Senyum Malaikat


 

Saban Malam, Malaikat pun Tersenyum (1)

Cerpen Musa Ismail *)

 

Anak bulan mengambang jauh. Nonet!

malam 1;

dosa-dosa berlari ketakutan ditindih setiap dahi yang sujud

pergi meninggalkan hati bagai dikejar para malaikat yang suci

pagi menjelma kembali sebersih salju, seputih kertas, sebening embun

engkau dilahirkan kembali

Ramadan datang lagi. Dia bergumam di depanku.

’’Jangan pernah kau jadikan malam laksana tumpukan batu-batu yang menghenyak kepalamu, Kawan. Malam-malam yang kita lewati saat ini adalah permadani surga yang terhampar, tak terhingga, penuh pesona, mengalir kenikmatan tak terbatas. Kau tahu cahaya, Kawan. Bukankah kau pernah singgah di rumah cahaya beberapa waktu lalu? Tentu saja kau masih ingat. Bukan listrik atau colok yang kau nyalakan setiap malam. Bukan. Bukan harta yang kausimpan di bank. Bukan semuanya. Berlarilah, Kawan. Ini malam pertama. Malam yang menghajar setiap dosa.’’

Aku tertunduk dan berpikir. Tak ada perbuatan sebaik kejujuran dari segala kesalahan.

’’Awak tentu tahu. Bertahun-tahun aku telah menumpuk dosa hingga berkebat-kebat. Serasa tak telap lagi Kawan menanggung tumpukan batu-batu ini. Kebatan-kebatan itu bagai ikatan-ikatan botol arak di setiap meja; seumpama pasung-pasung nafsu pada kelamin jalang; laksana belenggu-belenggu harta yang haram dari hitungan di balik meja; bak seribu tipu yang berserak di atas kertas gelap. Ke mana dan bagaimana bisa aku mengangkut ini semua. Berat sungguh batu-batu yang telah bersarang di hatiku. Kapankah kesucian akan segera mengajakku pergi dengan ketenangan. Ya, aku ingin ketenangan seperti dirimu. Hidupmu begitu tenang. Dari mana kaudapatkan? Aku iri sekali padamu.’’

Ramadan memandangku. Begitu jernih, begitu tenang. Aku merasakannya.

’’Rahim, batu-batu yang bersarang itu akan menjadi semakin berat jika pada malam-malam seperti ini kita kian lupa, Kawan. Dunia ini tak akan mewangi kalau kita masukkan dalam bunga bangkai. Mari kita berdua melangkah ke masjid-masjid itu.’’

Aku tersenyum.

’’Membawa dosa?’’

’’Bukan. Mencuci dosa.’’

malam 2;

engkau merepih ampunan Ilahi

emak dan ayah tersenyum dibawa terbang bersama oleh burung-burung

dalam jiwa yang tenang

Di depan rumahku, Ramadan sudah menunggu. Aku melihat cahaya di wajahnya.

’’Apa yang kaurasakan setelah malam pertama?’’

Di muka pintu, aku diam sejenak.

’’Batu-batu yang membebaniku terasa berkurang. Terasa secebis ketenangan telah menghenyak sehingga serpihan batu-batu itu keluar melewati mata, telinga, hati, dan pikiranku.’’

’’Ini malam kedua. Apa perasaanmu?’’

’’Aku tak tahu. Tetapi, sepertinya Tuhan telah mengampuniku. Petang semalam, kulihat Emak dan Bapakku tersenyum. Senyuman yang indah ibarat terbayang wajah ampunan dari Tuhan. Aku menjadi tenang, betul-betul tenang.’’

 

malam 3;

lalu, Malaikat berseru dan berdoa: ’’Mulailah beramal. Semoga Allah mengampuni dosamu yang telah lalu.’’

’’Emak, hari-hariku kian berarti lewat malam-malam ini. Ternyata, malam bukanlah setan atau sesuatu yang menakutkan. Lewat malam-malam ini, aku merasakan sesuatu yang belum pernah kuperoleh. Ya, dari masjid-masjid.’’

’’Alhamdulillah. Emak merasakan hal yang sama.’’

’’Ini berkat Ramadan kawanku itu, Mak. Batu-batu dan noda hitam di hatiku mulau pecah. Berhamburan.’’

 

malam 4;

pahala membaca empat kitab, engkau dapat

penuh berkat, penuh rahmat

’’Kawan, aku merasakan begitu nikmat menggauli Alquran. Kitab yang kau hadiahkan beberapa tahun silam telah melahirkan bintang-bintang di dalam hati, pikiran, perasaan, dari depan-belakang, dari kiri-kanan, dari atas-bawah, penglihatan, pendengaran, dan seluruh jasatku. Tapi kawan, rasanya aku ingin menangis.’’

Ramadan heran dan meraba-raba arah perkataanku.

’’Kesedihan apa yang engkau derita?’’

’’Orang-orang dekatku masih banyak berada dalam lubang hitam. Mereka belum sanggup melepaskan diri.’’

’’Hatimu semakin halus, Kawan. Semoga engkau meraih rahmat empat kitab,’’ Ramadan mengaminkan apa yang diucapkannya. Aku juga.

 

malam 5 dan 6;

pahala-pahala terus mencintaimu

bagai pahala para alim di Masjidil Haram

di Masjid Nabawi

dan Masjidil Aqsa

pahala-pahala terus mencarimu

macam pahala para orang yang tawaf di Baitul Makmur

batu-batuan dan cadas berseru, bermohon untukmu

 

’’Kawan, tadi malam aku seperti bermimpi. Aku terbawang dibawa ayat-ayat Allah menyusuri suatu kawasan yang tak dapat kujelaskan. Lalu, berhenti di Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Aku salat setiap kali persinggahan di tempat agung itu. Terakhir aku singgah di Baitul Makmur dan tawaf di sana. Kulihat batu cadas berdoa keampunan untukku.’’

’’Pahala-pahala terus mencintaimu,’’ Ramadan tenang sambil berzikir usai Magrib di masjid.

 

malam 7, 8, 9, dan 10

dirimu laksana meraih derajat Nabi Musa a.s. ketika di Bukit Tursina

juga kemenangan dari setiap kezaliman

dari setiap Firaun dan Haman

engkau ibarat Ibrahim a.s. yang setia

Allah memberimu apa saja

ibadahmu seperti ibadah Rasulullah SAW

dirimu adalah jalinan kebaikan dua alam

Beban Rahim bagai debu-debu beterbangan. Pelan-pelan debu-debu itu menjauh dan menghilang. Cahaya terpancar kian cemerlang dari batin Rahim. Senyum dan senyum yang mengembang dari mukanya memancarkan cahaya. Cahaya itu terus merambat dan menembus kegelapan. Semuanya benderang, semuanya cerah. Tak ada suatu pun kekuasaan yang akan mencampakkan derajat Rahim, kecuali hanya Dia yang lebih dekat daripada urat leher.

’’Madan, aku melayang mencapai puncak kenikmatan. Kenikmatan Tuhanmu dan Tuhanku.’’

’’Ibadahmu, Rahim. Jasadmu, batinmu berada dalam keseimbangan dunia-akhirat. Kesetiaanmu  seperti kesetiaan sang pencari Tuhan beribu abad silam. Ibadahmu bagai kesucian sang pemberi rahmat sealam semesta,’’ Ramadan berjanji kepada Rahim akan membuka pintu selebar-lebarnya di surga kelak.

 

Tarawih dan tadarus malam ini menghancurkan batu-batu itu hingga menjadi debu yang beterbangan.

 

malam 11;

engkau bagaikan malam pertama

seperti baru  keluar dari rahim ibunda

engkau adalah bayi yang telanjang

’’Mak, aku dapat janji Tuhan tentang kesucian!’’ Rahim berlari-lari menghampiri Emaknya, mencium tangan Emaknya, dan memeluk Emaknya kuat-kuat.

Pelan-pelan, Emaknya mengusap dan membelai Rahim. Senyum.

 

malam 12, 13, 14, dan 14

Rahim, engkau datang pada kiamat dengan wajah ceria bagaikan purnama penuh di malam mulia. Rahim, engkau datang pada kiamat tanpa keraguan, tanpa rasa takut. Dalam dirimu, hanya ada kebaikan-kebaikan sebagai perisai pembalasan. Para malaikat tersenyum memandang wajahmu yang penuh cahaya. Mereka menjadi saksi-saksi sehingga Allah enggan menghisabmu. Rahim, para malaikat dan para pemikul Arsy dan Kursi menyelimutimu dengan doa, sajadah-sajadah, dan tasbih. Semuanya tersenyum.***

 

*) Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis.

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s