Menghormati Guru


Berdasarkan fakta sejarah, profesi guru di tanah air seumpama wajah Indonesia saat ini. Profesi ini masih terus dilanda kecamuk bencana. Bencana itu dimulai dari status sosial dan kesejahteraan hingga sikap pemerintah dan masyarakat luas terhadap keberadaan guru. Bahkan, bisa juga disebabkan oleh sikap dan perangai guru yang bersangkutan. Ketika Belanda menjajah negara ini, berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menghormati guru. Dalam buku ”Guru di Indonesia” dikatakan salah satunya adalah petisi peningkatan status guru kepada Residen Surakarta pada 1860 sehingga mendapat status sosial sebagai ”Mantri Guru”.  Di samping itu, gaji guru lebih baik dan pangkatnya pun setingkat lebih tinggi dibandingkan dengan profesi lain ketika lulusan sekolah guru diangkat menjadi pegawai negeri. Ini merupakan fakta sejarah tentang betapa guru saat itu sangat dihormati (2003:37).

Menghargai guru merupakan salah satu langkah nyata dalam upaya memberikan penghormatan atau menghormati. Menghormati dalam arti luas terhadap guru inilah saat ini semakin lemah. Ada beberapa permikiran, sikap, atau tindakan yang berindikasi kurang (tidak) menghormati profesi guru bagi kepentingan perubahan besar suatu bangsa dan negara. Pertama, masih banyak di antara pejabat kita masih setengah hati untuk menjadikan profesi guru sebagai profesi yang diirikan oleh profesi-profesi lain. Sikap setengah hati ini selalu diiringi dengan alasan-alasan klise yang dikait-kaitkan dengan banyaknya jumlah guru. Kedua, pemerintah terkesan kurang yakin untuk menaikkan status sosial guru melalui peningkatan kesejahteraan. Meskipun UU Dosen dan Guru sudah terealisasi, tetapi perwujudan ke arah kesejahteraan itu masih sangat lamban. Ketiga, masih banyak masyarakat (orang tua) berpikiran negatif terhadap guru jika mereka dipanggil ke sekolah untuk membicarakan profil pendidikan anaknya. Keempat, masyarakat kita masih banyak yang tidak peduli akan keterlibatannya dengan pihak sekolah (guru) dalam hal proses pendidikan. Indikasinya adalah ketidakhadiran orang tua ketika mereka diundang secara resmi untuk menghadiri rapat di sekolah. Bahkan di jagat intertainmen, cukup banyak sinetron meremehkan karakter guru. Padahal, jika mereka mengangkat karakter guru sejati, tentu akan berpengaruh besar terhadap pendidikan kepada siswa. Kelima, di lapisan kabupaten, kecamatan, dan pedesaan, andil masyarakat terkesan makin menipis. Berkemungkinan besar ini merupakan akibat masih tingginya angka kemiskinan. Di samping itu, belum berubahnya pola pikir ke arah perubahan. Keenam, memudarnya keharmonisan antara siswa dan guru. Hal ini mengakibatkan terjadinya kesenjangan hubungan antara anak didik dan pendidik. Keadaan seperti ini bisa diakibatkan oleh siswa ataupun guru. Ketujuh, masih banyak guru yang tidak menguasai standar kompetensi sebagai guru. Kedelapan, guru senantiasa menjadi ”kambing hitam” ketika pencapaian pendidikan merosot dari harapan.

Kita tahu bahwa banyak bangsa besar dan maju karena mereka menghormati guru. Penghormatan itu diberikan dari berbagai segi. Yang lebih ideal, guru tidak perlu meminta melalui pengusulan dengan sekebat persyaratan agar dapat dihormati/dihargai. Kenyataan ironis inilah yang terjadi di tanah air kita.  Untuk memperoleh suatu penghargaan, guru diminta mengusulkan dirinya. ‘Kan aneh bin ajaib tu! Karena itu, sudah seharusnya bangsa dan negara ini melalui berbagai cara, berupaya mengembalikan kehormatan profesi guru. Menghormati guru merupakan suatu tindakan mulia. Tindakan ini akan memberikan faedah bagi perubahan bangsa dan negara kita di masa mendatang.

Perubahan yang terjadi bagaikan kilat akan berpengaruh terhadap pola pikir, tindakan, dan sikap. Pengaruh tersebut bisa menghantam beragam bagian suatu bangsa dan negara. Hal yang sangat parah jika dunia pendidikan kita tidak mampu mengimbangi kecepatan perubahan yang terjadi. Lebih menyedihkan lagi, kalau guru bersikap sambalewa saja karena faktor dari luar sama sekali tidak menghormati keberadaan guru. Sungguh memprihatinkan seandainya guru masih saja disibukkan dengan pekerjaan sampingan. Lantas, masyarakat dan pemerintah kita ada yang mengecapnya sebagai tindakan yang tidak pantas dilakukan seorang guru tanpa mencari jalan keluarnya. Perubahan-perubahan yang terjadi pun, idealnya, disikapi para guru dengan pemikiran-pemikiran positif, maju, dan berubah. Kita tidak bisa menyangkal bahwa tidak sedikit di antara guru kita justru berpola pikir dan bersikap terbalik dari kenyataan ideal itu. Akhirnya, setiap perubahan yang terjadi, seakan-akan hanya membebani guru-guru yang berpikiran negatif tersebut.

Menghormati guru dengan cara memberikan penghargaan layak masih terasa payah sekali di negara ini. Paling tidak, kenyataan ironis ini justru kita rasakan setelah kemerdekaan. Guru, yang katanya Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (saya paling benci dengan sebutan ini, sebaiknya dihilangkan saja), seakan-akan dikondisikan supaya menjadi ”kuli negara” atau ”sapi perah” untuk mendukung program-program yang telah dicanangkan pemerintah. Kondisi guru hingga kini bagaikan para pahlawan yang terlindas oleh hiruk-pikuk kehidupan yang tidak mengenang sejarah. Semestinya kita paham bahwa bangsa akan menjadi besar kalau menghargai gurunya dengan sepenuh hati: menjadikan guru sebagai profesi yang diirikan oleh profesi lainnya. Dengan demikian, akan lahir kebanggaan, marwah, kewibawaan guru di mata dunia. Menjadikan guru sebagai profesi yang diirikan oleh profesi lain merupakan tugas pemerintah. Tugas ini dapat diwujudkan dengan berbagai program yang mengarah kepada penghargaan terhadap guru. Beberapa program yang kini terus berjalan di antaranya pemilihan guru berprestasi, uji sertifikasi (mulai berjalan), lahirnya UU Guru dan Dosen, dan beragam lomba keberhasilan guru (termasuk lomba menulis) yang berorientasi kepada pengembangan profesi guru.

Sebenarnya, pemerintah sudah punya kemauan untuk menjadikan profesi guru sebagai profesi yang diirikan oleh profesi lain melalui peningkatan kesejahteraan khusus. Akan tetapi, kemauan tersebut belum begitu kuat. Buktinya hingga sekarang, hanya masih dalam batas kemauan. Belum ada realisasi istimewa bagi meningkatkan status sosial guru di tengah ”semaknya” kehidupan yang terkadang mengundang berbagai kesenjangan. Secara internal, guru sendiri sudah semestinya sejak dulu memahami berat-ringannya tugas. Keseriusan, persaingan sehat, keinginan untuk maju, dan hasrat berubah merupakan beberapa bagian penting bagi pengembangan kepribadian dan kewibawaan guru. Hal ini juga merupakan perihal yang menjurus agar dirinya (guru) dihormati (bukan berarti ”gila hormat”). Penghormatan yang sejati adalah penghormatan yang datang dengan keikhlasan hati, datang tanpa dijolok terlebih dahulu. Bukan penghormatan yang diminta, diusulkan, melalui permohonan/proposal, atau melalui pengemisan.

Di samping upaya eksternal dari pemerintah, marwah akan datang sendiri jika guru menyadarinya melalui berbagai kepribadian utama sebagai pendidik. Pertama, mengubah pola pikir dari negatif ke positif. Misalnya, lihatlah program uji sertifikasi guru sebagai sesuatu yang bisa meningkatkan mutu. Saat ini, masih banyak guru beranggapan negatif bahwa pemerintah setengah hati untuk meningkatkan taraf kehidupan guru dengan sistem uji sertifikasi tersebut. Kedua, menanggapi setiap perubahan zaman dengan membuka diri melalui konsep ”hasrat untuk berubah”. Ketiga, meskipun uang merupakan kebutuhan vital, tetapi tidak selalu menilai sesuatu dengan uang. Di sinilah letaknya pengabdian sebagai pendidik. Keempat, meluangkan waktu untuk menambah wawasan agar terjadi perubahan lebih baik terhadap kepribadian, terutama dalam kaitannya dengan proses mendidik siswa (menjadikan membaca sebagai budaya). Kelima, ”membunuh” keluhan secara perlahan-lahan, terutama dalam menghadapi perbedaan individual dan karakter siswa. Keenam, menyemah benih ketekunan dan kesabaran dalam mendidik siswa ke arah yang lebih baik meskipun harus melakukan berbagai perbaikan secara bertahap dan memakan waktu lama. Ketujuh, berupaya maksimal untuk meningkatkan standar kompetensi diri sebagai guru, yaitu kompetensi pengelolaan pembelajaran dan wawasan kependidikan, kompetensi akademik/vokasional, dan kompetensi pengembangan profesi. Sebagai guru yang profesional, upaya ini dapat dikembangkan secara mandiri melalui sistem kemajuan informatika. Kita akan tertinggal seandainya hanya mengandalkan pola pelatihan yang dikemas dalam kotak-kotak proyek oleh pemerintah.

Perlu digarisbawahi bahwa tak ada pendidikan yang berlangsung tanpa guru. Jika  guru mengalami pembodohan dan pemiskinan, maka dunia pendidikan-sedikit banyak-akan terimbas juga. Dunia pendidikan kita akan malap. Untuk itu, perlu adanya suatu dobrakan besar terhadap kondisi guru yang masih prihatin saat ini. dobrakan-dobrakan besar tersebut akan menjadi lebih bermartabat bila terfokus kepada usaha-usaha menghormati guru. Dengan begitu, suatu saat nanti, guru Indonesia terlahir dari pribadi-pribadi pilihan yang benar-benar berkeinginan menjadi guru karena pengabdian dan status sosialnya yang menggembirakan. Di akhir tulisan singkat ini, ketika lagu Hymne Guru mengalun merdu, saya menutup kedua telinga. Karena saya tahu, bahwa bukan kata-kata indah yang diinginkan oleh mereka, tetapi ketenangan ketika mengabdi.***

*) Musa Ismail adalah Cikgu SMA Negeri 3 Bengkalis.

Tinggalkan komentar

Filed under Artikel

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s