Telekung Buat Emak


”Apakah Ayah tidak pernah berpikir bagaimana mengajak Emak untuk membangun salat?” tanya Kahar kepada ayahnya di suatu malam terang bulan. Purnama molek sekali malam itu. Bersih. Suci. Jalan-jalan yang mereka lalui penuh dengan cahayanya.
Kahar tidak terlalu lama menanti jawaban dari ayahnya.
”Sia-sia saja,” begitu ayahnya menjawab dengan singkat. Suaranya seperti ada putus asa, parau, seumpama hendak mengkelan di tenggorokan.
”Sia-sia?”
”Ya. Ayah seperti telah bosan. Sudah beberapa kali Ayah coba mengajaknya, tetapi belum juga berhasil.  Ayah tidak tahu, entah apa isi hati Emakmu itu.”
”Ayah tidak pernah bertanya alasan Emak, mengapa dia tidak mengerjakan salat?”
”Setiap kali diajak, ada saja alasaannya. Kadang-kadang, tidak munasabah.”
”Tidak munasabah bagaimana?”
”Emakmu selalu membuat alasan.”
Di sepanjang jalan malam terang bulan, setelah kembali dari jemputan doa selamat rumah Pak Ishak, Kahar sengaja mengambil kesempatan untuk mempersoalkan tentang sikap emaknya. Sejak remaja hingga usianya yang sudah kepala tiga ini, seingat Kahar, belum pernah dia nampak emaknya salat lima-waktu, baik sendiri ataupun berjamaah dengan  ayah. Kahar takut durhaka, tetapi tingkah emak benar-benar telah mengundang kesedihan, rasa kasihan, kecewa, dan juga kebencian. Sebenarnya, kebencian itu sungguh tidak patut diluahkan kepada seseorang yang telah melahirkan kita ke dunia. Sungguh tidak tepat! Kebencian itulah sebenarnya pendurhakaan, arogan, dan bongkak. Kualat!
Tentang sikap pengabdian ayahnya, Kahar tidak pernah ragu. Ayahnya penuh semangat membenahi kehidupan akhirat keluarga. Dalam pikiran Kahar, begitulah seharusnya sikap dan tindakan kepala keluarga; berupaya menyelamatkan keluarga dari jilatan neraka. Persoalan siksaan neraka ini, bagi Kahar, tidak hanya pertemuan kepedihan ketika di akhirat kelak.
Namun, kepedihan itu sudah nyata dan terlalu banyak tampak dalam gelombang kehidupan kita di dunia. Gelombang yang melahirkan buih-buih kehidupan kita saat ini pun tidak sedikit menciptakan tempat-tempat kobaran neraka. Neraka itu ada pada setiap lembar pakaian yang digunakan para wanita. Neraka juga tersembunyi pada setiap lembar kemaksiatan, kejahatan, sikap, perangai, hotel, diskotik, dan karaoke. Bahkan, neraka telah menyelinap di celah-celah kecanggihan dan permainan teknologi. Baru kemarin, kita menyaksikan neraka ada di mata.
”Bukankah hidup di dunia hanya permainan dan bersenda gurau1?” lenguh Kahar.
Sebagai anak sulung, Kahar juga merasa berkewajiban menyelamatkan emaknya. Langkah kaki emak menapak keluar dari rel-rel kehidupan hakiki. Dia tak sanggup memandang wajah emak yang dihinggapi kekusutan dunia sepanjang hari. Bayangan di matanya, wajah emak seumpama buih-buih yang tercipta dari gelombang-gelombang yang berkejaran menuju pantai. Bertepi, tapi tak berkesudahan.
Telah lama Kahar memikirkan hal itu. Berpikir saja pun tidak akan membuahkan hasil kalau tidak disertai perbuatan. Samalah artinya dengan obral perkataan. Pandai bicara, tapi tak tahu mengerjakannya. Para sesepuh di kampung Kahar, banyak seperti itu. Mereka tahu hukum-hukum agama, tapi tidak pernah melaksanakannya. Mereka buta, tuli, dan bisu. Sejahat-jahat yang melata (di muka bumi) di sisi Allah ialah orang-orang yang pekak dan bisu sebab mereka tidak memikirkan apapun2. Mungkin, orang-orang tua dan pandai agama di kampung Kahar menganggap cukup hanya tahu tentang ajaran agama. Tidak mengerjakannya, tak apa-apa. Inilah suatu kesilapan dan kesalahan. Mereka mengira tak ‘kan ada siksa. Oleh sebab itu, mereka buta dan tuli3.
Akhir-akhir ini, karena umur emak semakin senja, Kahar kian bingung. Belum juga ditemukan jalan terbaik untuk menyentuh hati emak. Kahar tahu betul bahwa pengamalan agama pasti berhubungan dengan sekeping hati. Pada sekeping hati yang sudah membusuk sekalipun, pasti ada suatu ceruk tempat letaknya suara panggilan al-haqq.
”Ceruk itulah yang harus kumunculkan sehingga tiada keterpaksaan.”
”Betul apa yang kamu ucapkan itu. Kalau diajak salat, Emakmu selalu mengatakan bahwa hatinya belum mau,” jelas ayah. ”Kita mesti yakin. Mungkin inikah yang termasuk perjuangan? Banyak di antara kita kecundang dengan hati sendiri. Hati kita telah terlalu banyak menerima permainan-permainan duniawi. Padahal, itu cuma senda gurau yang hanya menggelitik hati. Itu cuma cara-Nya untuk menguji apakah hati kita masih tetap bersih dalam kontaminasi kehidupan gila ini. Atau, terlenakah kita dalam permainan kejaran gelombang kehidupan yang menciptakan buih-buih itu. Ingat, hati kita harus diberikan sempadan pada setiap jengkal perubahan.”
Kahar puas sekali dengan ucapan ayahnya. Dari kedua mata orangtuanya itu, Kahar nampak cahaya bulan penuh. Berseri-seri, terang-benderang. Sejuk. Indah cahayanya mencapai tingkatan sadu perdana4. Tidak mustahil bahwa pancaran cahaya bulan penuh itu berasal dari kebersihan hatinya.
”Ayah telah menjaga hatinya. Patut sekali aku mencontohnya,” pikir Kahar. Kahar juga paham bahwa hati bukanlah seperti seekor kucing hitam yang terlanjur dianggap membawa sial, petaka, dan penuh magis. Kahar terkenang seorang kawan yang pernah menyelamatkan sekeping hati ketika terlepak busuk dan dilanyak kendaraan di tengah jalan. Sekeping hati yang ditemukannya itu diselamatkannya di masjid pada waktu magrib.
”Sungguh Allah Maha Besar. Hati itu sujud, Ayah.”
”Betul. Pada akhirnya, hati manusia akan sujud. Kita harus yakin itu.”
***
Sudah dua-minggu Kahar dan isteri membawa emaknya ke rumah mereka. Lingkungan tempat tinggal Kahar di kelilingi oleh masyarakat yang agamis. Ada kegiatan wirid, yasinan, dan pengajian, atau santapan rohani. Kahar mengharapkan lingkungan bersahabat itu dapat memberikan renjisan sejuk di hati emaknya. Diharapkan ada sentuhan-sentuhan kebenaran segera membelai kesadaran dalam diri perempuan yang sudah bergelar nenek itu dari anak-anak Kahar.
Kahar selalu juga berharap kepada isterinya agar mengajak emak salat berjamaah.
”Saya takut Emak tersinggung, Bang.”
”Coba saja sambil bergurau.”
”Tapi, e…e….e….okelah, saya coba. Semoga Emak dapat menerima ajakan saya.”
Beberapa kali Jumat, emak melangkah ke masjid mengikuti menantunya-isteri Kahar-untuk menghadiri pengajian. Di masjid, wajahnya beku. Kaku. Tiada juga perubahan. Hati emak masih membatu. Di wajahnya, masih tampak buih-buih yang dilahirkan gelombang kehidupan. Mudah melayang walaupun disapa angin sepoi. Lingkungan tempat tinggal Kahar pun tidak kuasa mengoles hati emaknya dengan warna-warna putih bersih.
”Bang, benar kata Allah bahwa nasib, kita sendirilah yang mengubahnya.”
”Benar, kita, ya, keluarganya. Termasuk kita, anak-cucunya yang harus mengubah. Sebab, kebenaran pun ada pada diri kita.”
Malam itu, Kahar dan isterinya memberanikan diri. Sambil menonton tayangan televisi di ruang tengah, Kahar mencoba mengajak emaknya ke arah kebenaran secara langsung. Dicobanya dengan pelan, memilih kata-kata sejuk, dan santun.
”Mak, yang akan Har bicarakan ini soal kehidupan, kebahagiaan, kedamaian, dan kenyamanan, juga ketenteraman hati. Terus terang, Har merasa sedih dengan keadaan Emak.”
”Betul kata Bang Kahar, Mak. Usia kita pun semakin berkurang. Kapan lagi kita akan menegakkan tiang agama?. Nanti takut tak sempat.”
”Maksud kami, eloklah Emak mengerjakannya juga. Sudah terlalu lama Emak melupakan dan tidak bersujud di depan-Nya.”
”Emak paham maksud kalian. Dulu sewaktu masih gadis, Emak lebih taat daripada kalian. Tidak pernah sekali-kali Emak bolos mengerjakan kewajiban ini. Emak tahu, bolos berarti kekecewaan, dosa. Emak pun tidak tahu, apakah hati ini sudah beku ditutupi setan?” kata emaknya terbata-bata. ”Ini soal hati, Har. Hati Emak….” Buru-buru Kahar memotong kalimat emaknya.
”Sudahlah, Mak. Kesanggupan kita untuk berubah ke arah lebih baik tentu mendapat pertolongan-Nya. Ada bagian di ceruk hati kita menginginkan kebenaran dan kebaikan.”
”Iya, sebelum terlambat. Kita tidak tahu kapan kematian akan datang.”
Mereka terdiam beberapa saat. Buih-buih gelombang kian jelas di wajah emak. Di matanya, berkelebat bayang-bayang. Bayangan orang-orang berpakaian putih tertawa senang di surga. Bayangan orang-orang dirantai dan dihumban ke dalam neraka.  Tiba-tiba, sekujur tubuh perempuan lima-puluh tahun itu bergetar. Menggigil, tapi bukan diserang malaria.
”Aku paling benci dengan kematian,” tiba-tiba terdengar suara gemetar emak.
”Tapi, ini hakikatnya, Emak. Kematian pasti menjadi teman dekat kita.”
”Kalian mendoakan agar aku cepat mati? Apa yang kalian dapatkan setelah kematianku.”
”Bukan, Mak. Bukan itu. Kami hanya ingin supaya Emak….”
”Cepat mati,” kalimat isteri Kahar itu dipotong mertuanya dengan frasa yang tidak menyenangkan.
Bingung, kalut, dan gundah melingkari rumah Kahar.
Malam itu jadi seperti malam jahanam. Perbincangan keluarga telah menciptakan permusuhan. Kahar tidak habis pikir, beginikah akhir dari suatu perundingan? Lalu, dia ingat Palestina-Israel yang tak putus dalam perundingan, tapi juga tak pernah selesai dalam sengketa tanah air mereka. Yang patut dijadikan sempadan, telah terhumban amat jauh.
”Emak coba pahami niat baik kami. Mana mungkin kami, anak-cucu Emak, menginginkan kematian Emak. Kami merasa ada kewajiban untuk mengingatkan Emak agar tidak terus melupakan-Nya,” suara isteri Kahar agak mengendur.
”Baik…baiklah kalau begitu. Suatu saat, hati Emak akan menerimanya.”
”Suatu saat? Kapan itu, Mak?”
”Entahlah, Emak pun tak pasti. Sudahlah, Emak mengantuk, mau tidur.”
Ada perasaan lain yang menyesak di hati Kahar dan isterinya. Ada kebimbangan, keraguan, kegagalan, dan rasa bersalah. Semuanya menggelembung dan pecah tak berbekas. Ya, bagaikan buih-buih gelombang yang memecah di bibir pantai. Apalagi ketika kedua pasang mata anak-menantu itu mengikuti langkah emaknya menuju kamar tidur. Keluhan dan lenguhan panjang meronai malam yang belum terlalu malam itu, yang mungkin telah menggores luka atau mengoles embun di hari seorang emak. Mereka tak tahu apa yang berkecamuk di hati emak.
Tayangan berbagai mata acara teve, yang sebenarnya mengasyikkan untuk mata, menjadi hambar dengan tiba-tiba. Kahar dan isterinya tak tahu apa yang harus mereka lakukan malam ini. Setelah emak lesap di kamarnya, mereka hanya saling pandang. Mereka tidak senyum. Tidak pula mereka bersedih. Hanya raut muka yang tampak agak kusut. Namun, semua itu baru dalam batas tanda tanya. Entah apa pula yang berkecamuk di dalam benak suami-isteri itu saat ini.
Emak, yang sudah berada di dalam kamar, merebahkan tubuhnya di katil. Tatapannya nanar, mungkin juga melompong. Sebenarnya, pikiran orangtua itu sudah agak melembut ketika mengikuti beberapa pengajian dan wirid saat dibawa menantunya beberapa waktu lalu. Namun, cebisan hati hitam terlalu kuat melumpuhkan ceruk hati putihnya sehingga pikiran emak pun tidak mampu membantu dirinya sendiri untuk keluar dalam lingkaran hitam dalam diri. Mungkin ini merupakan suatu kekalahan teruk yang pernah dialami seorang manusia.
Kahar dan isterinya terkejut. Pagi itu, emak memutuskan untuk pulang.
”Apa karena kata-kata kami tadi malam, lalu Emak ingin pulang?” tanya menantunya.
”Tidak. Bukan karena itu.”
”Tapi, kenapa Emak ingin pulang?”
”Emak rindu dengan cucu-cucu. Rindu sekali. Sudah dua malam ini, mereka    sampai terbawa dalam mimpi Emak.”
”Bukankah di sini Emak juga punya cucu?” sambut menantunya lagi, lembut.
”Iya, tapi Emak sangat merindui mereka di sana. Sudah hampir sebulan Emak di sini.”
Tampaknya, Kahar dan isterinya tak kuasa menahan kehendak emak. Tas pakaian sudah siap. Itu tandanya tidak ada sesiapa pun yang dapat menghalang orangtua itu untuk pulang.
”Nek, jangan pulang duluan. Kasihan Nisa sendirian. Jangan pulang dulu, ya, Nek!” pujuk cucunya dari Kahar.
”Nenek pulang sebentar saja, Sayang. Nenek rindu sama Silva, Ilham, dan Riska di kampung. Kapan-kapan, Nenek ke sini lagi, ya?”
”Janji, ya, Nek.”
”Iya, Sayang. Nisa ‘kan cucu Nenek juga. Sini, salaman dan ciumi Nenek.”
Kepulangan emak pagi itu telah meninggalkan bekas. Entah airmata atau embun. Kahar dan isterinya masih berada dalam keragu-raguan. Mereka agak risau, takut kalau-kalau kepulangan emak, ada kaitannya dengan peristiwa malam kemarin.
”Kerinduan  Emak pada cucunya mungkin cuma satu alasan,” pikir Kahar.
”Untuk menghindari dari kita?” ketus isterinya bertanya.
”Ya. Mungkin Emak tersinggung dengan perkataan dan perangai kita.”
”Apakah ini telah menyebabkan dosa kepada kita, Bang?”
”Entahlah. Semoga bukan karena hal itu.”
”Semoga hati Emak melembut, Bang.”
Kehidupan hari-hari, yang dilalui keluarga Kahar tanpa emak, terasa sepi dan sunyi. Suasana hening begitu kuat telah meninggalkan bekas. Kesunyian dan kesepian. Suasana itu sangat dirasakan Nisa sebab cucunya tersebut boleh dikatakan amat dekat dengan neneknya, emak ayahnya, atau mertua bundanya.
”Yah, Bu. Kapan Nenek ke sini lagi. Nisa rindu sekali.”
”Belum lagi, Sayang. Nenek masih sibuk di kampung,” balas ibunya.
***
Di kampung, emak bercengkerama-ria dengan para cucunya yang lain. Semua pengalaman yang didapatkannya selama tinggal di rumah Kahar, lesap tidak membekas di kehidupannya. Ayah Kahar pun seperti putus asa. Dia merasa sudah muak untuk memberikan nasihat kepada isterinya itu. Ayah Kahar paham bahwa berputus asa bukanlah jalan, tetapi lorong-lorong gelap yang tak patut ditempuh, walaupun sekali. Orangtua itu juga mengerti bahwa seorang kepala keluarga   seperti dia harus mampu menyelamatkan keluarganya dari kobaran api, bencana, marabahaya, hinaan, juga neraka.
”Lagi-lagi, soal hati. Mengapa? Apakah kebekuan hatimu sudah tidak bisa dicairkan lagi sehingga tidak dapat membasahi tenggorokan-tenggorokan, Isteriku?” kata ayah Kahar.
Emak hanya diam. Memang, akhir-akhir ini, setelah kembali dari rumah Kahar, emak selalu nampak diam. Itu saja perubahan yang ada pada dirinya.
”Bukan, Bang. Mungkin hatiku sudah mati.”
”Kematian hati ada kaitannya dengan kematian salatmu.”
”Tapi, ….”
”Tidak ada tapi-tapi. Jika menghidupkan salatmu, maka nyawa dan cahaya hatimu akan kembali bergairah dan cerah bersinar di mata siapa saja.”
Emak diam lagi.
”Alangkah bahagianya jika keluarga kita sentiasa menghidupkan salat. Abang yakin bahwa angkasa akan melihat rumah kita ini seperti cahaya bintang yang kita saksikan dari bumi. Terang menyinari dengan keabadian.”
Tidak ada respon.
”Atau kamu sudah lupa?” sambung ayah Kahar. ”Kalau iya, biar kita mulai dari awal sebelum senja ditelan malam.”
”Semua tentang salat, masih saya ingat, Bang. Hanya kemauan  yang belum lahir.”
Ayah Kahar terkejut. Dalam pikirannya, kemauan telah menjadi suatu penyakit, mungkin juga wabah. Kemauan telah menyebabkan kehidupan menjadi terseok-seok dalam bola permainan yang diciptakan Ilahi. Dia tidak habis pikir, bagaimana manusia bisa tidak memiliki kemauan untuk berbuat kebaikan dan kebenaran. Begitu kuat kunci-kunci yang merantai pintu-pintu kebaikan sehingga kita tidak sanggup lagi mendobraknya sampai bongkas. Tapi, ayah Kahar tahu bahwa itu merupakan suatu ketololan kita juga. Mengapa kita tidak mendobrak?
”Begitu payahkah kita menuju surga?” pikir ayah Kahar ketika semua orang di rumah dan di dunia ini sedang mendengkur pada malam dingin itu. ”Padahal, kita sadar bahwa pada hakikatnya kita di dunia ini sentiasa menginginkan kebaikan dan kebenaran untuk menuju matlamat sejati.”
Ayah Kahar tercenung dalam kantuknya. Dia rebah dan tertidur pulas sampai pagi menjelang. Langkah pagi itu, terasa begitu cepat. Dalam aktivitas, langkah pagi bagaikan pelari pecut yang berlari seperti kilat. Siang menyambut dengan kecerahan. Tidak terasa sudah lebih kurang sebulan lamanya emak Kahar berada di kampungnya.
”Ida, coba lihat siapa tamu yang datang,” suruh emak kepada adik Kahar.
Ida menuju ke arah tamu.
”Eeeh, Pak Pos,” sapanya. ”Ada kiriman, ya, Bang?”
”Ya. Ini surat dan ini kiriman paketnya. Tolong tandatangani bukti pengambilannya di sini.”
”Terima kasih, Bang!”
”Sama-sama.”
Di amplop surat dan di bungkusan kiriman paket itu, tertulis kado buat emak. Pengirimnya adalah Kahar sekeluarga.
”Emak, ini ada surat dan paket pos untuk Emak.”
”Dari siapa?”
”Bang Kahar.”
Tak lengah, nenek Nisa langsung menyambar surat. Isinya sebagai berikut.
Assalamu’alaikum w.w.
Emak yang kami sayangi,
Emak mungkin lupa bahwa pada 22 Desember ini adalah hari ulang tahun Emak. Sudah bertambah setahun lagi usia Emak. Selamat ulang tahun dari kami, Emak. Kami sekeluarga di sana mohon maaf. Mungkin kami sekeluarga telah menyinggung perasaan Emak. Oh, iya, bersama surat yang singkat ini, kami kirimkan juga kado untuk Emak. Mudah-mudahan, kado ini dapat memberikan arti yang paling besar kepada kita sekeluarga.
Emak, kata Nisa, dia sangat merindui neneknya. Kapan Emak ke rumah kami?
Wasalam,
Kahar sekeluarga
”Emak, buka kadonya. Kami ingin melihat,” pinta Ida.
Kado paket pos yang dikirimkan Kahar itu pun mereka buka bersama.
”Telekung,” kata emak, pelan.
”Cantik sekali. Tentu harganya mahal,” tambah Ida.
”Iya. Telekung ini tentu mahal.”
Emak langsung membawa telekung tersebut ke dalam kamar. Pintu kamar terkunci rapat. Emak mengurung diri. Sunyi. Senyap. Hening.***

Bengkalis, Agustus 2003

Komentar Dinonaktifkan pada Telekung Buat Emak

Filed under Cerpen

Komentar ditutup.