Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut


Dia seorang politikus, baru menduduki kursi jabatan presiden terpilih. Rakyat negeri ini meletakkan kepercayaan sepenuhnya di tangan dan pundak beliau. Ah, rakyat terlalu mendewakannya. Itu syirik namanya, dosa besar, neraka tempatnya. Tangannya menggenggam kehidupan rakyat yang layak.  Di tangannya pula, bisa terbalik mencakar  kehidupan rakyat sehingga rabak. Sebagai rakyat, tentu sangat berharap agar tangan itu tidak menjadi cengkaman yang melukiskan kepedihan, kesengsaraan, kebuluran, dan kegundah-gulanaan. Sebab, kepercayaan yang diberikan rakyat kepada Tuan  Presiden begitu ikhlas.

Ya, begitu ikhlas, meskipun keikhlasan itu tak patut kami riyakan. Walaupun kami sedar bahwa kepercayaan ini bukan pertama kali diberikan kepada para pemimpin sepertinya. Selama ini, mereka begitu mudah berubah wujud menjadi burung-burung liar laksana nazar pemakan bangkai yang terbang bebas tak tentu ke mana rimbanya. Ingin rasanya aku-rakyat jadi pemburu yang membidikkan laras senapan  ke arah busungan dada burung-burung liar itu dan menarik pelatuknya.

”Dor…! Biar dia mampus sekalian!” suara geram rakyat seperti tidak terkendali. ”Ah, binatang jalang pun tidak kejam jika dibandingkan dengan apa yang kita pikirkan. Sungguh di luar jalur lurus.”

Telah bertahun-tahun, ekonomi berubah menjadi puting beliung. Berputar-putar begitu dahsyat sehingga mencabut tenggorokan dan perut rakyat dengan teramat kejam. Bergulung-gulung sehingga rakyat gulung tikar. Rakyat tersadai laksana kapal sabut yang setiap saat timbul tenggelam di hempas gelombang minyak, harga sembako, bahkan harga diri yang telah lama lesap. Tetapi, Tuan Presiden seharusnya merasa bangga kepada rakyatnya yang bisa bertahan hidup dalam kapal sabut kemelaratan yang panjang. Terombang-ambing, timbul tenggelam.

Kami sebagai rakyat tidak tahu kapan kita bisa memiliki Tuan Presiden seperti Tirai Bambu dan Beruang Putih yang menjunjung hukum? Atau seumpama Samurai dan Mr. M? Atau siapa saja yang benar-benar bisa menyentuh-rasuk ke dalam sekeping hati rakyatnya?

Hari-hari yang dilalui rakyat adalah masa-masa letih, pahit, gundah, dan bergerak dengan ketidakberdayaan. Seakan-akan negeri yang didiami ini tidak lagi memiliki waktu yang terbaik di tengah-tengah tangan pemimpin. Semuanya seumpama kabut yang kaburkan mata. Kelabu!

”Mungkinkah kini saatnya sebab tangan ini yang langsung menusuk tanpa dewan perwakilan? Yang jelas, jangan hanya berikan kami berjuta mimpi dalam fatamorgana janji-janji seperti yang terlukis selama ini. Bicara bukanlah suatu perbuatan nyata, tetapi hanya menelanjangi kebodohan kita karena tidak mampu berbuat apa-apa.”

Kapal sabut yang dinakhodai rakyat sudah terlalu tua. Air kotoran  alias longkang sudah begitu banyak meresap sehingga bebannya bertambah sarat. Kini, kami masih terjebak dalam permainan timbul tenggelam-timbul tenggelam. Kami sangat takut! Bukan tidak mungkin suatu saat akan berubah menjadi timbul-tenggelam-tak timbul lagi. Ketika itu, pekik-pekau tak terkawal lagi. Akankah kita mengulang kembali peristiwa seperti September 1965, Peristiwa 14 Mei 1988, Peristiwa Semanggi, Peristiwa Tanjungperiok, atau dapur yang sepi dari kobaran asap?

***

Pagi ketika sampai di Istana Negara, Tuan Presiden terheran-heran. Pasalnya, banyak sekali tergelepak keranda mainan dengan jumlah tak terhingga di halaman istana. Di samping keranda-keranda itu, ada satu kapal sabutnya, juga mainan. Semua itu dibungkus rapi dalam lipatan kain merah besar yang penuh dengan tulisan berwarna putih. Mungkin saja tulisan itu suatu wasiat.

”Tuan Presiden, kami adalah rakyat. Kami tidak bisa memberikan apa-apa, kecuali bingkisan tak bernilai ini. Harap Tuan sudi membuka, menerima, dan memikirkannya dengan lapang dada demi masa depan bangsa dan negara tercinta ini,” demikian bunyi tulisan putih pada kain merah pembungkus keranda dan kapal sabut mainan itu yang membuat Tuan Presiden tercenung sejenak.  Sedikit pun tiada gemetar di tubuhnya, ya, gemetar laksana ketika kita sedang meresapi indahnya irama azan. Entah apa yang dipikirkannya tatkala itu.

Tuan Presiden mendekati kado dari rakyat itu. Tangannya coba ­mengobel-ngobel keranda. Ternyata, tutupnya bisa dibuka sebagaimana yang aslinya. Ketika dilihat, masya Allah, ada mayat di dalamnya, tapi mayat-mayatan. Satu per satu keranda tersebut dibukanya, satu per satu pula wajah mayat-mayatan di dalam keranda itu sudah tidak asing lagi baginya. Mereka adalah orang-orang terdekatnya. Kini, hanya tinggal satu keranda yang tersisa. Ketika keranda terakhir dibukanya, untunglah Tuan Presiden  tidak ambruk karena jantungan. Di dalamnya, terbujur kaku mayatnya sendiri:  mayat Tuan Presiden.

Kapal sabut mainan yang berukuran agak besar itu dihampirinya juga. Puas juga Tuan Presiden meniliknya dari haluan hingga ke buritan. Sepertinya, terdengar pekik-pekau suara rakyat dari dalam kapal sabut itu. Walaupun di dalamnya hanya pancangan orang-orangan: ada kematian, kehidupan, jeritan, keputusasaan, jalan buntu, kejahatan, dan berjuta macam persoalan hidup rakyat di negeri ini.

”Bagaimana dengan kado ini, Tuan?” ajudannya bertanya.

”Tolong Anda susun rapi di atas meja khusus dan meja khusus itu letakkan di depan meja kerja saya!”

”Apakah tidak patut kita buang saja?”

”Jangan! Kamu tidak tahu. Ini demi marwah dan masa depan bangsa-negara kita. Buat saja seperti yang saya perintahkan.”

Ajudan itu pun berlalu untuk selanjutnya melaksanakan perintah tuannya, Tuan Presiden.

Kini, saban hari Tuan Presiden menikmati pemandangan yang tentunya menyayat kearifannya. Keranda alias peti mati yang sudah berada di depan meja kerjanya-tentunya-identik  dengan kematian itu, menjadi santapannya di waktu-waktu kerja. Ada perasaan heran  di hati Tuan Presiden dengan kado kiriman rakyatnya. Di pikirannya pula, dia meraba-raba apakah rakyatnya menginginkan kematiannya?

”Tapi, itu tidak mungkin. Mereka yang langsung menusukku dalam pemilu tanpa melalui dewan perwakilan,” pikirnya. ”Ataukah ini merupakan suatu amaran supaya bangsa dan negara ini hidup dalam kemakmuran? Ya,…keranda itu tentu demi masa depan bangsa dan negara, demi kemakmuran.”

Tuan Presiden mendekati meja itu dan coba merangkai keranda dengan kapal sabut. Dalam bayang-bayang, kapal sabut yang timbul-tenggelam itu seperti terlihat menunda kematian-kematian yang menyayat kalbu. Dan, kematian-kematian yang ditundanya itu pun mengikuti gerakan timbul-tenggelam dalam permainan gelombang yang menghempas negara ini. Di luar sana, dalam temaramnya malam, burung pungguk mendendangkan lagu begitu merdu. Lagu kematian.

***

Kapal sabut yang ditumpangi rakyat masih berlayar dalam krisis yang belum berpenghujung. Keranda-keranda itu akankah menjadi matlamat akan berakhirnya kehidupan rakyat dalam kapal sabut ini? Kelalaian Tuan Presiden di istana tentu pula akan melekaskan proses pengakhiran pelayaran kapal yang sudah sempoyongan tersebut. Dalam pancangan sinaran purnama dan rasi bintang-bintang di angkasa, rakyat tidak tahu lagi arah tujuannya. Kabut yang teramat tebal telah melumuri kornea mata sehingga tak larat lagi untuk memandang keluasan dan kejauhan.

Badai minyak, harga sembako, dan harga diri itu berulang-ulang menerpa kapal sabut dari semua penjuru. Menerjang buritan, menampar lambung, meninju haluan, dan menginjak badan. Kapal sabut yang ditumpangi rakyat kian meringkik, nyengir kuda, tak sanggup lagi menanggung beban walaupun kita tahu yang namanya kehidupan itu  sama dengan beban. Di dalamnya, begitu banyak muatan. Ada cinta dan kasih sayang, gundah-gulana, sengketa, kelaparan, kemiskinan, keterpinggiran, keterbelakangan, modernisasi, dan masa depan.

Senja di pelabuhan rakyat, Tuan Presiden  tunak menikmati keriangan anak-anak kecil yang sedang asyik bermain kapal-kapalan. Pikirannya membayangkan kisah puluhan tahun silam ketika usianya masih sebaya dengan kanak-kanak yang kini sedang di depan matanya. Main kapal-kapalan, berlayar, dan pulang ke pangkuan. Mereka berlomba. Kapal anak kecil itu terbuat dari sabut yang diberi layar kertas seadanya.

Dari arah tengah laut, mereka masing-masing melepaskan kapal mainannya, tapi anak-anak kecil itu justru merasakan bahwa merekalah yang berada di dalamnya. Menakhodai, mengontrol mesin, membaca kompas, dan segalanya. Riak-gelombang perlahan-lahan meloncat ke dalam kapal itu, meresap, dan semakin berat. Angin yang agak sedikit kencang mendorongnya, tapi sayang, kapal sabut itu tidak mampu melaju untuk sampai ke pantai. Kapal sabut itu tenggelam di pertengahan jalan.

”Awas!” tiba-tiba Tuan Presiden tersentak dari renungan panjang di pelabuhan rakyat senja itu. Tangannya mengacung ke arah kapal sabut yang baru tenggelam. Wajahnya cemas. Namun, anak yang memiliki kapal sabut itu kelihatan biasa saja. Tenggelam di lautan merupakan suatu yang lumrah bagi  kapal. Begitu pula kelumrahan pesawat terbang yang terhempas, tabrakan kendaraan darat atau bus yang masuk ke jurang. Semuanya itu adalah adat resam yang tak bisa ditawar-tawar. Begitulah hukum alam. Seperti halnya juga tugas keranda yang membawa kematian. Dan, kematian yang dimaksudkan rakyat adalah kematian demi masa depan bangsa dan negara.

***

”Demi masa depan bangsa dan negara, kita harus berani membuat keputusan. Keranda, ehm…, menyediakan keranda merupakan keputusan yang tepat untuk masa depan bangsa dan negara yang lebih cerah,” demikian pidato Tuan Presiden yang disiarkan langsung oleh semua stasiun teve. ”Keranda adalah simbol kemenangan tanah air ini jika tidak mau menjadi tanah air mata.  Rakyatku…inilah program pemerintah sekarang, memohon sumbangan keranda sebanyak-banyaknya untuk persaraan para koruptor. Satu keranda terakhir, aku sisakan untuk diriku. Ini suatu kemutlakan buat negara kita. Suatu kemutlakan yang tidak dapat diganggu gugat oleh siapa pun. Suatu kemutlakan untuk merepih masa-masa gemilang.”

***

Setahun berlalu, Tuan Presiden bunuh diri di tiang gantungan karena keranda-keranda di istana tidak pernah digunakan. Dia tak mampu menjatuhkan hukuman kepada para koruptor itu. Janjimu, Tuan!***

Bengkalis, Januari 2004


Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s