Analisis “Hikayat Batu-Batu”


Tragedi dan Jiwa Pemberontakan (Melayu) Riau

dalam ’’Hikayat Batu-Batu’’

Oleh Musa Ismail *)

’’Hikayat Batu-Batu’’ (Kompas, Maret 2005) merupakan kumpulan cerpen karya Taufik Ikram Jamil yang ketiga, setelah melahirkan ’’Sandiwara Hang Tuah’’ (1997) dan ’’Membaca Hang Jebat’’ (1998). Kepiawaian Taufik Ikram Jamil dalam bersastra tak bisa diragukan lagi secara nasional. Selain beberapa kumpulan cerpen ini, Taufik Ikram Jamil yang lahir di Telukbelitung, Bengkalis, Riau, 19 September 1963 itu, juga sudah memberikan khazanah perpustakaan berbentuk kumpulan puisi ’’tersebab haku melayu’’ (1995), roman ’’Hempasan Gelombang’’ (1999), dan roman ’’Gelombang Sunyi’’. ’’Sandiwara Hang Tuah’’ memperoleh penghargaan dari Yayasan Sagang Harian Riau Pos sebagai karya budaya terbaik pada 1997. ’’Hempasan Gelombang’’ meraih juara harapan dua dalam sayembara penulisan roman Dewan Kesenian Jakarta pada 1998. DKJ juga memberikan penghargaan cerpennya ’’Jumat Pagi Bersama Amuk’’ sebagai Cerpen Utama Indonesia 1998. ’’Membaca Hang Jebat’’ memperoleh penghargaan Penulisan Sastra dari Pusat Bahasa Departeman Pendidikan Nasional, Jakarta pada 1999. Tahun 2002, Tabloid Intermezo memilihnya sebagai seniman/budayawan Riau terbaik. Yayasan Sagang juga memberikan penghargaan serupa pada 2003. Di samping itu, memperoleh anugerah seniman/budayawan Sanggar Seni Kampus Lisendera Dua Terbilang. ’’Hikayat Batu-Batu’’ pula merupakan kumpulan cerpen pilihan yang diterbitkan Harian Kompas. Di dalamnya, memuat 14 cerpen yang mengeksploitasi bebatuan sebagai muatan isinya.

’’Hikayat Batu-Batu’’ lahir dari nasib pedih (Melayu) Riau. Bahkan, daerah ini seperti juga daerah lainnya sempat bergejolak napas kemerdekaan. Bukan hanya ketidakadilan, tetapi masa depan yang tak jelas, menjadi alasan bagi beberapa masyarakat Melayu Riau (mahasiswa) untuk menancapkan tonggak kemerdekaan bagi Propinsi Riau. Sebab, pembangunan sarana pendidikan di daerah ini, sama sekali tak dirancang agar masyarakat Riau bisa terlibat dalam investasi yang telah menguras kekayaan daerah “Lancang Kuning” ini. Muchtar Achmad (ketika masih menjabat Rektor Universitas Riau), melihat perubahan terhadap jati diri (masyarakat) mahasiswa yang tiba-tiba menjadi militan. “Tanpa ada perubahan sistem, sudah jelas mereka frustasi melihat masa depan mereka yakni menganggur. Sebab, mereka tidak mungkin dilibatkan dalam industrialisasi yang berkembang di Riau. Bila aksi mereka mengganggu aktivitas Caltex, mereka tidak merasa rugi karena merasa tak bermanfaat bagi rakyat Riau,” ujar Muchtar. Hal minyak dengan kemelut SDM di atas, hanya salah satu contoh betapa pembangunan di Riau selama ini kurang berpihak pada masyarakat setempat. Contoh lain masih banyak dapat dikemukakan. Hutan Riau yang dieskploitasi besar-besaran sejak awal 70-an. Perkebunan dibuka besar-besaran sejak akhir tahun 1970-an dan kini memiliki lahan lebih dari 600.000 hektar.

Namun, dengan kekayaan sebesar itu, seperti pernah diteliti Prof Dr Mubyarto pada awal 1990-an, penduduk Riau pernah tercatat sebagai
penduduk miskin nomor dua di Sumatera sebelum Bengkulu. Data
menunjukkan terdapat 1.204 desa, di antaranya 652 mendapat bantuan IDT
pada tahun anggaran 1995/1996. Bahkan 443 desa masih mendapatkan
bantuan sebagai desa IDT sampai tahun 1997/ 1998. Kini, 40 persen
penduduk Riau tergolong miskin. Kenyataan-kenyataan getir ini ternyata dapat kita tangkap dalam kumpulan cerpen ‘’Hikayat Batu-Batu’’. Hal ini dikarenakan ’’Sastra adalah anak yang sah, yang lahir dari komunitas dan zamannya’’ (Sarjono, 2001). Lebih lanjut, sastra bukanlah sekedar ekspresi gagasan imajinatif belaka (Mahayana dalam Isdriani, dalam Depdiknas, 2005: 178). Selain itu, sastra merupakan proses pergumulan  yang terjadi di masyarakat. Ia didesak dan dihadirkan atas dasar emosional atau secara rasional dari masyarakatnya (Sumarjo dalam Depdiknas,     2005: 178).

Kehadiran ’’Hikayat Batu-Batu’’, menurut saya, memberikan sesuatu yang berbeda di tengah khazanah geliat sastra Indonesia, khususnya prosa berbentuk cerpen. Batu-batu atau bebatuan yang biasanya merupakan bahan dasar suatu bangunan, ternyata menjelma menjadi sesuatu yang kokoh di tangan kreatif Taufik Ikram Jamil. Sebenarnya, memahami cerpen-cerpen tentang batu di dalam ontologi ini tidaklah begitu sulit. Apalagi jika pembaca memamah dengan benar tulisan pengantar pengarang yang berjudul ’’Kisah di Balik Hikayat Batu-Batu’’, maka pemahaman estetik akan lebih terarah dan tentu juga memudahkan. Dalam prolog tersebut, sebenarnya Taufik Ikram Jamil melukiskan kilas balik kelahiran cerpen-cerpennya tersebut. Ternyata, kisah-kisah yang lahir dari penanya merupakan suatu pengalaman (empiris) dan suatu realitas. Tentu sekali berkelindan dengan kenyataan sosial (social reality) di tengah lingkungan masyarakat (Melayu) Riau. Tentu pula karyanya ini merupakan realisme dalam sastra. Luxemburg dalam Maman S. Mahayana mengatakan, ciri khas realisme adalah keinginan untuk menggambarkan secara serius masalah, hubungan, serta kejadian sehari-hari, dan melukiskan manusia dalam semua kedudukan sosial (2005: 356). Sejalan pula dengan Lukacs yang berpandangan bahwa karya sastra (bentuk kesenian lainnya) haruslah merupakan refleksi atas realitas (2005: 357). Dengan demikian, karya sastra memerlukan pengamatan yang maksimal, tetapi tetap memerlukan polesan rekaan. Polesan-polesan rekaan inilah nantinya akan berkaitan dengan sesuatu yang tidak logis. Namun, bisa digambarkan dengan pencitraan secara perlambangan (simbolisasi). Bentuk kenyataan sosial yang diistilahkan oleh Majalah Realisme (1856 – 1867) sebagai realisme kerakyatan begitu teserlah dalam karya-karya cerpen ini. Kita perhatikan saja prolognya berikut.

’’Sungguh saya terguncang, misalnya, ketika pada awal 90-an, dalam tugas saya sebagai wartawan, melihat kilang minyak yang memproduksi 40 persen dari keperluan BBM di Tanah Air, justru berada bersebelahan dengan satu-satunya desa tertinggal di Dumai. Padahal, jarak di antara keduanya hanya dipisahkan oleh parit selebar kira-kira satu meter dan pagar kawat setinggi dua meter.’’

Menurut saya, keberadaan batu-batu di mata Taufik Ikram Jamil merupakan dua hal yang sangat penting peranannya. Dari sisi sejarah-pengalaman (historis-empiris), pengarang ini mengangkat sisi religius eksistensi batu-batu. Ini terjadi ketika beliau menunaikan haji di awal 1997, di saat berdiri di depan Kabah dan Hajar Aswad. Selain itu, beliau pun terkenang kisah tragis yang menimpa Abrahah yang diserang burung-burung Ababil dengan bebatuan dari neraka. Lantas, kenyataan sejarah inilah yang diangkat dan dimodernisasikan oleh Taufik Ikram Jamil sehingga melahirkan lebih banyak bebatuan baru di dalam cerpen-cerpennya. Masih dalam konteks kesejarahan (sejarah Melayu), Taufik Ikram Jamil terkenang Raja Ahmad, Ayahanda Raja Ali Haji, membawa semangkok pasir (bebatuan halus) dari Mekah, setelah menunaikan haji pada abad ke-19. Secara kebudayaan, lantas pasir itu diletakkan di Masjid Sultan dan selalu dijadikan pijakan pertama bagi anak-anak dalam acara injak bumi paling awal. Taufik Ikram Jamil pun teringat sastra lisan orang tua tentang anak durhaka yang disumpah menjadi batu. Apsanti Djokosujatno berpendapat bahwa cerpen Taufik Ikram Jamil merupakan aktualisasi sebuah tema kuno yang universal (Horison, 2004: 76). Di sisi lain, batu-batu yang ’’dipermainkan’’ pengarang dalam cerpennya merupakan estetika perlambangan dramatik yang sangat mengesankan. Batu-batu itu menjadi hidup, bergerak, melawan, menyerang, dan bahkan mengeluh. Dalam karya sastra/seni, perlambangan-dramatik dapat dikatakan sebagai kenyataan khayalan. Kenyataan khayalan ini bisa berupa rangkaian keunikan, yaitu perumpamaan (simile), ungkapan (idiom), metafora, ketidaklogisan atau keanehan, dan pemakaian fabel. Rangkaian keunikan ini berfungsi membentuk konflik dramatik, yaitu  peristiwa yang klimaks yang membangun unsur instrinsik karya sastra[1]. Batu-batu dengan sengaja dihadirkan pengarang merupakan keberagaman simbol yang berkaitan dengan psikologi ke-Melayu-an Riau.

Tragedi Bangsa

Benar sekali yang dikatakan Maman S. Mahayana bahwa karya sastra Riau membentangkan kisah panjang tentang luka sejarah, penderitaan panjang puak Melayu, marjinalisasi peranannya dalam hubungan pusat-daerah, dan tangis masyarakatnya atas kesewenangan para pendatang-penjajah-penjarah[2]. Pemikiran Mahayana itu tentu saja berhubungan erat dengan emosionalitas masyarakat Riau. Secara psikologi, masyarakat daerah penghasil minyak itu menyandang beban berat dengan sebutan manis sebagai daerah kaya. Beban berat tersebut semakin membatu ketika melihat realitas kerakyatan di bumi Melayu seperti hanyut diangkut kabut musim. Paradoks sekali. Penderitaan, kemiskinan, keterbelakangan, kebodohan, dan pemberontakan merupakan suatu cerminan emosionalitas (Melayu) Riau. Cerpen-cerpen dalam ’’Hikayat Batu-Batu’’, jelas sekali kaitannya dengan analisis yang dilakukan oleh kritikus sastra dan Dosen UI itu. Tentang penderitaan yang tak berujung itu begitu jelas digambarkan pengarang dalam cerpen ’’Menjadi Batu’’.

’’Dalam kerangka yang lebih kecil dan sederhana dapatlah disebutkan bahwa penelitian Jim menggambarkan bagaimana di Desa Niru terdapat berbagai hal yang teramat luar biasa secara ekonomi, tetapi masyarakatnya terbelakang. Suku Montai, begitu orang menamakan suku asal Niru, sebenarnya hampir tergolong primitif, tetapi hidup di tengah ladang minyak yang kaya raya dengan peralatan canggihnya. Belum lagi pembangunan perkebunan besar-besaran yang tak terbayangkan sebelumnya. Suku Montai berdampingan dengan hal-hal yang wah itu, namun jarak di antara keduanya sangat jauh seperti tak dapat diukur lagi secara matrik, tetapi oleh waktu. Sesuatu yang sebenarnya secara umum ’’dialami’’ tidak saja oleh Niru dan suku Montai, tetapi banyak orang lain lagi termasuk aku. Mereka dalam keadaan yang tidak bisa membela diri terlebih lagi tidak punya sebarang pembela sedikit pun’’ (halaman 4).

Cerpen ini mengisahkan kesewenangan para pendatang-penjajah-penjarah, termasuk penguasa (kekuasaan). Menurut bangsawan Inggris, Lord Acton, kekuasaan itu cenderung korup dan kekuasaan yang absolut akan korup secara absolut pula (Horison, 2004: 149). Sekaligus juga mengisahkan ketidakberdayaan masyarakat (Melayu) tempatan terhadap cengkeraman kuku-kuku perubahan dan kuasa yang menakutkan. Gambaran-gambaran ketidakberdayaan ini begitu nyata. Fakta-fakta kenyataan dalam kehidupan dan fakta-fakta konteks cerpen begitu erat saling mendukung. Terdapat dua simbol yang dapat kita tarik di dalam cerpen ’’Menjadi Batu’’. Pertama, merupakan gambaran pengkhianatan dan pendurhakaan terhadap bangsa (sendiri) oleh pendatang-penjajah-penjarah. Kedua, merupakan gambaran ketidakmerdekaan, ketidakberdaulatan, tak mampu berbuat dan membela nasib sendiri, dan tertindas begitu dahsyat. Perlambangan kedua ini tentu dramatik-tragis yang melukiskan ketidakberdayaan—mungkin juga ketidakpedulian karena muak—masyarakat Melayu Riau dan Kepulauan Riau dalam menghadapi kekuasaan (pemerintahan).

’’Konon, batu-batu tersebut adalah wujud dari sekelompok manusia yang tidak mungkin lagi berbuat lain dalam menghadapi gelombang hidup, terutama dalam menolak perintah raja. Sekarang batu-batu itu membesar dan konon pada suatu saat kelak akan memakan lahan yang ada. Setahuku, ada dua hamparan batu-batuan seperti itu di sini. Satu hamparan di pinggir pantai dan satu hamparan di lagi di dalam sebuah goa di hutan lebat’’ (halaman 10).

Tentang gambaran kekalahan dan keterpinggiran masyarakat (Melayu) Riau juga begitu nyata dalam narasi berikut.

’’Tapi Niru dan keluarganya, malahan orang-orang sesukunya tetap seperti dulu, misalnya tetap berteman gulita di malam hari. …Rumah Niru masih terbuat dari kulit kayu. Rumah atau lebih tepat dikatakan pondok itu pun sudah mundur sampai tujuh kali, sehingga makin terpuruk ke dalam hutan karena perkembangan ladang minyak dan perkebunan. Jim juga mengatakan, tanah yang dibelinya seluas dia hektar untuk Niru dan sejumlah orang sebagai tanda mata itu sudah berpindah tangan tanpa ganti rugi sepeser pun dan di atasnya telah berdiri terseregam—demikian besarnya—sebuah hotel’’ (halaman 12-13).

Kelompok tertentu pasti akan mengatakan bahwa masyarakat yang demikian tidak siap menghadapi kemajuan zaman. Modernisasi yang dilukiskan dalam kutipan di atas diwakili oleh simbolisasi ladang minyak dan perkebunan (yang dikelola secara modern dan tentu sekali dengan kekuasaan). Sebagai akibatnya, masyarakat menjadi tak berkutik. Kedaulatan rakyat tercuri dan terdesak ke hutan. Dalam cerpen ini, pengarang ingin memberitahukan bahwa telah terjadi sesuatu kekeliruan fatal dalam aktivitas yang mengatasnamakan pembangunan. Pembangunan kerakyatan dan pembangunan ekonomi kerakyatan menjadi kabur, bahkan hilang makna. Kesewenangan tirani seperti benda gaib. Tirani itu begitu kuat mencengkram bahkan ’’meneror’’. Kisah-kisah yang digambarkan merupakan kepedihan masyarakat (Melayu) Riau. Seperti juga pernah diungkapkan Sutardji Calzoum Bachri dalam puisinya yang berjudul ’’Tanah Airmata’’. Karena kemuakan—sebagai cerminan emosionalitas—akhirnya masyarakat (Melayu) Riau yang diwakili melalui suku Montai lebih memilih untuk membatu, seperti membiarkan saja, berserah diri, lantaklah situ! Begitu pula dengan cerpen ’’Kaki Ayah’’.

Selain ’’Menjadi Batu’’, cerpen ’’Airmata Batu’’ juga melakarkan kisah-kisah airmata, kesedihan dan kepedihan, kesengsaraan, dan kemiskinan di negeri yang kaya raya. Ungkapan ini dijelaskan secara eksplisit oleh pengarang di     halaman 53.

’’Dia yang menunggu suaminya pulang, dia yang anaknya menangis tujuh hari tujuh malam, dan dia yang dinding batu rumahnya meneteskan air—melambangkan tangis orang kampung itu sebagaimana dikatakan Rapia—menjadi gelagapan….’’

Aspek sosiologi dapat ditangkap jelas dalam pemikiran Taufik Ikram Jamil, terutama sekali menyangkut berbagai persoalan keseharian yang melilit masyarakat (Melayu) Riau. Penjarahan, penyerobotan lahan, penipuan, dan teror terhadap kekayaan dan masyarakat terus saja menggerogoti, bahkan hingga kini. Puncak kepedihan yang dialami masyarakat digambarkan begitu tragis oleh Taufik Ikram Jamil dalam cerpen ’’Musim Utara Tak Lagi Berhenti’’. Di perairan Riau, musim Utara merupakan musim deru angin yang kencang. Musim ini mengundang gelombang yang tinggi. Ikan sebagai hasil laut sulit untuk diperoleh. Namun, musim utara dalam cerpen ini tidak lain merupakan ungkapan lain dari pengarang tentang kemelaratan dalam kehidupan masyarakat. Dalam cerpen ini, masyarakat digambarkan menyantap bebatuan karena tidak ada lagi kekayaan di bumi yang kaya ini. Ironis memang. Bahkan, kekayaan alam sampai dijual ke negara Singapura yang mengakibatkan kerusakan lingkungan, kerugian kepada masyarakat. Penjualan kekayaan alam secara ilegal pun sebenarnya merupakan sikap pengkhianatan yang dahsyat. Mari kita simak cuplikan berikut!

’’Dia disambut kekehan sang suami dengan menambahkan,’’Musim utara sekarang tak pernah berhenti lagi dan akan terjadi sepanjang musim….’’

….

Sejak laut kita digali, pasirnya dihantar ke Singapura, ikan sudah semakin menghilang,’’ sambung suaminya. ’’Jangan-jangan, besok atau lusa, pulau yang kita tempati ini pula yang tenggelam ke dalam laut. Kita pun berenanglah, jadi ikan duyung’’ (halaman 67).

Kita tentu masih ingat dengan tragedi sepasang kekasih Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Lalu, kita juga mungkin terkenang tragedi nikah terpaksa dalam ’’Siti Nurbaya’’. Tragedi itu tampak jelas juga dalam cerpen ’’Batu Cinta’’ Taufik Ikram Jamil yang semula berjudul ’’Hari-Hari Tembaga’’. Namun, di tangan kreatifnya, kisah tragedi yang bertema sama dengan Romeo dan Juliet atau Siti Nurbaya ini menjadi agak berbeda. Kalau Romeo dan Juliet berakhir dengan kematian akibat meracun diri, Siti Nurbaya diracuni, cerpen ’’Batu Cinta’’ malahan lebih tragis. Aisyah menjadi batu karena kekasihnya, Katik, meninggal pada kecelakaan kapal dalam perjalanan pulang. Karakter gadis Melayu dalam cerpen ini merupakan cerminan sikap tidak berani berontak terhadap keinginan orang tua yang menjodohkannya dengan. Hanya cerpen inilah yang mengisahkan tentang kasih tak sampai dengan menggunakan perlambangan dramatik ’’batu’’.

Tragedi yang dilukiskan Taufik Ikram Jamil bukan hanya tentang dunia suram (Melayu) Riau. Mantan pemberita Kompas ini juga menyorot agak pedas tentang ketidakbecusan, kecurangan, dunia hitam, dan kemaksiatan yang menggerogoti kehidupan bangsa ini. Cerpen ’’98 Batu’’ merupakan tragedi tersebut. Meskipun berlatar kejadian Mei 1998 (judul dan latar kejadian ada kaitan makna realitas), cerpen ini mengangkat tragedi menjual harga diri (tokoh  Ahwa yang melahirkan 98 batu sebagai akibat kemaksiatan untuk memenangkan proyek). Ini bukan gambaran pelecehan terhadap kaum perempuan, tetapi lebih ke arah pergulatan kejiwaan yang rusak terhadap bangsa ini, antara penguasa dan penjilat. Ahwa mengejan sebanyak 98 batu yang keluar satu per satu. Batu yang dilahirkan Ahwa merupakan simbol bayangan dosa atau maksiat yang pernah dilakukan bersama suaminya.

’’Entah apa yang menggerakkan diriku melihat hasil rontgen perut Ahwa ketika dia tidak ada di rumah. Aduhai, kawan yang membaca surat ini, di dalam rontgen tersebut aku melihat wajahku, aku melihat Acian, aku melihat begitu banyak orang yang akhirnya terpaksa bertekuk lutut di kakiku dan Acian. Aku melihat Menteri Ajid yang begitu tergila-gila dengan tubuhku. Juga Dirjen Bahir, termasuk Kirman dan Widodo. Aku melihat Siah, aku melihat Tuyem, aku melihat Diru, para pembantu rumah tangga kami yang diperkosa suamiku, yang kemudian membunuh mereka untuk menghilangkan jejak perbuatannya. Empat orang pembantu kami hamil karena ulah suamiku, tetapi tak kurang 10 orang pula para pejabat yang pernah meniduriku untuk berbagai keperluanku dan Acian dalam menjalankan lima perusahaan besa’’ (halaman 125).

Kenangan peristiwa Mei 1998 diramu begitu tragis dalam cerpen ini. Kenangan itu silih berganti menghantui bangsa ini. Namun, dalam cerpen ’’Batu 98’’, Taufik Ikram Jamil sepertinya mengajak segenap komponen bangsa ini supaya tidak perlu lagi mengungkit/mengingat masa lalu yang negatif. Mengenang sesuatu yang negatif, menurut saya melalui pemahaman cerpen ini, akan mengakibatkan kehidupan menjadi rapuh bagaikan batu ke-98. Dalam cerpen ini, kerapuhan itu dilambangkan dengan kegagalan menaikkan batu ke-98 untuk membina bangunan. Ketika batu     ke-98 dinaikkan, semuanya runtuh. Nilai positif yang dapat kita tangkap dari cerpen ini adalah kegigihan, perjuangan, dan upaya untuk tetap berhasil dalam berusaha, tidak menyerah pada kegagalan. Kalau cerpen ’’98 Batu’’ mengusik kemaksiatan untuk meraup proyek, maka cerpen ’’Batu 98’’ menyorot penyunatan dana proyek sebagai nasib tragis pembangunan di tanah air yang pernah terjadi hingga kini.

Mercu suar atau lipstik dalam pembangunan di bumi (Melayu) Riau dan Indonesia sering disorot. Laporan-laporan bersifat asal bapak senang (abs) hingga kini masih saja mengotori kertas-kertas putih. Akhirnya, sang pemimpin (penguasa) menjadi buta. Kealpaan ditutupi dengan lukisan-lukisan penuh make up. Ketidakbenaran menjadi tak kelihatan sama sekali karena ditemboki oleh lukisan-lukisan itu. Cerpen ’’Tembok Pak Rambo’’ merupakan cerita tentang yang saya maksudkan.

’’Dahulu kala, demikian kisah si empunya cerita, memang ada seorang raja yang setiap hari merasa amat berbahagia karena melihat rakyatnya sangat sejahtera, padahal yang dilihatnya adalah tembok tebal dengan lukisan-lukisan kesejahteraan duniawi di sekeliling istana. Lukisan-lukisan yang tentulah luar biasa hebatnya itu sengaja dibuat para menteri untuk mengelabui raja, sehingga mereka leluasa memeras rakyat dan korupsi’’ (halaman 142).

Tirani dilambangkan dengan tembok tebal, juga bisa dimaknai dengan kepalsuan, kebohongan, atau hal-hal fiktif belaka. Praktik semacam inilah yang seolah-olah ’’menghalalkan’’ hal-hal haram, korupsi masih terus berkarat. Lukisan-lukisan pun merupakan suatu simbol yang memperkuat tentang kepalsuan yang merajalela di kehidupan bangsa ini. Namun, melalui cerpen ini, pengarang mengajak penikmatnya agar mempertimbangkan, memperjuangkan, dan kembali ke hati nurani. Dalam cerpen ini, hati nurani merupakan lambang kebenaran,  lawan dari tembok tebal dan lukisan-lukisan. ’’Kau tak akan bisa menembok hati nurani’’ (halaman 148). Jelas sekali bahwa cerpen ini menyoroti tragedi kepalsuan, kebohongan, korupsi, kemiskinan, dan kemelaratan yang masih menimpa bangsa dan negeri (Melayu) Riau dan tanah air ini. Sekali lagi, diakhir kisah, pengarang meneriakkan gema persuasif untuk mengikuti hati nurani.

’’Kau tak sadar bahwa kau itu adalah hati nurani Syam, sedangkan bagian dari dirimu yang lain saat ini sedang bertungkus-lumus membuat tembok permintaan Jenderal Rambo?’’ Kemudian Pak Rambo terkekeh-kekeh dan berkata lagi, ’’Memang benar, orang sulit menurut kehendak hati nurani sekaligus membedakannya dengan nafsu. Selamat berjuang wahai nurani’’ (halaman 154).

Lalu, ’’Singapura Suatu Senja’’ merupakan satu-satunya cerpen yang langsung tidak menggunakan kata ’’batu’’. Namun, secara hakikat, cerpen ini tetap mempersoalkan batu (baca pasir, bukankah pasir adalah batu halus?). cerpen ini menyesak tragedi  keserakahan dan pengkhianatan terhadap tanah air dalam bentuk penjualan kekayaan alam (Melayu) Riau seperti pasir, tanah, dan air ke Singapura. Tragedi  ini pernah terjadi juga ketika Singapura masih berstatus Kerajaan Temasik. Nostalgia sejarah dan tragedi pengkhianatan direkam oleh pengarang dalam cerpen ini. Tragedi/luka sejarah yang direkam pengarang, yaitu penjualan Singapura kepada Raffles (halaman 161) dan luka sejarah penandatanganan Traktat London tahun 1824. Kenangan sekaligus luka sejarah ini berulang ketika kekayaan laut Karimun dan Batam diangkut ke negara Singa itu.

Cerpen ’’Tengoklah Mama di Jakarta’’, menurut saya, merupakan perlambangan dari pengkhianatan ibukota negara terhadap daerah-daerah. Sekaligus pelanggaran hak-hak daerah. Keberadaan Mama dalam cerpen ini merupakan bentuk lain dari Jakarta. Pemerintahan berbentuk sentralisasi yang pernah berkarat selama ini adalah cerminan dari pengkhianatan atau pendurhakaan terhadap hak-hak dan kedaulatan rakyat di daerah. Jika selama ini dalam sejarah budaya Melayu, pendurhakaan itu dilakukan oleh anak, tetapi Taufik Ikram Jamil membalikkan fakta itu sehingga membentuk inkonvensional dalam tradisi bercerita di negeri Melayu. Cerpen ini bukan mengisahkan pendurhakaan oleh anak, tetapi pendurhakaan yang dilakukan orang tua (ibu) terhadap anaknya. Daerah-daerah (dilambangkan dengan anak-anak) selama ini hanya bisa memberikan penghasilannya (kekayaannya) kepada Mama (Ibukota negara). Tragedi ketidakadilan dan kekecewaan itu pun bermunculan.

’’Ya, akan aku dengarkan bagaimana engkau bercerita tentang mama, bagaimana kalian tiba-tiba saja, alih-alih saja menyebut orang itu sebagai mama. Dalam usia yang muda, engkau bertungkus-lumus bekerja dan bekerja, lalu menyerahkan semua yang kaudapati pada mama, tak lain sebagai tanda cinta dalam kebersamaan. Tetapi apa yang kaudapat kemudian adalah penghinaan. Kauhanya bisa memberi, tetapi tidak menerima bahkan untuk keperluanmu yang paling dasar dan telah pula kaukemukakan sekalipun. Sekolah bagimu adalah mimpi, berterima kasih padamu adalah untaian kealpaan,’’ kata Malam bertubi-tubi’’ (halaman 186).

Itu merupakan cerminan tragedi pengkhianatan pemerintah pusat terhadap daerah. Dalam cerpen ini, disimbolkan Mama secara bertahap berubah wujud menjadi batu seperti dalam kisah pendurhakaan anak terhadap ibunya, Si Malin Kundang. Akibat ketidakadilan itu, muncul gerakan emosionalitas yang tinggi sehingga melahirkan maki-hamun terhadap pusat pemerintahan (kekuasaan). Tentang tragedi (Melayu) Riau masih terus menggema dalam cerpen terakhir ’’Batu Menjadi’’.

’’Daerah kami menunggu takdir buruk; inilah sesuatu yang pasti, lalu mengapa masih ada ketakutan dalam menghadapi kepastian?’’ (halaman 190). Lalu, pernyataan ini diulangi lagi. ’’Ya, Daerah kami menunggu takdir buruk; inilah sesuatu yang pasti, lalu mengapa masih ada ketakutan dalam menghadapi kepastian?’’ (halaman 198). Tragedi yang lebih pedih itu adalah tidak memiliki bagian dari harta sendiri seperti kutipan yang keluar dari mulut tokoh Atan (orang Melayu) Riau dalam cerpen tersebut.

’’Batu belah batu bertangkup

Telan kami sekali tangkup

Kami kempunan harta negeri’’ (halaman 202).

Sejalan dengan pemikiran-pemikiran yang ditumpahkan Taufik Ikram Jamil dalam ‘’Hikaya Batu-Batu’’, menurut Alfitra Salam, Ahli Peneliti Utama LIPI, banyak hal yang membuat (kami) masyarakat Riau gelisah. Pertama, persoalan “redefinisi” kemandirian kultural masyarakat Melayu Riau perlu mendapat legitimasi dan klarifikasi, sehingga masyarakat Melayu Riau kembali mendapatkan rasa percaya dirinya. Rasa percaya diri itu penting untuk membangun suasana yang kondusif dalam bekerja dan berkarya. Suasana yang kondusif membangun negara berbasis multikulturalisme. Kedua, secara ekonomi masyarakat Riau semakin sadar bahwa selama ini ia hanya menjadi “sapi perah” negara (khususnya Orde Baru). Kristalisasi kesadaran tersebut selayaknya mendapat respon posisif karena kalau tidak, berpotensi menjadi bola liar yang tidak dapat dikendalikan. Hingga hari ini kekayaan Riau hampir tidak dinikmati oleh masyarakat Riau itu sendiri. Bukan orang Riau tidak mau berbagi (toh selama ini sudah habis-habisan), tetapi janganlah sumber Bumi Melayu hanya dinikmati negara belaka, dan orang Riau sendiri hanya menjadi penonton. Di bumi yang gemah ripah, lebih dari 40 persen masyarakat Melayu hidup di bawah garis kemiskinan yang parah di ruas-ruas desa yang tertinggal dan terpencil. Perlu ada kebijakan otonomi yang bersifat khusus dalam menangani persoalan tersebut. Ketiga, secara kesejarahan, sosial, dan politik, kultur Melayu dapat dijadikan basis bagi kemandirian yang fleksibel. Dengan itu, sangat mungkin masyarakat Melayu berkembang dan dikembangkan sebagai sebuah model berdasarkan adat istiadatnya yang khas Melayu nan religius. Posisi model tersebut dijadikan sesuatu yang terintegrasi bagi NKRI. Maksudnya, dalam posisi itu pun setiap daerah berhak memiliki kemandiriannya sendiri-sendiri sesuai dengan karakter lokalnya masing-masing. Dengan demikian, keberadaan NKRI sebagai zamrud khatulistiwa, ratna mutu manikam, bukan sekedar mitos, tetapi sebuah kenyataan.  Keempat, dalam perspektif sejarah, tidak ada salahnya memberi kesempatan kepada masyarakat yang memiliki aspirasi, yang telah lama terpendam karena kezaliman rezim terdahulu, sehingga aspirasi masyarakat Riau mendapat dukungan yang luas untuk mengembangkan dirinya sendiri, sesuai dengan norma-norma dan adat-istiadat kulturalnya (Riau Today, 11 Agustus 2007).

Jiwa Pemberontakan

Lalu, cerpen ’’Lemparan Batu-Batu’’ memberikan deskripsi emosionalitas yang agak lain. Cerpen ini masih mengenang sejarah. Hang Jebat, meskipun dalam cerpen ini hanya nama jalan, tetapi bagi saya lebih melambangkan suatu sikap pemberontakan. Jika cerpen ’’Menjadi Batu’’ memaparkan ketidakberdayaan (Melayu) Riau, tetapi ’’Lemparan Batu-Batu’’ seolah lebih persuasif ke jiwa pemberontakan, agar tidak bersikap menjadi batu, membatu, atau mendiamkan diri. Sikap ajakan pemberontakan atau amukan itu tercermin dari kalimat ’’Sekali ini ia bahkan siap bersabung nyawa’’ (halaman 32). Cerpen ini pun masih mempertentangan konflik antara masyarakat dan penguasa. Tokoh diaan yang digunakan sebagai sudut pandang (poin of view) dalam cerpen ini diteror dengan lemparan bebatuan.  Gambaran sikap pemberontakan itu dilukiskan dengan cara memegang prinsip hidup yang jelas, bukan sebagai pengkhianat bagi masyarakat seperti yang digambarkan tokoh Datuk Madjid (tetua kampung) dalam cerpen ’’Airmata Batu’’. Hanya dengan berprinsip sebagai batu, akhirnya teror-teror yang dilakukan ternyata kalah. Di akhir kisah cerpen ’’Lemparan Batu-Batu’’ mengisahkan bahwa tokoh utama terlindung dari upaya pembunuhan. Perlindungan itu justru dilakukan oleh batu-batu (sebagai simbol kebenaran prinsip) yang selama ini ia pertahankan.  Cerpen ’’Airmata Batu’’ lebih terang-terangan mengarahkan jiwa pemberontakan itu, yaitu berontak memperjuangkan hak.

’’Datuk pikir, dengan penculikan Bang Toha, kami semua akan menjadi kerbau yang ditusuk hidungnya? Tidak Tuk, tidak. Datuk keliru. Justru kejadian ini semakin mengekalkan hati kami untuk melawan, melawan. Tak akan kami sia-siakan perjuangan Bang Toha, perjuangan kami selama ini—perjuangan mempertahankan hak. Ya, kalau tak kami siapa lagi?’’ timpal Rapian berapi-api’’ (halaman 54).

Kisah jiwa-jiwa pemberontak berlanjut dalam cerpen ’’Batu yang Menunggu’’. Peranan batu-batu dalam sejarah seperti disebutkan pengarangnya dalam prolog begitu terang dalam cerpen ini. Jika kita kaji dengan teliti, ada beberapa kesimpulan menarik dari cerpen ini. Pertama, batu sebagai senjata untuk memerangi kebatilan. Kedua, masyarakat/segolongan masyarakat (kecil) yang tidak diajak berperan dalam perjuangan/pembangunan. Ketiga, masyarakat/segolongan masyarakat yang tidak berinisiatif/hanya menunggu kesempatan. Kisah dalam cerpen ini menjadi ’’menyeramkan’’ dan lebih hidup karena dilatarbelakangi situasi demonstrasi semasa pemerintahan Presiden Soeharto. Yang paling penting, bahwa hakikat batu adalah pemberontak. Batu merupakan lambang pemberontak. Kisah pemberontakan dalam cerpen ini merupakan pemberontakan masyarakat di beberapa daerah karena diberlakukan dengan tidak adil oleh Jakarta sebagai pusat pemerintahan.

’’Hakikat batu adalah penentang, sehingga setiap pertentangan adalah hidangan utama batu-batu. Sebagai penyangga, batu juga adalah penentang, setidak-tidaknya dalam pemahaman bangunan yang disangga, batu menentang bangunan tersebut melorot ke bawah tanah’’ (halaman 90).

’’Batu-batu itu menuju Jakarta dan akan menghantam pusat-pusat kekuasaan kalau Presiden Soeharto tidak mundur juga’’ (111).

’’H’’ sebagai Simbol Kemarahan Melayu

Dalam catatan saya, ada beberapa diksi dalam kalimat-kalimat yang ditulis Taufik Ikram Jamil yang dengan sengajar menggunakan huruf ’’h’’ sebagai tambahan. Tambahan huruf ’’h’’ pada kata-kata tertentu itu memberikan kesan emosionalitas tersendiri dalam budaya Melayu. Untuk lebih jelas, saya kutip beberapa kata tersebut.

’’Menarik napas, ia meng-helap peluh yang meleleh di leher dan dadanya (halaman 29). Kepala hotak mereka (halaman 46). Di hujung langit, di halunan sampan (halaman 73). Bapak kepala hengkau (halaman 100). Keparat, diam kau!’’ humpat-ku sengit, ditambah maki-hamun dan sumpah seranah yang begitu saja berderai dari moncungnku (halaman 141). Hanjing betul!’’ dia berteriak (halaman 187).

Tentang peranan penambahan huruf ’’h’’ pada kata tertentu, secara langsung dapat dipahami dari cerpen ’’Air Mata Batu’’.

’’Jika sudah sampai begitu perkataan suaminya, dia tahu bagaimana lelaki itu sedang mengumpulkan kemarahannya. Kata anjing yang bertambah bunyi ’’h’’ juga pada otak, sudah menunjukkan bagaimana kemarahan tersebut tinggal meledak….’’ (halaman 46).

Sebenarnya, Taufik Ikram Jamil bukan hanya dalam karya prosanya menggunakan kata dengan tambahan bunyi ‘’h’’. Dalam kumpulan puisinya ‘’tersebab haku melayu’’ pun, beliau banyak menggunakannya. Teeuw juga berpendapat bahwa penggunaan bunyi ‘’h’’ dipakai dengan sengaja untuk melahirkan kemarahan dan emosi yang kuat (dalam Taufik Ikram Jamil, 1995:35). Kita tentu bisa membandingkan aspek emosionalitas Melayu antara kata ’’anjing’’ dan kata ’’hanjing’’, ’’otak’’ dan ’’hotak’’, ’’engkau’’ dan ’’hengkau’’. Ada kemarahan yang meledak-ledak, membuncah, mendidih di dada dan berpotensi menjadi ‘’amuk’’ (puncak kemarahan yang berupa tindakan perlawanan/berontak). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa cerpen-cerpen dalam ’’Hikayat Batu-Batu’’ ini merupakan kisah-kisah tragedi di dunia (Melayu) Riau. Tragedi-tragedi yang terjadi akibat dari kerakahan, ketidakadilan, dan kekuasaan itu bisa melahirkan sikap-sikap pemberontakan.***

Musa Ismail adalah guru SMAN 3 Bengkalis, juga penulis Riau. Hp 081365781427

Bahan Bacaan

Depdiknas. 2004. Lomba Mengulas Karya Sastra 2003: 23 Naskah Terbaik. Jakarta: Depdiknas

_______. 2005. 25 Naskah Terbaik: Lomba Mengulas Karya Sastra 2004. Jakarta: Depdiknas

Ismail, Musa. 2007. Membela Marwah Melayu. Pekanbaru: UIR Press dan BKKI

Ismail, Taufik, dkk. 2004. Horison Esai Indonesia Kitab 2. Jakarta: Majalah Sastra Horison

Jamil, Taufik Ikram. 1995. tersebab haku melayu. Pekanbaru: Yayasan Membaca

_______.2005. Hikayat Batu-Batu. Jakarta: Kompas

Mahayana, Maman S. 2005. 9 Jawaban Sastra Indonesia Sebuah Orientasi Kritik. Jakarta: Bening

Riau Today, 11 Agustus 2007

Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang


[1] Ismail, Musa. 2007. Membela Marwah Melayu. Pekanbaru: UIR Press dan BKKI, halaman 142

[2] Ibid, halaman 146

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s