Pendidikan dan Makna Kejujuran


Proses pendidikan akan melahirkan konsekuensi yang luas. Konsekuensi itu akan memaknai keberagaman karakter yang bakal lahir dari proses pendidikan. Keberagaman karakter, baik positif maupun negatif, memberikan timbal balik terhadap kemajuan. Kemajuan suatu bangsa dan negara terletak pada manajemen kejujuran pendidikan yang semestinya dimaknai dengan penuh kebenaran. Kejujuran akan memberikan makna pada kehidupan sejati yang berpengaruh besar terhadap kinerja apapun. Tiang-tiang pendidikan tidak akan mampu menopang kebesaran tanah air jika makna kejujuran tercabik-cabik dari proses pembangunan pendidikan kita. Apalagi kalau proses pendidikan yang kita jalankan melalui jalur-jalur kebohongan. Jika terjadi demikian, bersiap-siaplah, kita akan menuai para pembohong di masa depan yang bakal memimpin negeri ini. Sungguh mengerikan!

Tak dapat kita ingkari bahwa cukup lama pendidikan kita meniti jembatan kebohongan. Jalan pendidikan kita tidak begitu sempurna. Sistem perundang-undangan yang tegas mengatur kelayakan finansial pendidikan tidak berkutik oleh dalih-dalih yang terkadang berada di luar nalar. Kebohongan itu telah menjalin hingga ke proses pembelajaran di sekolah. Kita mungkin masih ingat dengan Komunitas Air Mata Guru di Medan yang mengungkap ketidakjujuran pelaksanaan Ujian Nasional (UN). Ketika komunitas ini mendobrak kebohongan dan bicara kebenaran, mengapa justru banyak cemooh yang datang. Akhirnya, muncul indikasi bahwa kita lebih membela ketidakjujuran daripada kesejatian dalam pembangunan dunia pendidikan. Karakter apa sebenarnya yang terjadi dengan sebagian bangsa ini berdasarkan peristiwa demikian? Bukankah ini suatu indikasi bahwa jati diri kita telah menyimpang? Ke manakah nilai-nilai budaya yang telah ditanam melalui pendidikan selama ini?

Jika dikaitkan dengan suatu filsafat, sistem pendidikan kita sebaiknya mengarah kepada pendidikan holistik. Pendidikan holistik merupakan suatu filsafat pendidikan yang berangkat dari pemikiran bahwa pada dasarnya seorang individu dapat menemukan identitas, makna dan tujuan hidup melalui hubungannya dengan masyarakat, lingkungan alam, dan nilai-nilai spiritual. Pendidikan holistik bertujuan untuk membantu mengembangkan potensi individu dalam suasana pembelajaran yang lebih menyenangkan dan menggairahkan, demoktaris, dan humanis. Tentunya  melalui pengalaman dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Melalui pendidikan holistik, peserta didik diharapkan dapat menjadi dirinya sendiri (learning to be). Dalam arti, dapat memperoleh kebebasan psikologis, mengambil keputusan yang baik, belajar melalui cara yang sesuai dengan dirinya, memperoleh kecakapan sosial, serta dapat mengembangkan karakter dan emosionalnya. Tentu pula nilai dan makna kejujuran akan tertuang secara otomatis di dalamnya. Jika merujuk pada pemikiran Abraham Maslow, pendidikan harus dapat mengantarkan peserta didik untuk memperoleh aktualisasi diri (self-actualization) yang ditandai dengan adanya: (1) kesadaran; (2) kejujuran; (3) kebebasan atau kemandirian; dan (4) kepercayaan.

Makna Kejujuran

Kejujuran terkadang dipandang hanya sebagai sesuatu yang berseberangan, kritikan, atau protes. Padahal, kejujuran merupakan salah satu perwujudan dari kebenaran.  Di sisi tuhan, kebenaran selalu dipelihara dengan kemurnian. Kejujuran merupakan semangat dan esensi (eidos atau malakah). Secara filosofi, kejujuran adalah nilai-nilai moral ketuhanan. Juga sebagai mekanisme rohani yang berfungsi mengendalikan kekeliruan dalam menjalani hidup ini. Namun, ketidakjujuran senantiasa menyiksa kehidupan manusia. Terlepas dari konteks metafisisnya, ketidakjujuran muncul sepanjang proses pengalaman, koeksistensi, dan interaksi antarindividu.

Pendidikan takkan berjiwa jika tanpa kejujuran. Pendidikan akan seperti pepohonan yang mengering, meranggas, dan mati beragan. Tanpa kejujuran, bangsa ini cuma akan menuai tunas-tunas bangsa yang pembohong, lari dari kenyataan, dan penuh penipuan. Ketika itu, bangsa kita akan menjadi kerdil dan tidak punya nilai-nilai peradaban kemanusiaan. Proses pendidikan yang bertujuan untuk memanusiakan kepribadian manusia akan berada dalam kekosongan kalau kenyataannya berselimut dengan ketidakjujuran. Dalam pelaksanaan pendidikan, kejujuran dan ketidakjujuran itu bisa terjadi pada empat tingkatan unsur yang mempengaruhinya, yaitu kejujuran/ketidakjujuran orang tua (keluarga), kejujuran/ketidakjujuran masyarakat, kejujuran/ketidakjujuran sekolah, dan kejujuran/ketidakjujuran pemerintah (instansi terkait).

Secara nasional, tiga tahun terakhir ini, pemerintah telah menerapkan sistem standar kelulusan pendidikan. Berbagai persoalan muncul. Kubu pro- dan kontra- bersilat lidah. Kedua kubu ini sama-sama benar. Tentu tidak ‘kan pernah bertemu dalam satu simpulan yang menguntungkan semua pihak. Sebagai pembuat kebijakan, pemerintah tetap mempertahankan apa yang diyakininya dengan standar kelulusan yang semakin menantang. Seakan-akan wajah pendidikan nasional memasuki babak baru dengan pemberlakuan standar kelulusan tersebut. Namun di sisi lain, seolah-olah ada gejala ketidaksiapan di garis bawah (masyarakat, siswa, pemda, sekolah) dalam menghadapi tantangan tersebut. Nah, ketidaksiapan inilah yang akan melahirkan berbagai kecurangan, pembohongan, atau ketidakjujuran. Kondisi ini yang paling berbahaya terhadap perjalanan dunia pendidikan nasional kita.

Pendidikan seperti tanaman. Jika suatu tanaman diberlakukan dengan curang dalam pemberian pupuk, maka tanaman itu pula nantinya yang akan menipu tuannya dengan hasil yang tidak menggembirakan. Kecurangan-kecurangan yang (mungkin/telah) terjadi selama pelaksanaan UN akan berdampak besar terhadap mutu bangsa dan Negara ini di masa depan. Secara tidak sadar, kita telah melahirkan dan mendidik generasi ini dengan  ketidakbenaran, ketidakjujuran, dan pembohongan.  Jiwa pendidikan memerlukan nutrisi yang seimbang. Keseimbangan itulah yang disebut dengan kejujuran yang selama ini semakin memudar di setiap jaringan pendidikan.

Guru sebagai Pembunuh dan Pembangun

Penggerak kejujuran adalah lingkungan sekolah, terutama guru. Proses pembelajaran merupakan cerminan kehidupan masa depan. Berbagai persoalan yang terjadi di sekolah, termasuk proses pendidikan dan sistem manajemennya, akan berakibat pada pembangunan jati diri generasi kita. Karena itu, ketidakbenaran dan ketidakjujuran di sekolah akan berdampak fatalistik terhadap dinamika sumber daya manusia ke depan.

Kejujuran adalah jati diri yang patut kita bangun (character building). Guru merupakan pintu masuk terhadap pembangunan jati diri ini melalui sistem sekolah yang sehat. Sebaliknya, guru pun bisa berperan sebagai ”pembunuh” jati diri kalau menerapkan sistem pendidikan yang keliru. Ketidaksiapan guru, pemerintah, siswa, dan masyarakat dalam  menghadapi perubahan sistem pendidikan nasional akan melahirkan kemungkinan-kemungkinan ”pembunuhan” yang dimaksud. Isu UN yang sarat ketidakjujuran (rekayasa) di berbagai daerah merupakan salah satu indikasi ketidaksiapan pihak terkait untuk berubah, mengubah, dan membangun jati diri  bangsa ini menjadi lebih handal.

Saat ini, bukan masanya lagi kita mempersoalkan UN. Tetapi, harus kita cari bagaimana cara menantang UN itu dengan kejujuran dan tindakan yang benar. Indikasi ketidakjujuran yang terjadi selama UN sebelum ini, sungguh merupakan suatu kesalahan besar di dunia pendidikan nasional. Kemungkinan keterlibatan guru sebagai ”tim sukses” pun menunjukkan bahwa telah terjadi pembohongan pada wajah pendidikan. Jika memang demikian, guru atau pihak mana pun yang terbabit, tak ubahnya bagai alat-alat make up yang hanya berperan menutupi bopeng-bopeng pada wajah pendidikan kita.

Apa yang akan terjadi pada bangsa ini jika ketidakjujuran itu sudah dimulai dari sekolah dan instansi terkait? Bahkan, lebih sedih jika ketidakjujuran itu dipelopori oleh guru. Lantas, buat apa bersusah payah memperjuangkan pendidikan kita jika ketidakjujuran itu terus melesat tanpa hambatan. Akan jadi apakah generasi bangsa dan negara ini di masa mendatang? Keboborokan seperti apa yang bakal terjadi terhadap masa depan bangsa dan negara ini jika ”dosa-dosa” dunia pendidikan tidak segera kita hapus dengan kejujuran? Jika ketidakjujuran itu masih terjadi, guru tidak lagi layak disebut sebagai Pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi pembunuh bangsa. Di akhir tulisan ini, saya mengajak kita secara moral untuk menegakkan kejujuran dan kebenaran dalam dunia pendidikan. Dengan demikian, saya yakin bahwa mutu pendidikan kita akan terangkat sesuai harapan. Semoga kita kembali ke jalan yang benar.***


Komentar Dinonaktifkan pada Pendidikan dan Makna Kejujuran

Filed under Artikel

Komentar ditutup.