Dia Bernama Tonto


Dia bernama Tonto. Lelaki itu seorang samseng, seorang bromocorah kelas kakap. Melewati kehidupannya dengan gelimangan lumpur, melayari darah, dan airmata. Hatinya adalah batu cadas yang senantiasa disirami dengan khamar. Macam-macam tindak kriminal yang telah diperbuatnya. Awalnya, samseng itu adalah seorang petugas keamanan di salah satu bank cukup ternama, tetapi dipecat karena sering merampas hak orang lain. Kemudian, kebejatannya melompat menjadi perampok yang menggerunkan di setiap ruang dan waktu kelam malam.
Samseng yang satu ini memang terpasung. Agaknya, dia tidak sanggup menjaga diri dan hatinya dari perbuatan dosa. Kejahatan yang dilakukannya berjelingkat-jelingkat dan berputar-putar di depan mata setan. Ya, setan. Musuh kita yang sangat nyata itu. Kini, dia merangkap sebagai seorang germo dan pembunuh bayaran. Sudah 99 wanita dijerumuskannya ke lembah hitam dan 97 nyawa melayang di tangannya. Baru sore kemarin, dia membunuh seorang pendeta sehingga korbannya lengkap 98 orang.
Diskotik-diskotik adalah surga yang diciptakannya. Juga hotel-hotel penjual wanita. Surga dunia ini disulapnya dengan cara memalak hak kehidupan orang lain di sekitarnya. Saban hari, satu diskotik dan satu hotel siap berdiri dengan megah di kota kekuasannya. Sekarang di kota itu, jumlah diskotik dan hotel sudah menutupi banyaknya bangunan masjid-masjid, surau-surau, langgar-langgar, gereja-gereja, vihara-vihara, dan juga kuil-kuil. Rumah ibadah hanya terpegun melihat kemegahan diskotik-diskotik dan hotel-hotel.
Jalan-jalan aspal jadi gelap, jadi pengap. Seakan tiada lagi selah-selah gang untuk menuju tempat ibadah. Semua ujung jalan dan gang hanya dipenuhi oleh kebuntuan. Diskotik-diskotik dan hotel-hotel menghadang. Mulutnya menganga dengan suguhan perempuan cantik, seksi, dan merangsang dengan kaki terkangkang.
Di kota kebuntuan itu, ada seorang kiai muda datang bertamu. Sepuluh tahun yang lalu, dia juga seorang samseng, tetapi berhasil mencuci hatinya di masjid. Walaupun tidak diundang, tetapi begitulah adanya. Kiai tersebut ingin mengisi kebuntuan dengan suatu keuntungan hakiki, yang selama ini telah menghilang dari setiap jatidiri. Beliau ingin berbagi pengalaman tentang kisah yang serupa dialaminya ketika menjadi seorang samseng.
‘’Ke manakah orang-orang? Apa yang terjadi dengan mereka, terutama para pemuda? Mengapa mereka tak mau mendekati dan mengenal masjid?’’ Kiai tersebut bertanya kepada beberapa warga kota.
‘’Mereka berada di diskotik-diskotik, hotel-hotel, dan di kafe-kafe. Di sanalah kiblat mereka, Pak Kiai,’’ jawab beberapa warga di kota kebuntuan itu.
‘’Di diskotik? Di hotel? Di kafe-kafe?’’
‘’Ya, Kiai. Mereka menyembah streaptease dan khamar.’’
Orang alim yang bertanya jadi terdiam. Dalam pikiran Kiai tersebut, kebodohan apa gerangan yang telah menikam bangsa di dunia ini? Hanya mengumbar-umbar birahi. Cuma melayani kenikmatan sesaat yang mendatangkan bala dunia akhirat.
‘’Kota ini dipimpin seorang samseng, Kiai. Jadi, semuanya ikut-ikut menjadi samseng,’’ tiba-tiba suara warga itu menyentak. Kiai yang lagi terdiam.
‘’Patutlah semuanya jadi berantakan begini,’’ Kiai berpikir dalam hati.
***
Di diskotik, tarian streaptease dimulai. Di hotel-hotel pun sama. Di bawah perintah seorang samseng, hiburan penari telanjang di diskotik dan di hotel dijadwalkan secara serentak. Pas ketika azan Isya’ menggema. Begitulah saban malam. Peristiwa ini sudah menjadi kebiasaan sebagian besar warga kota tersebut.
Sang streaptease pun menjual badannya di depan umum. Harganya murah sekali. Lebih murah daripada sapi atau kambing. Bahkan, juga pakai obral karena sudah nyaris basi, nyaris tak laku lagi. Penari itu meliuk-liuk di panggung. Satu per satu pakaiannya sengaja dilepaskan. Dan akhirnya, telanjang bulat! Para straptease mempertontonkan kebodohannya. Semua pengunjung di situ mirip wajah Dionysus, dewa pesta pora, atau dewa anggur. Sambil mabuk, mereka pun bertepuk tangan dengan kebodohan juga. Namun, kebodohan ini sudah menjadi kebanggaan di hati sebagian besar warga kota.
Setiap malam selama sepekan, hiburan birahi itu tak pernah kelelahan. Apalagi penontonnya. Di kota tersebut, soal pemerkosaan, pembunuhan, perjudian, mabuk-mabukan sudah tidak mengherankan. Tidak ada tindakan, tiada penyergapan, semuanya pakai biar begitu saja. Seluruhnya sudah dianggap biasa. Menurut mereka, begitulah kehidupan sejati. Baru dua hari yang lalu, dikabarkan seorang gadis bisu berumur 15 tahun dirogol oleh tiga-belas pemuda tanggung selama tiga hari berturut-turut. Lalu, seorang ayah tega pula mengerjai dua anak kandungnya yang masih di bawah umur dengan alasan kesepian. Lantas, seorang remaja sekolahan tega pula memperkosa gadis cilik berusia enam tahun gara-gara terbiasa nonton film lucah. Yang anehnya, orangtua tidak pernah dipersalahkan, tetapi guru-guru yang menjadi kambing hitam.Kehidupan apakah yang telah kita ciptakan di kota ini?
Streaptease terus menjual keseksiannya, eh bukan, tapi menjual kebodohannya di depan kegelapan. Anehnya, beribu pasang mata terjojol tidak mempedulikan tubuh bugil wanita itu. Tarian birahi di diskotik-diskotik dan hotel-hotel kota tersebut sudah menjadi setting kebingar-bingaran. Mereka menganggap ini sebagai suatu kewajaran, tak perlu diperdebatkan.
‘’Bos, seorang Kiai muda ingin berjumpa.’’
Suasana bingar terus melatari perbualan itu.
‘’Suruh ke sini.’’
Kakitangan diskotik hanya memberikan kode kepada penjaga pintu sebagai tanda bahwa kiai muda diperbolehkan masuk.
‘’Ada apa sobat?’’ Samseng bertanya.
‘’Saya hanya ingin memberitahu bahwa Anda telah kehilangan kiblat, kawan.’’
‘’Tidak, inilah kiblat kami. Kiblat masa depan.’’
‘’Anda mesti sadar. Ini adalah kiblat kehancuran. Tiada masa depan di sini.’’
Samseng mengode streaptease agar mendekati kiai muda. Streaptease itu pun terkebe-kebe tak tentu arah mengundang birahi. Namun, kiai muda tidak mempedulikannya. Mungkin dia sudah muak ketika sepuluh tahun yang lalu. Ya, ketika dia masih menjadi seorang samseng. Bayangan itu tiba-tiba muncul lagi di matanya.
Ketika itu, sebelum tiba saatnya…, dia berada di diskotik. Tujuannya tiada lain untuk memuaskan birahi; memanjakan hati, lidah, perut, kemaluan, tangan, kaki, dan seluruh badan. Tarian telanjang pun dimulai. Seorang wanita yang mengobral kebodohannya keluar dari balik tirai sambil melakukan gerakan erotis. Sekitar lima-jam pertunjukan itu berlangsung setiap malam. Dan mata pemuda itu, terus melompat-lompat menuju setiap lekuk-liku badan streaptease yang jalang dan miang. Setelah penjualan badan melalui tarian erotis seorang wanita, tirai tertutup kembali.
Pemandangan di setiap meja diskotik sungguh indah. Botol-botol khamar bertumpukan dan menari-nari di atas meja dan lantai, tetapi dia belum mabuk. Sejurus kemudian, tirai dibuka kembali. Harapan pengunjung ketika itu adalah wanita seksi lainnya yang siap memberikan kepuasan. Tetapi, yang muncul adalah seorang syekh penuh marwah. Beliau duduk di kursi. Semua pengunjung ketika itu terheran-heran dan bertanya-tanya: apakah orang yang duduk di kursi itu benar-benar seorang syekh ataukah sudah ada lelaki sebagai streaptease?
Suasana pun jadi tenang di diskotik itu. Hanya suara orangtua bermarwah itu yang menggema. Tiada lagi hentakan musik dan ‘’goyang ngebor’’. Ternyata, dia benar-benar seorang syekh. Syekh itu bercakap tentang sesuatu yang belum sempat di dengar karena telinga sudah dibelai oleh dendangan hentakan musik birahi.
‘’Inilah lembaran hitam yang kalian catat setiap malam untuk menggantikan kenikmatan mata, telinga, kaki, mulut, tangan, hidung, otak, dan hati. Di antara kita, tidak lagi bisa membedakan antara seni dan maksiat. Sebagai manusia, di antara kita ini, sudah menjadi lebih rendah daripada binatang.’’
Semua orang menangis. Saat itu, kiai muda yang sedang mencoba menasihati samseng di diskotik saat ini, pun menangis. Sejak kejadian tersebut, dia telah berhijrah menjadi kiai muda.
‘’Buang saja pengalaman karutmu itu!’’ tiba-tiba suara samseng menyentak bayangan kiai muda.
‘’Yang saya katakan, bukan kekarutan, tetapi kebenaran, yang selama ini nyaris telah disulap dengan pemikiran-pemikian setan. Kapan lagi kita akan membangun rumah-rumah mewah di surga? Kapan?….kapan? Kematian sudah terlalu dekat, kawan, hanya tinggal beberapa jengkal.’’
Tiba-tiba, seorang wanita setengah mabuk menyapa.
‘’Bos, apakah orang ini mau ditemani?’’ tanyanya sambil mengarahkan telunjuk ke muka kiai muda. Lalu, dia tertawa mendesah, sangat lerah.
‘’Inilah surga kami, eh bukan, ini adalah surga kita,’’ kata bos samseng itu.
‘’Setan apa yang telah menyatu di hati kalian sehingga tiada lagi cahaya?’’ Kiai muda hanya menggeleng-gelengkan kepala. Kemudian, pergi.
***
‘’Ada sosok mayat. Ada mayaaaat! Di sana, ada mayaaaat!’’
Pekik-pekau seseorang yang melewati jembatan beton itu telah mengundang kedatangan orang ramai. Para pemberita dari beberapa media massa pun sibuk mencari data. Perlahan-lahan, pekik-pekau tersebut berubah menjadi bisik-bisik berantai. Nyaris semua mulut membicarakan tentang penemuan sosok mayat di kolong jembatan. Orang ramai menjadi sangat heran. Dua tahun terakhir ini, paling tidak, sudah empat kali ditemukan mayat di tempat yang sama. Pertama, warga digemparkan oleh onggokan orok bayi yang dicincang sembilan keratan. Setengah tahun kemudian, dihebohkan pula mayat seorang ibu rumah tangga yang dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Dua bulan setelah itu, ditemukan lagi mayat yang hatinya sudah kosong. Kini, kota itu dihebohkan kembali dengan penemuan mayat seorang lelaki yang terbungkus sejadah.
Berselang setengah jam, tibalah pihak rumah sakit mengamankan tempat kejadian. Aneh sekali, mengapa bukan polisi yang melakukan tugasnya itu? Berkmungkinan para samseng di kota ini telah menyumbat mulut dan mata mereka dengan amplop-amplop sehingga tak berdaya lagi untuk mengamankan hak asasi orang lain untuk hidup. Sosok mayat yang masih terbungkus dengan sejadah dibawa ke rumah sakit untuk dilakukan autopsi.
‘’Kiai Muda Tewas Sembilan Tusukan.’’
Begitulah judul berita di media massa sehari setelah kejadian. Namun, dalam uraian kejadian tersebut, dikatakan hingga kini belum diketahui siapa pelakunya. Motif pembunuhan itu pun tidak dapat dicungkil keterangannya. Dengan kematian kiai muda tersebut, suara kebenaran seumpama ikut terkubur. Streaptease dan kemaksiatan lainnya berpesta-pora di diskotik-diskotik dan hotel-hotel.
Masyarakat tahu bahwa kematian kiai muda merupakan kebiadaban kumpulan samseng yang diketuai oleh Tonto. Tapi apakan daya, mereka senantiasa dicekam ketakutan akan kekuasaan geng berdarah dingin itu. Membuka mulut berarti terjun bebas dari gedung berlantai tiga-belas. Celaka! Begitulah kekuatan Tonto. Bahkan, mereka mampu bermain kucing-kucingan dengan aparat keamanan. Karena Tonto bukanlah Al-Kifl, bukan juga Abu Mahjan, bukan pula Abdul Allah, bukan Fudhail, apalagi Malik, dan bukan seperti jiwa kiai muda yang sudah tewas ditangannya.
Kisah pembunuhan sudah senyap. Tiada lagi orang yang membicarakannya.
Diskotik-diskotik dan hotel-hotel bergaya sediakala. Pas azan Isya’ menggema, streaptease pun mulai menjual kebodohannya. Khamar-khamar menari ria di bibir-bibir kerugian. Namun, entah kenapa, seminggu sesudah malam kejadian pembunuhan itu, telah terjadi suatu keanehan luar biasa. Setiap tirai dibuka, yang muncul di atas panggung bukanlah streaptease lerah yang mengobral birahi, tapi sosok seorang kiai muda yang tewas dibunuh berbungkus sejadah.
Sosok kiai itu duduk tenang di kursi malas sambil mengucapkan satu kalimat dengan berulang-ulang.
‘’Wahai sobat, belumkah tiba saatnya…untuk mengkhusukkan hati mengingat…kebenaran yang diturunkan-Nya? Wahai sobat, belumkah tiba saatnya…Wahai sobat, belumkah tiba saatnya…belumkah tiba saatnya…?’’ Suara kiai muda terbata-bata. Kiai muda inilah korban pembunuhan Tonto yang ke 99. Tonto tak mampu menghalangi suara kebenaran. Langsung dia teringat kepada anaknya yang sudah meninggal dua tahun lalu.
‘’Ayah, belumkah tiba saatnya…?’’
Pesan itu pun berulang-ulang dalam igauannya.***
Bengkalis, Agustus 2003

Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s