AnuGerah!


AnuGerah!

Cerpen Musa Ismail *)

’’Tuhan telah mengabulkan doaku untuk menjadi setangkai melati. Di atas kelopak kembang itu, berlaksa kata telah kuukir dengan izin zat-Nya. Tetapi, aku kini dibalas lagi dengan anugerah. Tuhan, melati yang telah kautitipkan padaku ini, akankah senantiasa mengembang dan berkembang,’’ dadaku berguncang menahan batuk tengah malam. Tiba-tiba aku terjaga ketika Tuhan membelai diri dalam selimut kelam malam itu.

Satu jam lamanya kucoba mengulangi tidur. Selama 3.600 detik, kata-kata tahajud menendang-nendang pikiran dan hatiku.

’’Tahajud lebih baik daripada menyambung tidurmu,’’ begitu suara-suara berbisik. Agaknya, Jibril sangat dekat denganku. Namun, di sepertiga malam itu, makhluk kelalaian telah menjadikanku tuli sehingga mataku pun buta. Aku berdengkur kembali di peraduan semu. Dingin malam terus membelai. Tahajudku hilang dalam tidur melelahkan.

Malam terus merayap.

’’Isteriku, ke mana isteriku?’’ Kecemasan pada wajahku bagai ditimpa berlaksa kecelakaan. Warga seisi rumah terheran-heran. Isteriku pun terheran-heran. Aku terus memekik kehilangan isteriku tercinta. Dengan napas tersengal-sengal, malam itu, aku seperti beberapa tahun lalu: berlari dalam gelap! Sungguh mengerikan karena setitik cahaya di ujung sana entah bisa kugapai atau tidak. Bibirku kedinginan. Gigiku bergemerak beradu. Sekujur badan, menggigil tak menentu. Mukaku bagai manusia yang sudah meninggal beberapa jam yang lalu. Pucat dan beku.

Azan Subuh menggema.

’’Isteriku!’’ aku tersentak dengan mata tercelik mencari sosok perempuan yang kupanggil. Semua mata melototiku bagai belati. Abah, emak, anak-anak, dan isteriku memandang dengan sedih berbaur aneh. Agaknya, Jibril pun bersedih dan kecewa.

’’Abang bermimpi?’’ isteriku masih sedih.

’’Apa yang terjadi? Apa benar Abang bermimpi? Sepertinya, betul-betul terjadi. Abang tadi berlari ke sekutah tempat mencarimu. Engkau hilang tadi, Isteriku,’’ badanku masih lemas.

’’Tidak, Bang. Sejak tadi, Adik tidur di sisi Abang.’’

Abah, emak, dan anak-anakku kian tak mengerti.

***

Subuh yang masih berbungkus kabut dan lembab itu laksana menyembunyikan rahasia kehidupan di balik malam. Di kursi sambil menunggu pagi, aku merenungi keanehan tadi malam. Pikiranku bagai ditimpa batu-batuan cadas, kerikil, dan pasir. Terpaan mata isteriku masih berada dalam heran berkepanjangan. Dia memandang dengan sedikit cemas. Mungkin memikirkan peristiwa apa sebenarnya terjadi pada suaminya, ya, diriku. Agaknya isteriku berkata bahwa malam terlalu susah untuk diterka dan dikaitkan dengan kehidupan suaminya. Mungkinkah malam terlalu banyak menyimpan rahasia diriku selama menapaki berbagai puncak untuk menjemput suatu kejayaan.

’’Bukankah anugerah yang kudapatkan ini bermula dari perjalanan setiap malam? Saban malam, kucoba bergantung di salah satu sisi sayap Jibril sambil mengharapkan doa dan senyumannya. Ah, mana mungkin. Tadi malam, aku telah kehilangan isteri, tapi bukankah itu hanya mimpi?’’ kedua tanganku mendekap kepala, merunduk, dan agak memejamkan mata.

’’Sudahlah, Bang. Berehat dulu sebelum tiba waktu berangkat kerja,’’ suara isteriku begitu lembut memesona.

Aku bagai si bisu. Berjalan dan menuruti saja sarannya. Dengan lemas, aku menghempaskan diri di ranjang yang sudah sangat rapi. Aku menerawang. Setelah itu, beberapa waktu kemudian, tak tahu lagi apa yang terjadi. Tak ada suara, tak berirama, ibarat tak bernyawa. Aku tercelik setelah bias matahari menerobosi lubang angin bilik kami. Aku harus berangkat kerja!

Di tempat kerja, kekuatan alam kian memadatkan pikiranku tentang makna kehilangan sesuatu yang paling dicintai. Semakin kuat memikirkannya, terasa penyiksaan semakin merajalela. Kehilangan sesuatu yang paling dicintai seumpama kehidupan manusia tanpa hati dan kosong akan kemuliaan. Aku menyadari bahwa kehilangan adalah suatu kekosongan cinta di tengah kemegahan semesta. Aku tak mau kehadiran suatu anugerah pada diriku menjadikan diriku bagai Violet dalam Impian Bunga Kahlil Gibran. Bukankah ketinggian akan mengundang kegundahan badai?

’’Aku pun merasakan apa yang sebenarnya kaualami ini. Sepertinya bukan mimpi, tetapi kehilangan sosok isteri, sesuatu yang paling kita cintai, bukanlah hakikat. Namun, kehilangan waktu sepertiga malam itu merupakan kebenaran yang patut menjadi renungan,’’ Rahim menimpali dengan wajah serius. Sedikit mengulum senyum.

’’Wak, sepertiga malam kemarin, telah mengundang gundah pada jiwaku. Sepertinya aroma setangkai melati melambai-lambai semerbak dalam keremangan jiwa yang dalam,’’ mataku digelayuti ngantuk berat. ’’Tapi, belum dapat kutangkap dan kusedot wewangiannya dengan dalam.’’

’’Itulah anugerah. Begitu banyak di antara kita tak memahami anugerah Tuhan. Ketika kaubiarkan dia berlalu dihembus angin malam, maka yang kaudapatkan hanya kehilangan; kekosongan.’’

Wewangian melati pada malam-malam berikutnya menembusi celah pori-poriku. Masuk mengikuti aliran darah. Kuharapkan terus menyatu dalam roh ke-Tuhananku. Kuharap percung melati itu terus menebar pada diriku, juga kepada orang-orang di sekitarku. Anugerah, memberikan kegembiraan kepada siapa pun.

’’Pagi berikutnya, kutemukan makna kehilangan itu. Aku bukan kehilangan isteri, tetapi aku telah kehilangan tahajud. Aku kehilangan hakikat pengabdian kepada Tuhan. Aku kehilangan hakikat kasih dan cinta Tuhan,’’ muka Rahim membeku dalam bicara jujurnya.

Selama bertahun-tahun dalam hitungan sisa hidupku, kata-kata kurangkai dengan keikhlasan hati. Kini, kata-kata itu berubah menjadi anugerah. Aku yakin bahwa ini adalah hakikat kasih dan cinta dari Tuhan. Sudah begitu banyak Tuhan menganugerahi kekayaannya melalui tangan-tangan alam. Kata-kata yang kurangkai dalam bentuk tulisan itu—sebenarnya—pinjaman dari Tuhan. Melalui diriku, manusia lain, aliran air, gemerisik daun kering, pepohonan, bisik angin, dan dengus napas alam, semua pinjaman tanpa bunga dari Tuhan. Kini, setangkai melati yang akan kuterima dari seseorang, juga dari Tuhan.

’’Jangan sampai berubah kebanggan itu menjadi kekosongan. Jadikan dia sebagai melati, ya, melati di sayap Jibril. Terus membentang dalam wewangian buat semesta. Anugerah bukan suatu kegerahan yang penuh misteri,’’ Rahim masih mengingatkanku di hari-hari berikutnya.

Aku paham. Sesuatu yang tinggi, selalu mudah untuk ditampar angin. Untuk kesekian kalinya, aku terbayang kembali kehancuran Violet yang ingin berubah menjadi mawar. Dalam pikiran yang dalam, aku selalu bermohon pada-Nya: aku tetap ingin menjadi aku, bukan siapa-siapa. Tetapi, seorang lelaki pengembara sambil meminjam dan membawa kata-kata milik Tuhan untuk dirangkai menjadi setangkai melati dipuncak anugerah.***

 

*) Musa Ismail adalah Guru SMAN 3 Bengkalis.

 

 

 

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s