Karya Sastra dan Latihan Mental

 ’’dulce et utile’’ (Horace)

Sartre dalam bukunya yang berjudul Politics and Literature memberikan catatan-catatan mengenai pementasan Uncle Tom’s Cabin di Amerika Serikat bagian Selatan. Di hadapan beribu-ribu penonton berkulit putih—sekitar tahun 1960-an—Sartre berkata, ‘’Mereka mungkin saja terharu ketika menontonnya, tetapi mereka belum tentu akan memerdekakan budak Negronya sepulang menonton pementasan drama tersebut. Ini disebabkan oleh perbedaan antara dunia pentas (dunia sastra, pen.) dengan dunia nyata. Dunia yang ditonton merupakan sesuatu yang dapat dilupakan dalam kehidupan nyata.’’

Sementara itu, ketika Aristoteles memperkenalkan fungsi chatarsis dalam karya sastra, dalam bukunya The Poetica, para teoretikus menyibukkan dirinya untuk merumuskan atau menterjemahkan istilah tersebut dengan jelas. Pengarang ternama seperti Goethe, misalnya, konon terlepas dari belenggu weltschemerz karena berhasil membuahkan karya kreatifnya dengan tajuk The Sorrows of Werther. Selanjutnya, para penonton drama-tragedi atau pembaca novel juga mengalami perasaan lega. Emosi mereka sudah diberi fokus dalam karya sastra dan lepas pada akhir pengalaman estetisnya sehingga mereka memperoleh ketenangan pikiran (lihar Welek dan Weren).

Tentang apa yang disuarakan oleh Sartre, tidaklah salah. Akan tetapi, mereka yang benar-benar merasuki (memasukkan jiwanya) ke dalam karya sastra akan mengubah peristiwanya menjadi kenyataan. Apa yang dikumandangkan oleh Sartre adalah persoalan etika. Sebagai jajaran filsafat moral, etika yang berdiam pada individu-individu tentulah berbeda. Etika sangat ditentukan oleh sistem nilai budaya manusia. Sebab itulah, Sartre menggunakan perkataan ‘’belum tentu’’ karena ada sebagian karya sastra yang bertindak sebagai mission sacre yang berorientasi pada aspek kebenaran (wahrheit). Berarti pula bahwa karya sastra yang sedang digauli langsung1) akan melahirkan suatu proses pemikiran, termasuk di dalamnya unsur kontemplasi, apresiasi, dan interpretasi. Pada akhirnya, upaya memasuki langsung ke dalam napas karya sastra akan memberikan faedah kepada kita sebagai suatu pelatihan mental (mental of training).

Hal semacam ini terbukti ketika para teoretikus meterjemahkan istilah chatarsis yang diucapkan oleh Aristoteles pada zamannya. Mulai dari abah ini, manusia seperti Goethe, penonton, dan pembaca seolah-olah mengalami kelegaan emosi, bahkan kelegaan di dalam pemikiran. Sebaliknya, bukan tidak mungkin suatu karya sastra dapat membangkitkan emosi seseorang seperti Goethe, penonton, atau pun pembaca. Ketika Siti Nurbaya disinetronkan atau kita baca, semua penonton atau pembaca akan bersikap antipati kepada tokoh antagonis Datuk Maringgih dan pro kepada karakter protogonis Syamsul Bahri. Mengapa hal dan suasana seperti itu dapat terjadi? Di sinilah dapat dibuktikan bahwa karya sastra pun berfungsi membangkitkan emosi atau menghidupkan perasaan.

Masih berkenaan dengan Siti Nurbaya, antagonis Datuk Maringgih dan protogonis Syamsul Bahri menghendaki para penikmatnya agar lebih mengasah objektivitas pemikiran. Kedua karakter tokoh ini menuntut kejernihan bernalar dan kecemerlangan menarik simpulan. Dari aspek inilah, akan terlakar bahwa karya sastra melibatkan kita—sebagai penikmatnya—kepada proses pelatihan mental. Dari kedua tokoh dalam Siti Nurbaya, pikirkanlah tokoh mana yang sebenarnya memiliki sikap nasionalisme dan patriotisme atau zalim maupun serakah? Siapa pula tokoh yang patut divonis sebagai pengkhianat? Siapa pula tokoh yang kehadiran cinta suci?

Hal-hal semacam ini dapat pula terjadi dalam setiap karya sastra. Putu Wijaya dengan Teror-nya, merupakan suatu misal, yang dapat digunakan sebagai pelatihan mental tentang terpaan badai dalam biduk berkeluarga yang menghantam dari golongan bawah hingga golongan atas. Penyair Armin Pane pun dalan Belenggu-nya secara persuasif mengajak kita untuk berlatih berpikir  tentang geliat dunia modern lewat tokoh Tini dan kehidupan  tradisional melalui tokoh Yan. Pelatihan mental lainnya dapat kita ambil dari naratif-deskriptif seperti Atheis-nya Achdiat Kartamihardja, Royan Revolusi dan Ladang Perminus-nya Ramadhan KH, Sang Guru-nya Gerson Poyk, dan masih banyak karya sastra lainnya.

Perlu kita ingat bahwa setiap karya sastra jarang memiliki kesamaan dalam butiran-butiran untuk dijadikan pelatihan mental. Untuk itu, kita dituntut mewarisi kesuperan mengembangkan pola pikiran yang jernih dan tajam. Dengan demikian, penikmat dan peminat karya sastra dapat mengaitkelindankannya sehingga mempunyai satu titik temu pola pikiran dalam karya sastra. Hal ini dapat terjadi karena di dalam karya sastra mencerminkan kehidupan nyata masyarakatnya, walaupun tidak sedikit unsur irasional (absurditas) dalam aliran seperti surealisme. Karena itu, tinjauan sosiologi dapat memberikan sokongan besar terhadap dinamika kritik sastra. Walaupun suatu karya sastra sama-sama mengisahkan hakikat kehidupan dan kebudayaan manusia, tetapi masing-masing memiliki perbedaan dalam memberikan pelatihan mental bagi manusia.

Pelatihan mental yang dimaksud dapat berupa ajaran moral (etika), informasi budaya, dan pesan/amanat. Dalam buku The Evaluation of Literary Text karya Rien T. Segers yang terbit tahun 1978, peneliti Jerman yang bernama Wolfgang Iser mengatakan bahwa sastra harus dinilai tidak hanya berdasarkan bentukan tulisan semata, tetapi juga harus diperhatikan pengaruhnya bagi konsumen. Pendapat serupa pun diutarakan oleh Josephine Donovan, seorang tokoh feminisme Amerika yang menulis tahun 1983 bahwa sastra sesungguhnya adalah bentuk pendidikan yang berperan dalam meningkatkan moral manusia.

Dengan demikian, berdasarkan teori sastra terbaru, dapat dikatakan bahwa begian mendasar dari suatu karya sastra adalah kandungan moral dan etika, di samping parade kekuatan bahasa. Kesimpulan ini diperkuat pula dengan materi pembelajaran di salah satu universitas di Amerika yang membelajarkan mahasiswanya bagaimana cara menilai karya sastra dengan menganalisis muatan moral dalam karya sastra (lihat Medy Loekito dalam Riau Pos, Ahad, 25 Januari 2004).

Kehidupan manusia penuh dengan dogma-dogma. Hidup manusia dikelilingi dengan ajaran-ajaran yang memberikan pengertian terhadap kehidupan. Umar Junus mengatakan bahwa ajaran tentang kehidupan lebih merupakan suatu latihan otak. Selanjutnya dikatakan pula bahwa (karya) sastra merupakan alat penyampaian ajaran tentang kehidupan. Orang yang begitu percaya akan kekuatan ajaran itu akan menyatakan bahwa kemerdekaan dan modernisasi tercapai karena hasil ajaran tadi.

Karya sastra biasanya membawa suatu ajaran tertentu atau dipengaruhi oleh suatu ajaran tertentu pula. Sering kita membaca bahwa seorang penyair, seniman, dan pengarang terpengaruh sufisme, eksistensialisme, positivisme, surealisme, dan sebagainya. Semuanya itu memberikan arah kepada kita bagaimana seseorang menggunakan pemikirannya secara sufi, positif, eksistensi, realistik, dan sebagainya. Tidak (mungkin belum) ada kritikus yang berani menafikan bahwa karya sastra mempunyai tema, amanat, pesan, pokok pikiran, dan beberapa istilah lain yang sengaja dibeda-bedakan dalam unsur intrinsik. Hal semacam itu tidak akan pernah terjadi sebab sastra merupakan media ekspresi. Sebagai media ekspresi, karya sastra boleh dikatakan sebagai ‘’perwakilan’’ dari pengarangnya. Apabila sudah demikian, telah pasti bahwa untuk sampai kepada penemuan tema karya sastra diperlukan pula latihan pemikiran yang mantap. Itulah sebabnya ada pepatah berbunyi ‘’adat bisa karena terbiasa’’ (orang-orang yang berlatih akan memperlihatkan suatu kemajuan menuju keberhasilan).

Terlepas dari nyata atau tidaknya peristiwa yang dituangkan dalam karya sastra, ianya tetap merupakan pelatihan mental. Sekurang-kurangnya kita berpretensi bahwa karya sastra lahir berkat kejituan pemikiran istimewa (intelektual) seorang pengarang/penulis. Ketika membaca cerpen ‘’Mulut’’ atau ‘’Kepala’’ karya Putu Wijaya, kita akan dibawa kepada suatu peristiwa yang sama sekali tidak masuk akal. ‘’Mulut’’ mengisahkan seorang perempuan jelita secara lahir-batin, tetapi tidak memiliki mulut. Di bawah hidungnya, hanya datar menyerupai tembok bangunan. Sementara itu, ‘’Kepala’’ menceritakan seorang pemuda yang tidak memiliki kepala menikahi seorang gadis. Kedua karya sastra berbentuk cerpen itu masing-masing mengambil medium seorang manusia normal yang tidak memiliki mulut dan tidak berkepala sebagai bahan olahan. Adakah ini suatu kenyataan? Namun, latihan pemikiran yang mantap akan menemukan suatu jawaban yang bernas di balik tabir simbolis absurditas dalam karya seperti itu.

Dalam kaitannya dengan masalah ini, saya tertarik dengan pendapat Umar Junus. Katanya, ‘’Sastra sebagai suatu yang mencoba  memberikan arti terhadap kehidupan. Tidak akan mungkin dapat mempengaruhi mekanisme kehidupan. Kalaupun ada, hanya bersifat marginal atau koinsidental’’. Pada hemat saya, Junus terlalu gegabah melontarkan pendapat tersebut. Setelah kita berani mengatakan bahwa karya sastra memberikan arti terhadap kehidupan, lantas pengaruh yang ditimbulkannya hanya dianggap Junus sebagai titik temu atau persamaan yang akan mengarah kepada proses kebetulan. Meskipun ada benarnya, tetapi tidaklah universal. Untuk sebagian, boleh dikatakan demikian, khususnya karya sastra yang hanya didominasi oleh kekuatan imajinasi. Namun, untuk separuhnya lagi, anggapan tersebut terjebak dalam kesalahan total.

Karya sastra tidak semuanya imajinatif. Sebagai contoh nyata, sekebat puisi-puisi Angkatan ’66 yang lahir melalui kelengkang G-30 S / PKI atau geliat politik pada masa itu. Atheis-nya Achdiat Kartamihardja, umpamanya, mengandung pemikiran tentang kehidupan seseorang yang tidak mengakui adanya tuhan. Selain itu, banyak karya sastra sebelum Angkatan ’45 dan Angkatan  ‘45 sendiri yang cukup menggoyahkan mekanisme kehidupan kaum kolonialisme. Ini merupakan suatu realitas kehidupan. Jadi, secara proses latihan mental dan latihan pemikiran yang sesungguhnya, dapat memberikan dorongan terhadap perubahaan mekanisme kehidupan individual dan kelompok tertentu dalam kehidupan sosial. Di sinilah letaknya kedudukan karya sastra yang bermarwah (berprestise) dan bermutu tinggi.

Lantas, di dalam benak kita, muncul tanda tanya besar. Apakah faerah pelatihan mental melalui karya sastra? Berdasarkan pandangan saya, ada beberapa elemen krusial dalam kaitan faedah latihan mental ini. Pertama, melatih pola pikir untuk cepat tanggap terhadap gejala-gejala kehidupan sekitar. Kedua, akan lebih memahami keberadaan science tentang ilmu-ilmu humaniora. Ketiga, agar lebih manusiawi. Keempat, membawa kita kepada proses penilaian (evaluasi) dan penentuan sikap yang lebih arif. Kelima,  memperkaya ide-ide yang belum sempat kita peroleh tentang kehidupan. Keenam, melatih perkembangan imajinasi.

Sejajar dengan beberapa hal penting, kita fragmentasikan sedikit kalimat yang keluar dari mulut Saleh Saad. Beliau berkata, ‘’Salah satu jalan untuk melaksanakan pembinaan mental adalah melalui penghayatan karya sastra.’’ Sastra memberikan pengertian yang dalam tentang manusia, memberikaan interpretasi, dan menilai peristiwa-peristiwa kehidupan. Dengan menghayati karya sastra, berarti memberikan jalan untuk melakukan latihan mental dan latihan pemikiran. Karena itu, yang paling utama adalah adanya karya sastra. Akhirnya, untuk melatih pola pikir kemanusiaan kita, dituntut pula melalui tahap interpretasi yang mantap, tahap kontemplasi yang mapan, dan tahap apresiasi yang luas. Tahap-tahap inilah yang mendukung kelancaran proses pelatihan mental.***

oleh Musa Ismail, Guru Bahasa Indonesia SMAN 3 Bengkalis, Riau

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s