Dalam Setangkai Bunga


Kawan,

kita punya setangkai bunga, enam kelopak milik bersama

kelopak pertama adalah lembaran hitam yang membungkus sekeping hati

dunia yang kita tiduri hari-hari dalam dekapan impian wanginya percung

menjadi lebam birat dalam penduaan Rabbi, keinginan-keinginan mengeras dalam cakela-cakela celaka, putus asa dalam mencari rahmat

juga merasa aman dari kemurkaan-Nya

kelopak kedua, lembaran darah ditusuk kepingan lidah

dunia yang kita katakan dengan kesaksian dusta, sumpah seranah-serapah dalam kepalsuan, yang telah menciptakan sihir pada setiap jengkal kehidupan

menjadikan solehah seorang pelacur murahan sehingga tercampak dalam pengasingan

kelopak ketiga, lembaran busung-busung perut, bukan karena kebuluran

sebab khamar-khamar menyesak, ribuan anak yatim berontak karena makanannya dirabak-rabak, riba pun berderak ingin keluar dari sekap perut-perut yang nyaris retak

kelopak keempat adalah lembaran kebuluran dalam kemaluan-kemaluan,

bapak menancapkan birahi liar pada dua dara kandungnya, tiga-belas perjaka merampas kesucian perempuan bisu, aduh…wanita gila entah mengandung anak siapa? Dia tumbuk-tumbuk perut buncitnya sambil tertawa, di relung remang sana ada godot yang sodomi bocah-bocah ingusan, mereka belum tahu apa-apa

ke manakah indahnya simponi masa depan?

kelopak kelima adalah lembaran tangan-tangan rahwana; kekuasaan

mencuri sinta dari tangan rama, membunuh kemanusiaan dengan alasan keganasan seperti amerika dan sekutunya

di tengah kebanjiran minyak antara baghdad-afghanistan, mereka siramkan sulut mesiu-mesiu sehingga melahirkan janda-janda, yatim-piatu, juga nestapa, dan airmata

oh…sungguh angkuhnya. Perang dikatakan untuk kedamaian dunia

”Mungkin mereka sudah gila?” aku sungguh mengecamnya

kelopak keenam adalah langkah-langkah kaki melayari kemah-kemah birahi yang melakoni surga-surga penuh bidadari

melarikan diri dari kebenaran, ”Tuk mencari keselamatan,” katanya

kaki-kaki lumpuh dan kaku dalam sujud, segar dan kuat dalam maksiat yang sudah berkarat selama berabad-abad

Karya: Musa Ismail

Guru SMAN 3 Bengkalis


Tinggalkan komentar

Filed under Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s