Kelepak-Kelepak Kupasang Kembali


dalam gelap buta, kucungkil mata untuk bertemu dengan-Mu

tersungkur, merapai-rapai tangan tak sampai jua

pada ujung embun kasih

berebut tangkap sampai bisu

malam-malam yang nyeri

sampainya hati

telungkup dan tersungkup aku di antara sayang dan mabuk kepayang

menambab pedih ingin menggapai Dikau

kekasihku, kadang jauh kadang dekat

tapi, gapai belum jua sampai

harapku masih tetap dalam sangap yang pengap

malam yang bisu ini telah melahirkan huruf-huruf

lalu, kubedung dalam kalbu, dalam

taman-taman bunga jiwaku yang mulai layu

lalu, kutangkap unggas-unggas qudhsi di taman itu

kelepaknya kupasang pada hati karena ingin bertemu dengan-Mu

aku sangat rindu, menggebu-gebu

tiba-tiba, kelepak itu patah sebelum sampai

sungguh perih dan menyakitkan, barisan sembilu lewati kalbuku yang lebam

karena tak sampai, karena tak sampai, karena tak sampai

unggas-unggas qudhsi kutangkap lagi

kali ini, di puncak-puncak gunung mencongak langit tertinggi

kelepak-kelepaknya kupasang kembali

dengan ikatan kuat sekebat kerinduan yang bersemangat

aku ingin terbang, izinkan aku melayang

memanjat tangga alif ke langit, nak berjumpa dengan-Mu walau semenit

tapi, mengapa Kau bisu tak sedikit pun menyahutku?

Rumah Sastra, Oktober 2005 – Januari 2006


Tinggalkan komentar

Filed under Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s