dinamis dan kompleks. Dalam cerpen Hujan Luka, terlukis kisah cinta luka. Terjadi pertelingkahan seks (hubungan kasih sayang dan cinta) antara tokoh perempuan (sebagai anak) dan tokoh perempuan (sebagai ibu). Dalam cerpennya ini, Cikie Wahab menulis: Akulah yang melukis sayap di punggungmu, nak. Tapi kau durhaka! Batin perempuan itu tersayat. Lelaki yang ia cintai bersama anak gadisnya….(h.63). Di cerpen Yang Tak Akan Pernah Hilang, Cikie Wahab mengisahkan tentang ayah yang nikah lagi. Di sini, penulis mencoba lebih kritis, tetapi tidak begitu mendalam. Penulis memandang dari dua sisi tokoh perempuan, yaitu sebagai isteri pertama dan isteri kedua. Keberpihakan penulis tidak pada satu tokoh. Kalau pada umumnya, tokoh isteri pertama selalu memberontak jika dimadu, tetapi tidak dapat kita tangkap dalam cerpen ini. Selain itu, Cikie Wahab berkisah pula tentang luka tokoh perempuan yang ditinggalkan mati oleh suami dalam cerpen Dari Jendela Besar Itu. Cikie menulis: ”Siapa yang akan khawatir padaku lagi?” lirihnya, sembari menangis, mengikat ujung-ujung sprei dan mengutip pecahan kaca botol secara bergantian.”Kematianmu membuatku ikut mati.” (h.73).

Penulis lain, Febby Fortinella Rusmoyo hadir dengan tiga cerpen, yaitu Pulang, Dongeng Wild West, dan Lie To Me. Dari cerpennya itu, hanya Pulang dan Lie To Me yang mengisahkan tokoh perempuan. Dalam Pulang, tokoh perempuan, Nuri, begitu menderita hidup dalam kemiskinan sehingga tewas di perjalanan. Sementara di dalam Lie To Me, ada kesan dendam perempuan dalam kehidupan seks kaum lelaki. Cerpen ini sangat dramatik. Ada tokoh Robby yang mempermainkan perempuan sebagai pelarian. Di sini, penderitaan bukan hanya terjadi pada tokoh perempuan, tetapi juga tokoh lelaki. Sepertinya, Febby melakukan pemberontakan dan kritikan apa yang terjadi terhadap kaum perempuan melalui cerpennya. ”Karena wanita baginya hanya untuk sekali pakai. Itu yang dia pelajari dari mamanya, dari sikap mamanya” begitu tulis Febby (h.94). Terjadi pembelokan karakter perempuan (Mama), yaitu sebagai perempuan jalang. Cerpen ini diakhiri dengan kejutan (suspense). Tokoh perempuan yang dicintai Robby, yaitu Lily (perempuan yang bisa mengubah kehidupan Robby) ternyata perempuan simpanan papa Robby. Bukankah ini suatu pertelingkahan seks dan kelaraan yang luar biasa? Sementara itu, Guri Ridola terkesan lebih pro-feminis dalam cerpen tungalnya Telunjuk Tuhan di Rahim Wilis. Namun, tetap saja kesan kelaraan, kesunyian, ketakutan menjadi unsur utama. Tokoh perempuan (Wilis) digambarkan sebagai perempuan tegar. Namun, ketegaran Wilis ternyata mengakibatkan pertelingkahan seks terlarang. Tokoh Wilis berselingkuh dengan Bayiak, cinta pertamanya sehingga hamil.

Pertelingkahan seks dan kelaraan perempuan juga dapat kita simak dalam cerpen Jeni Fitriasha, yaitu Seseorang yang Keluar dari Perutku. Bahkan dalam cerpen ini, Jeni menghujat lelaki dengan sebutan bajingan. Sedangkan dalam cerpen Kopi Ini Sudah Dingin, Jeni juga mengangkat tokoh perempuan yang kurang dipedulikan suami, tokoh yang dianggap gila, dan memberontak egoisme lelaki.

Penulis Hurhusni Kamil menyuguhkan tentang kodrat perempuan, kebencian, kelaraan, perempuan sempurna, perempuan jalang/biadab, pertelingkahan suami-istri, ketidaksetiaan dan kesetiaan, dan kekuatan perempuan. Suguhan itu dapat kita temukan dalam cerpennya Sepasang Sayap Tita, Surat untuk Andini, dan Kepadamu: Penjual Luka. Ada hal menarik dari cerpen Sepasang Sayap Tita jika kita sandingkan dengan cerpen Hujan Luka karya Cikie Wahab. Hal menarik itu bukan karena sama-sama menggunakan diksi luka. Antara kedua penulis ini, sepertinya menghasil cerpen yang saling berkaitan. Plotnya saling melengkapi, bahkan saling mempengaruhi. Berkemungkinan kedua penulis ini melakukan suatu trik penulisan cerpen yang saling melengkapi satu sama lain (ini hanya perkiraan saya). Kalau itu terjadi, patut juga diteruskan. Lama-kelamaan, bukan tidak mungkin jika digabungkan menjadi novel karya bersama. Dalam Kepadamu: Penjual Luka, Nurhusni memfokuskan bahwa kelaraan perempuan itu diakibatkan oleh lelaki yang tidak bertanggung jawab. Cerpen ini berakhir tragis. Ketika tokoh perempuan tak sanggup lagi menanggung lukanya, mereka bisa berontak dan berbuat di luar sangkaan seperti membunuh lelaki.

Tentang kelaraan perempuan pun tergambar dalam cerpen Niat Mahmud karya Srikartini Widya Ningsih dan Gadis Cantik yang Aku Miliki karya Wari Rahmawati. Kedua cerpen ini berakhir dengan tragis (sad ending). Tokoh perempuannya sama-sama ”dimatikan” dalam suatu kecelakaan lalu lintas. Kelaraan ini sebagai akibat dari perbuatan tokoh lelaki. Cerpen Niat Mahmud, tokoh Hasna mendapat kehormatan. Meskipun tokoh ini tidak bisa hamil seperti tokoh Wilis, tetapi dia tetap perempuan saleha, taat pada suami. Suaminya, Mahmud pun sangat menghormati tokoh Hasna. Buktinya, Mahmud minta izin kepada Hasna untuk menikahi perempuan lain. Tokoh Hasna pun merupakan perempuan yang berpendidikan tinggi. Namun, karena kecemburuannya (kelaraan) itulah yang membawanya pulang ke rumah orang tua. Tokoh Hasna tewas dalam kecelakaan minisbus. Akhirnya, kelaraan tragis tokoh perempuan dalam kedua cerpen tersebut mengakibatkan kelaraan pula bagi tokoh lelaki.

Berdasarkan telaah sederhana di atas, dapat disimpulkan beberapa aspek kedudukan perempuan dalam kumpulan cerpen KHP. Pertama, tokoh perempuan masih dianggap sebagai pemuas nafsu biologis dan lemah. Kedua, ada beberapa cerpen mencoba mengangkat derajat tokoh perempuan, tetapi kurang berani. Buktinya, mereka tetap membunuh tokoh perempuannya. Ketiga, sebagian besar cerpen mengangkat tema tentang pertelingkahan seks dan kelaraan perempuan. Keempat, di balik semua itu, pesan dari cerpen tersebut merupakan suatu kritikan terhadap anggapan negatif terhadap kaum perempuan di dalam kehidupan sehari-hari, baik yang ditimbulkan oleh kehendak perempuan sendiri maupun oleh kaum lelaki. Di akhir telaah sederhana ini, semoga penulis dalam KHP tidak mengalami nasihbkelaraan dan ”kematian” setelah keluar dari Sekolah Menulis Paragraf.

 

 

 

 

/2/

Ada 44 puisi yang ditulis oleh 10 penyair. Delapan di antaranya adalah penyair perempuan. Kumpulan puisi dan cerpen ini menarik untuk dibahas karena beberapa alasan. Pertama, merupakan ”anak sulung”. Kedua, sebagian besar penulisnya adalah kaum hawa. Ketiga, benda berharga ini lahir dari kerinduan, kesunyian, dan airmata. Kelima, rumah tempat berbagi ini tergusur oleh peradaban kota. Pada Catatan 1 ini, saya akan membahas puisi-puisi dalam ”KHP”.

Kerinduan adalah perasaan menginginkan untuk memperoleh sesuatu. Ada kandungan penantian yang membuncah. Sesuatu itu adalah objek tentang apa saja, baik konkret maupun yang abstrak. Munculnya kerinduan merupakan akibat dari olahan pencerapan panca indera melalui proses yang abstrak. Apa yang terkesan menyenangkan dari yang terlihat, terdengar, tercium, terasa/terkecapi, dan teraba—pada umumnya—akan melahirkan kerinduan itu. Tentang penderitaan adalah kesengsaraan atau perasaan sengsara/derita. Penderitaan bisa saja disebabkan oleh kerinduan. Mengejar sesuatu yang kita rindukan, tidak akan lepas dari penderitaan. Kesabaran melewati penderitaan itulah akan mewujudkan keinginan akan sesuatu. Bukankah kita tidak akan pernah menjadi hebat kalau tidak dengan penderitaan yang hebat?

Dalam puisi ”KHP” berjudul Pada Sebuah Paragraf (Srikartini Widya Ningsih), jelas sekali mengimajikan kerinduan tersebut: Kulabuhkan diri/sebagai kata-kata biasa/belum punya makna/belum apa-apa/risauku bersandar hingga bijakmu menjadi sebuah layar/baru dan mengembang,/membawaku bersiao melaju/menjadi penentu/kisah selanjutnya. Dalam puisi ini, dapat kita meresapi betapa kerinduan si penyair akan sesuatu yang disebutnya paragraf yang saya terjemahkan sebagai SMP. Isi puisi ini jelas sekali menyatakan hasrat rindu penyair terhadap keinginannya untuk bersekolah di SMP. Penyair menjelaskan bahwa dirinya seperti kata-kata biasa yang belum bermakna. Melalui proses, memperbarui diri, melaju, berkembang, dan menentukan kisah selanjutnya. Ini suatu pengakuan akan kerinduan yang diperoleh dari SMP. Lalu, jika kita bandingkan dengan puisinya berjudul Kisah Perempuan Peramu Kata, ada suatu kaitan isi, yaitu tentang kerinduan perempuan melalui larik-larik puisinya. Di beranda, perempuan itu pun menunggu/purnama membundar,/Pungguk di hatinya merindu/Ia masih menunggu/purnama mulai mengantuk,/pungguk di hatinya merajuk/.

Lalu, makna kerinduan terus berkelana dalam serakan larik-larik puisi. Kerinduan menjadi meluap. Maknanya menjamah apa dan siapa saja. Penyair Afrianti mengimajikan bahwa kerinduan telah melahirkan penderitaan, kerinduan membangkitkan igauan dan kerisauan. Afrianti mengimajikannya dengan larik: ….Aku pun berjalan meniti windu/memunguti derita rindu yang membusuk oleh racun// Dalam puisinya yang lain, dalam igauku, menitikkan rindu yang redup/melewati diam pada sebuah senja//. Penyair Cahaya Buah Hati menggambarkan kerinduan melalui latar alam, ke-Tuhanan, dan derita dari kerinduan. Cahaya menulis:…Berimbun hujan/Lalu, tersedak di pucuk ketapang/Menyesakkan rindu/Di tangkainya. Di puisi lain, menjadi begitu kuat sebagai alat/cara untuk menghilangkan suatu kesan tertentu: Kuingin menghapusmu dengan segala rindu/di tapak bayang sujud…./Kuingin menghapusmu dengan segala rindu/dengan jejak warna di bawah jendela…. Makna kerinduan pun begitu meluas ketika Cahaya membatasinya pada suatu klimaks. Batasan inilah yang melahirkan penderitaan: Kau pun telah letih menafsir dalam bentuk yang kelu/di antara pucuk-pucuk rindu/kau tinggalkan pelepah waktu yang kaku…. Dan kerinduan itu pun begitu dahsyat mempermainkan perasaan/hati: Ini dongeng mudaku/Rindu tak henti/Menikam hati.

Tidaklah berlebihan kalau saya mengatakan bahwa kerinduan memang sering bertahta di perasaan perempuan. Kerinduan perempuan tentang apa saja. Kerinduan perempuan kepada siapa saja. Ini suatu fenomena bahwa kerinduan memang merupakan karakter perempuan dalam menjalani kehidupannya. Bukankah kerinduan itu merupakan hakikat para kaum hawa? Tampak seorang puan resah menunggu lelakinya pulang, tulis Guri Ridola dalam puisinya. Aku pikir desember teramat rindu untuk kembali/Untuk sekedar bercengkerama pada malam; di setiap…; Berpeluk senyum rindu; Ada secawan rindu di kaki kecil fulan, begitu Refila Yusra mempermainkan rindu dalam lariknya.

Puisi-puisi dalam ”KHP” juga mengangkat penderitaan. Penderitaan merupakan sesuatu hal, peristiwa, kejadian yang menyedihkan. Pengungkapan-pengungkapan penderitaan dalam puisi ini bersifat sangat konkret. Penderitaan Riau dapat kita tangkap kembali dalam Perjalanan Darah karya Agus Yoni PW: Pipa itu mengalir sepanjang jalan, PANJANG!/Dari pembuluh darah dan keringat anak negeri/Mereka dibius tak dapat lari/hanya dapat melihat dan mengenyam erang/itu darahku,/itu keringatku,…. Isu-isu penderitaan negeri kaya minyak ini sudah begitu banyak dinaikkan, tetapi tentu saja dengan nuansa puitis dan keunikan para penyairnya. Begitu banyak permainan bunyi kakofoni dan eufoni yang menggambarkan penderitaan melalui bunyi-bunyi konsonan. Kakofoni tersebut bisa berbentuk (pilihan) kata dan rangkaian kata. Dalam puisi karya Azizah Masdar, dapat kita ambil dekap kabut hitam, penjilat, khianat. Penyair Chamex pula bermain dengan larik dalam bentuk paragraf: ada haus panjang yang kusimpan…; malam; masih saja datang dalam kematian. Guri Ridola menggambarkan derita dengan larik: Sembilan puluh Sembilan sembilu di meja tamu; Bercak darah menyatu merupa jejak di gaun putihnya.

Penderitaan yang diimajikan Jeni Fitriasha berkaitan dengan alam: musim ini adalah kemarau yang tua….dua tangan terbakar menganga…lalu mata kita semakin retak; kau lelah berenang dari satu kesedihan/ke kesedihan yang lain. Dalam puisi Refila Yusra, kesan penderitaan perempuan ditulisnya dengan larik: Merindih sakit pada nafsu yang menghujam…. Kita dengan mudahnya sedekahkan luka; Tanah-tanah bekas luka. Sementara itu, penderitaan dan kehampaan dapat kita tangkap dalam puisi Zurnila Emhar Ch: Mengapa kaugelar sekerat malam/Jika yang kususuri cuma sepi/Mengapa kaugores segaris mimpi/Jika ujungnya hanya ilusi; berkayuh di sampan sajak/yang ngilukan engsel bahuku; Gerimis turun setajam jarum/Makin lama makin deras/Mendesing seperti peluru.

Kalau dikaji bangun struktur puisi secara visual dalam ”KHP”, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan, yaitu diksi, larik atau baris, bait, dan tipografi. Diksi yang mengacu pada lambang (bermakna leksikal) dapat kita lihat pada setiap puisi. Secara semantis, pemahaman makna leksikal ini tidak terlalu merumitkan karena kita bisa merujuknya ke kamus. Diksi yang mengacu pada ungkapan (utterance/indice), yaitu makna seperti pada konteksnya, misal, pada larik tubuhmu menjadi air mata. Pada puisi lain, ada larik Sisa tinta hujan itu. Makna air mata dan tinta dalam larik tersebut tentu berbeda dengan makna air mata secara leksikal. Ungkapan-ungkapan yang dimainkan penyair-penyair muda ini menyelusup dalam bingkai makna kerinduan dan penderitaan. Begitu pula jika kita telisik diksi simbolis yang mereka gunakan. Diksi simbolis yang banyak kita jumpai setelah melayari puisi-puisi tersebut adalah yang berkaitan dengan simbol alam (natural symbol). Misalnya pada larik Kita yang pernah tumbuh di dahan angin/Adalah daun di musim gugur yang berembus ke timur….Diksi yang menggambarkan simbol alam ini pun lebih banyak mengarah kepada kerinduan dan penderitaan. Sementara itu, larik, bait, dan tipografi yang dibentuk penyair tidak memperlihatkan perbedaan yang mencolok daripada yang pernah ada selama ini, baik secara konvensional maupun kontemporer.

Kesan-kesan kerinduan dan penderitaan yang dapat kita tangkap dalam puisi SMP ini tidak hanya bertitik tolak dari kreasi realitas. Malahan, menurut saya, mantan murid-murid yang keluar dari gerai ini lebih banyak berkontemplasi dengan kesadaran batin personal. Pengungkapan yang dilakukannya lebih mengarah kepada gaya tidak langsung/penyugestian. Karena itu, memerlukan interpretasi, kontemplasi, dan pemahaman menyeluruh dari puisi-puisi ini.

Ternyata, kerinduan dan penderitaan itu tidak hanya sampai di sini. Dalam realitasnya, kerinduan dan penderitaan tersebut begitu nyata. Atas nama pembangunan, kemajuan, modernisasi, atau apapun itu, selalu saja menyisakan air mata bagi penghuninya. Begitu juga halnya kenyataan rumah tempat berbagi kehidupan ini. Gerai Ibrahim Sattah—entah dipugar, entah digusur—tetap menyimpan kerinduan dan penderitaan mendalam bagi para penggagas dan penyair yang terlahir di sini. Ah, sepertinya sastra selalu dinomorsekiankan. Sastra dipandang remeh. Mengapa sastra masih saja terkesan eksklusif dalam kehidupan?

Biarlah gerai itu hancur. Namun, semangat sastra yang sudah tertanam di rumah sederhana itu tidak harus pudar. Semangat yang sudah disemai kepada beberapa penyair ini tak perlu mati. Semoga saja para penyair dalam kumpulan puisi dan cerpen ini terus menggeliat—bagai laba-laba yang menjalin, merajut, dan memintal helai-helai benangnya untuk membentuk jaring yang kuat.***

 

*) Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis, sedang belajar di Pascasarjana Prodi Manajemen Pendidikan, Universitas Riau.

 

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s