Bulan Bahasa, Teladan Berbahasa Indonesia


Bulan Bahasa, Teladan Berbahasa Indonesia?

Oleh Musa Ismail *)

Oktober merupakan Bulan Bahasa. Ungkapan Bulan Bahasa, jika diterjemahkan secara semantik, dapatlah diterjemahkan menjadi beberapa makna. Pertama, suatu proses nostalgia untuk mengenang dicantumkannya bahasa Indonesia di dalam Sumpah Pemuda pada 1928, sekitar 82 tahun silam. Suatu proses nostalgia sejarah yang teramat penting untuk Indonesia. Kedua, suatu ungkapan (idiom) sebagian; yang bisa saja diterjemahkan sebagai suatu kondisi akan terjadinya berbagai aktivitas yang berkaitkelindan dengan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia. Ketiga, bisa saja dimaknakan sebagai suatu keindahan, pencerahan, dan semarak terhadap bahasa Indonesia.

Terlepas dari apa pun maknanya, kondisi bahasa Indonesia masa kini bukan hanya perlu mendapat perhatian penting dari berbagai pihak. Tetapi juga, perlu upaya nyata ke arah pembinaan dan pengembangan agar kebanggaan dan identitas nusantara ini bukan cuma hidup cermerlang dalam rumah-rumah sastra: puisi dan prosa. Akan tetapi, perlu upaya agar alat komunikasi sosial yang bermuasal dari bahasa Melayu (Riau) ini lebih bergengsi, bermarwah, dan ranggi di mata bangsanya sendiri. Dalam kaitannya dengan politik bahasa nasional, mimpi-mimpi besar akan terwujudkan jika sikap berbahasa bangsa ini lebih menomorsatukan bahasa Indonesia di tanah air. Makna apa yang dapat kita tangkap kalau jenama (merek), papan nama, dan petunjuk-petunjuk ditulis dalam bahasa asing?

Secara empiris, sangat banyak kita jumpai sebagian dari bangsa ini yang menomorduakan bahasa Indonesia. Dalam berbicara dan menulis, terkesan bahwa mereka merasa lebih bergengsi jika mencampuradukkan bahasa nasional dengan potongan-potongan bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Sikap seperti ini mengisyaratkan bahwa identitas bangsa sebagian dari kita sudah mulai pudar. Bukankah bahasa menunjukkan bangsa atau kata Raja Ali Haji di dalam Gurindam Duabelasnya: jika hendak mengenal orang berbangsa, lihatlah pada budi bahasa? Di mana sebenarnya keteladanan berbahasa Indonesia  yang kita impikan itu? Dari siapa keteladanan berbahasa Indonesia  itu?

Suatu pengalaman yang memprihatinkan bagi saya pada suatu masa ketika seorang pemimpin (pejabat) mengatakan bahwa untuk apa bahasa Indonesia  itu? Bahasa Indonesia  tak perlu dipelajari di sekolah-sekolah apalagi sampai diujian-nasionalkan. Cemooh tersebut berlanjut ke mata pelajaran Sejarah, menurut oknum pejabat itu, juga tidak berguna. Nah, teladan seperti apa yang dapat kita petik dari ’’manusia-manusia’’ seperti ini?

Sejatinya, keceriaan, keindahan, kesenggaman, dan marwah bahasa Indonesia  nyaris hanya ada dalam lingkup dunia sastra. Dalam puisi dan prosa, keberadaan dan peranan bahasa Indonesia  menggeliat semarak sedemikian rupa. Bahkan, bisa menembus tingkatan keindahan sadu perdana. Melalui sastrawan, keberadaan bahasa Indonesia  semakin mendapat tempat, baik di nusantara maupun mancanegara. Jika demikian, bukankah sastra mampu menembusi wilayah politik suatu bangsa?

Meskipun saat ini bahasa Indonesia  sudah mendapat tempat di hati sekitar 80-90 persen bangsa ini, tetapi upaya pembinaan dan peneladanan berbahasa yang dilakukan tidak cukup hanya sebatas kemauan politik. Tindakan-tindakan nyata amat bergegas perlu dilakukan. Misalnya, memberlakukan UU Bahasa dan menindak bagi pelanggarnya, terutama jenama dan papan nama di tempat umum (saya tak dapat kabar terbaru tentang UU Bahasa. Apakah sudah terkubur sebelum dilahirkan)? Jika tidak dengan upaya nyata tersebut, akan muncul kekhawatiran terjadinya pengikisan berbahasa nasional. Bukan tidak mungkinahasa Indonesia  akan melahirkan ketidakteraturan berbahasa Indonesia. Pakar bahasa Indonesia , Profesor Zainal Arifin, pernah memberikan sinyal kekhawatiran itu. Kata dia, pada era reformasi ini, bahasa Indonesia  makin goyah karena goyahnya budaya nasional dan budaya suku dengan alasan kini sudah era bebas bicara dan bebas berekspresi. Akibatnya, bahasa Indonesia  jadi berantakan dan memprihatinkan.

Memang tidak sepantasnya  khawatir akan keterkikisan bahasa Indonesia. Namun, ketakutan seperti ini—paling tidak—dapat dijadikan landasan untuk memajukan dan memodernkan peranan bahasa Indonesia  agar lebih melekat di hati bangsa. Untuk itu, ada beberapa hal yang patut dijadikan patokan penting dalam upaya pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, terutama dalam rangka melahirkan keteladanan berbahasa Indonesia. Pertama, peranan satuan pendidikan (sekolah-sekolah), baik negeri maupun swasta. Sekolah-sekolah, sebagai lembaga tempat generasi muda, akan lebih efektif untuk mencerahkan masa depan wajah bahasa Indonesia. Kedua, peranan Pusat Bahasa dan Balai Bahasa. Peranan tersebut bukan hanya melaksanakan berbagai kegiatan lomba pada Bulan Bahasa, tetapi bisa lebih dari itu. Misalnya, mendistribusikan Kamus Besar Bahasa Indonesia  cetakan terbaru ke sekolah-sekolah sehingga dapat dijadikan referensi bahan ajar; penerbitan dan pendistribusian brosur kata-kata/istilah baru dan baku, memberikan pelatihan penulisan surat-menyurat resmi dan Ejaan yang Disempurnakan kepada instansi terkait/lembaga pemerintahan, dan sebagainya.

Ketiga, peranan media massa, baik media cetak maupun elektronik. Maraknya kelahiran berbagai media cetak akan memungkin kemunculan bahasa-bahasa yang kurang teratur atau tidak sesuai dengan kewibawaan bahasa Indonesia  yang benar. Selain itu, perlu pengawasan terhadap bahasa-bahasa iklan, terutama di media elektronik televisi. Keempat, memanfaatkan karya sastra yang telah lolos seleksi bahasa Indonesia  berdasarkan standardisasi bahasa. Sastra  dapat dijadikan wahana untuk membangun karakter dan ideologi bangsa. Sebaliknya pula katanya, ideologi dapat diungkapkan melalui sastra.

Apapun alasannya, bahasa Indonesia sudah selayaknya menjadi bahasa pertama di Indonesia. Keutamaan itu bukan hanya terletak pada kemauan dan praktik bertutur bahasa. Akan tetapi, sudah sangat wajib diwujudkan dalam tingkah polah, sikap, dan pola pikir positif terhadap keberadaan dan peranan bahasa Indonesia. Jika tidak, kemerosotan bahasa Indonesia akan sulit dibatasi dengan berbagai perkembangan teknologi informasi saat ini. Guru, sastrawan, selebritas, pemerintah, dan pemuka masyarakat patut menyadarkan diri sendiri akan kemungkinan negatif untuk membentuk kemungkinan positif demi masa depan keteladanan berbahasa Indonesia.*** (Terbit di Riau Pos, Kamis, 21 Oktober 2010).

*) Musa Ismail adalah Guru Bahasa Indonesia  SMAN 3 Bengkalis.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s