Musa Ismail, Guru SMAN 3 Bengkalis, Penerima Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan

’’Ingin Memuliakan dan Mengembangkan Profesi Guru’’

Menulis untuk memperoleh anugerah? Pada mulanya, tidak. Namun, mimpi itu tiba-tiba muncul. Kemudian, anugerah yang diimpikan itu pun menjadi suatu kenyataan. Dalam melaksanakan profesinya sehari-hari sebagai Guru SMAN 3 Bengkalis, akhirnya salah satu buku kumpulan cerpen Musa Ismail berjudul ’’Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut’’, pada 2010 ini berhasil terpilih sebagai penerima Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan.

’’Alhamdulillah, mimpi itu menjadi kenyataan,’’ katanya. Proses menulis sehingga menjadi buku pun pada mulanya tidak terpikirkan. Yang paling terpenting, kata Guru Berprestasi Tingkat SMA se-Provinsi Riau tahun 2006 ini, menulis terus dan terus menulis. Mungkin karena menulis terus dan terus menulis itulah, akhirnya Allah memperhatikan dengan memberikan cobaan dan karunia yang lebih kepadanya. ’’Tetapi dibalik semuanya itu, niat saya menulis ingin memuliakan dan mengembangkan profesi guru. Profesi guru itu bukan cuma pengajar dan pendidik, tetapi juga penulis. Karena itu, guru masa depan adalah guru yang penulis,’’ ungkapnya sambil menyayangkan tentang pendapat bahwa menulis itu suatu bakat. ’’Menulis bukan bakat, tetapi latihan, latihan, latihan, dan kesabaran. Kesabaran itulah yang paling penting dalam latihan menulis. Kesabaran itu pula yang sangat penting dalam profesi sebagai guru,’’ tambahnya dengan yakin.

Kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut karya Musa Ismail terdiri atas 17 cerpen (Seligi Press, Pekanbaru, Oktober 2009). Kisah-kisah yang dibentangkan dalam buku tersebut pada umumnya merupakan pengalaman realistik dan pengendapan batin. Konflik-konflik yang ditampilkan penuh dengan nuansa ke-Melayu-an yang menjalar hingga sisi dunia universal. Kemanusiaan, ketuhanan, kebudayaan, magistik, budi pekerti, demokrasi, kepemimpinan, historis, dan sebagainya merupakan aspek kontens yang dapat diambil dalam buku kumpulan cerpen tersebut. Hampir semua isi dalam kisah yang dituangkannya bertolak dari faktor empiris selama menggeluti profesi sebagai guru di beberapa tempat. Hasil pengalaman itulah diteroka sehingga melahirkan dunia tersendiri dalam bentuk prosa rekaan.

Musa Ismail menyadari betul bahwa dalam menulis, dia tidak secepat para penulis lain. Untuk merampungkan satu cerpen, rata-rata memerlukan waktu 1 – 2 minggu. Bahkan, ide yang muncul bisa mengendap sampai setengah tahun untuk mengejan satu cerpen. Namun, satu hal yang paling penting, yaitu kedisiplinan. Menurutnya, karena menulis merupakan latihan dan kesabaran, maka memerlukan disiplin yang kuat. ’’Boleh dikatakan saya menulis setiap malam. Mimpi minimal saya yang lain adalah mengejan dan melahirkan satu naskah buku setiap tahun. Diterbitkan atau tidak, itu urusan nomor berikutnya. Karena itu, minimal setiap malam saya harus menghasilkan satu halaman. Hitunglah dalam setahun,’’ kata penulis novel Tangisan Batang Pudu dan Lautan Rindu ini.

Apa yang ingin dicapai dari penulisan buku ini?

’’Tadi sudah saya katakan. Keinginan terbesar saya adalah memuliakan dan mengembangkan profesi guru. Karena itu, saya senantiasa memaparkan diri saya sebagai guru, di bawah tulisan yang terbit di media massa. Guru bukan hanya bisa berbual di dalam kelas, tetapi juga harus mampu menuliskan apa yang selalu dibualnya itu. Terserah dalam bentuk apa pun tulisan tersebut. Dalam pengusulan kenaikan pangkat, salah satu unsur yang dinilai adalah pengembangan profesi. Salah satu aspek yang dinilai, yaitu karya tulis. Karena itu, meskipun tidak terlibat, saya juga merasa terpukul ketika sekitar 1.900 guru di Riau terjebak dalam kenaikan pangkat palsu beberapa waktu lalu. Itu terjadi karena guru tak mau dan merasa tak mampu untuk menulis,’’ katanya sangat menyesalkan. ’’Padahal, semua orang bisa menulis. Tidak akan pernah ada kegagalan kalau kita tidak pernah berhenti untuk melakukannya.’’

Harimau mati meninggalkan belang. Gajah mati meninggalkan gading. Manusia mati meninggalkan nama. Setiap manusia yang meninggal, katanya, seharusnya bukan hanya meninggalkan nama, tetapi karya. Karya-karya yang ditinggalkan dalam bentuk penulisan dan dibukukan bernilai sangat penting. Khazanah ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, dan seluruh sisi kehidupan akan ’’terabadikan’’ dalam lingkup sejarah zaman masa itu. Bukankah kita tidak akan pernah mengenal Alquran jika tidak dipublikasikan dalam bentuk penulisan? Secara cergas, mari kita gesa tradisi tulisan di bumi nusantara ini agar tidak lagi rabun membaca dan tidak lagi lumpuh menulis.

Selain kumpulan cerpen tersebut, karya-karya Musa Ismail yang lain, yaitu kumpulan cerpen Sebuah Kesaksian (Yayasan Pusaka Riau, 2002), kumpulan esai sastra Membela Marwah Melayu (BKKI dan UIR Press, 2007), novel nominator Ganti Award Tangisan Batang Pudu (Gurindam Press, 2008), kumpulan cerpen Hikayat Kampung Asap (Seligi Press, 2010), dan novel Lautan Rindu (Mujahid Press, 2010). Tahun 2005, novelnya Cinta, Che’ Sera-Sera meraih Juara Harapan di Pusat Perbukuan Depdiknas (katanya mau diterbitkan, tetapi tidak tahu apakah sudah diterbitkan atau belum). Selain itu, sekitar 100 tulisannya berupa artikel/opini dan esai sastra juga sering dimuat di beberapa media cetak.

Mengapa berminat dengan sastra? Saya sangat membantah kalau dikatakan wajar saya menulis sastra karena latar belakang pendidikan saya adalah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Sama halnya, saya sering membantah siapa pun kalau ada orang lain atau kawan saya yang mengatakan wajar saya bisa menulis karena latar belakang pendidikan saya itu. Sekali lagi, menulis itu adalah latihan dan kesabaran. Menulis itu sama halnya dengan naik sepeda. Hanya perlu latihan dan kesabaran, bukan bakat. Karena itu, meminati sesuatu bukan berarti harus memahami sesuatu itu. Jika kita meminati sesuatu, gauli saja dengan ikhlas. Maka, kita akan memperoleh kenikmatan luar biasa dari sesuatu yang kita minati itu dengan keikhlasan. Saya berminat dengan dunia sastra karena sastra memiliki keunikan tentang nilai-nilai kehidupan yang kita jalani ini. Banyak orang beranggapan bahwa dunia sastra adalah dunia penghayal, dunia pemimpi. Tetapi seharusnya mereka sadar bahwa justru ada hayalan atau mimpi itulah, dunia ini memiliki berbagai kenyataan. Karena berhayal dan bermimpi bisa terbang, maka lahirlah kenyataan pesawat terbang dan sejenisnya. Saya yakin bahwa pada mulanya adalah khayalan (imajinasi), kemudian baru lahir kenyataan (fakta).

Bagi Musa Ismail, terpilihnya Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut sebagai penerima Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan 2010, memiliki kebanggaan tersendiri, yaitu kebanggan profesi. Namun demikian, lanjutnya, anugerah ini sekaligus merupakan pemecut untuk saya dan siapa saja yang memimpikannya. Tentu saja merupakan motivasi bagi dirinya untuk terus menulis dan menulis terus. ’’Saya ingin terus menulis sebelum sampai ke batas,’’ imbuhnya.

Hingga kini, diakuinya, masih ada saja tulisan-tulisannya tidak diterbitkan oleh redaktur di media massa. Bagi dirinya, itu sudah biasa seperti sarapan pagi sambil minum kopi. Dalam hal ini, putus asa itu sudah dihapusnya dari pemikiran. Dengan demikian, tulisan-tulisan baru akan terus bermunculan untuk dikirim kembali ke media massa sampai diterbitkan. Bukankah ujian terbesar para penulis adalah ditolak atau tidak diterbitkan?

Musa Ismail ternyata guru dan penulis. Selain bertugas sebagai guru di SMAN 3 Bengkalis, dia juga menjadi pengajar di STKIP Bengkalis. Di tengah kesibukannya itu, bersama beberapa kawan (Drs. Baharuddin, Arislan, S.Pd., dan Herni, M.Pd.), dia juga diberikan kepercayaan sebagai instruktur karya tulis dan pengembangan kurikulum untuk membimbing para guru di Kabupaten Bengkalis. Di tempatnya bertugas, Musa Ismail senantiasa memberikan bimbingan dan motivasi kepada para siswanya untuk menulis dan mengirimkannya ke media massa. ’’Alhamdulillah, sejak tahun 2004, karya siswa SMAN 3 Bengkalis senantiasa menghiasi halaman Xpressi dan ada yang berhasil menembus halaman Budaya Riau Pos. Mudah-mudahan, kemampuan menulis para siswa saya bisa melebihi kemampuan menulis gurunya. Semoga suatu saat, Sekolah Menulis tumbuh kembang di negeri taman para penulis ini.’’***

Profil Musa Ismail

Musa Ismail lahir di Pulau Buru Karimun, Kepulauan Riau, 14 Maret 1971. Menamatkan SD di kampung halaman, SMPN 3 Tanjung Balai Karimun, SPGN Tanjungpinang (1990), dan Universitas Riau, FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1994) Aktif menulis sejak duduk di bangku kuliah. Tulisannya berupa cerpen, esei    sastra/budaya, dan artikel/opini tersebar  di  Harian Riau Pos, Majalah Budaya Sagang, Majalah Sastra Berdaulat, Majalah Sastra  Budaya Tepak, Harian Riau Mandiri, Harian Pagi, Riau Tribune,  Harian Batam Pos, Harian Sijori Mandiri, dan Bulletin Annida (Jakarta). Kumpulan cerpen perdananya berjudul ‘’Sebuah Kesaksian’’ diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Riau  pada Oktober 2002. Pernah berkhidmat sebagai wartawan Harian Riau Pos. Kini, dia mengabdi sebagai Guru SMA Negeri 3 Bengkalis. Sebelumnya, pernah bertugas sebagai Guru SMPN 1 dan SMPN 2 Merbau. Cerpen dan esainya terangkum dalam beberapa ontologi Anugerah Sagang 2000 dan antologi Cerpen pilihan Harian Pagi Riau Pos 2002 (Terbang Malam), (Magi dari Timur, 2003), (Satu Abad Cerpen Riau, 2004), (Tafsir Luka, 2005), (Jalan Pulang, 2006), dan (Keranda Jenazah Ayah, 2007). Pada tahun 2003, memperoleh Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Umum dengan judul ‘’Kemerdekaan’’ yang ditaja oleh Majalah Budaya dan Sastra Tepak. Tahun 2005, esainya yang berjudul ‘’Novel Upacara Korrie Layun Rampan: Deskripsi Belenggu Adat: Spiritisme-Mitos dan Kemerdekaan’’ memperoleh penghargaan urutan 6 dari 20 besar dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang ditaja oleh Dirjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas. Mengikuti kegiatan temu sastra seperti Temu Sastra Penyair se-Sumatera 2004 dan Apresiasi Sastra Daerah di Cipayung, Jawa Barat. Tahun 2006, novelnya yang berjudul ‘’Cinta, Che Sera Sera’’ memperoleh Juara Harapan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan yang ditaja oleh Pusat Perbukuan, Depdiknas dan memperoleh predikat Juara I Guru Berprestasi se-Provinsi Riau untuk Tingkat SMA/sederajat. Tahun 2007, cerpennya Hikayat Kampung Asap meraih Juara Harapan di Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR).  Pada tahun yang sama juga, terbit kumpulan esainya berjudul ’’Membela Marwah Melayu’’ (UIR Press dan BKKI). Tahun 2008, memperoleh penghargaan sebagai Guru Berprestasi dalam Menulis dari PGRI Provinsi Riau. Juara I Lomba Baca Puisi Kabupaten Bengkalis 2008. Novelnya berjudul ’’Tangisan Batang Pudu’’ (Gurindam Press, 2008) memperoleh Nominator Ganti Award 2008. Tahun 2009, terbit kumpulan cerpennya yang kedua ’’Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut (Seligi Press, Oktober 2009). Januari 2010 terbit kumpulan cerpennya ’’Hikayat Kampung Asap’’ (Seligi Press, Pekanbaru). April 2010, terbit novelnya ’’Lautan Rindu’’ (Mujahid Press, Bandung). Isteri: Isnawati, S.Pd., Kini telah dikaruniai 3 putra: M. Iqbal Al-Raziq, M. Syazily Al-Raziq, dan M. Qushairie Assiddiqqie.Ingin terus menulis sebelum sampai ke batas.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s