Profilku



bandara-changi141

Musa Ismail lahir di Pulau Buru Karimun, Kepulauan Riau, 14 Maret 1971. Menamatkan SD di kampung halaman, SMPN 3 Tanjung Balai Karimun, SPGN Tanjungpinang (1990), dan Universitas Riau, FKIP Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (1994) Aktif menulis sejak duduk di bangku kuliah. Tulisannya berupa cerpen, esei    sastra/budaya, dan artikel/opini  tersebar  di  Harian Riau Pos, Majalah Budaya Sagang, Majalah Sastra Berdaulat, Majalah Sastra  Budaya Tepak, Harian Riau Mandiri, Harian Pagi Riau Tribune,  Harian Batam Pos, Bulletin Annida (Jakarta), dan Republika. Kumpulan cerpen perdananya berjudul ‘’Sebuah Kesaksian’’ diterbitkan oleh Yayasan Pusaka Riau  pada Oktober 2002. Pernah berkhidmat sebagai wartawan Harian Riau Pos. Kini, dia mengabdi sebagai Guru SMA Negeri 3 Bengkalis. Sebelumnya, pernah bertugas sebagai Guru SMPN 1 dan SMPN 2 Merbau. Cerpen dan esainya terangkum dalam beberapa ontologi Anugerah Sagang 2000 dan antologi Cerpen pilihan Harian Pagi Riau Pos 2002 (Terbang Malam), (Magi dari Timur, 2003), (Satu Abad Cerpen Riau, 2004), (Tafsir Luka, 2005), (Jalan Pulang, 2006), dan (Keranda Jenazah Ayah, 2007). Pada tahun 2003, memperoleh Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Umum dengan judul ‘’Kemerdekaan’’ yang ditaja oleh Majalah Budaya dan Sastra Tepak.

Tahun 2005, esainya yang berjudul ‘’Novel Upacara Korrie Layun Rampan: Deskripsi Belenggu Adat: Spiritisme-Mitos dan Kemerdekaan’’ memperoleh penghargaan urutan 6 dari 20 besar dalam Lomba Mengulas Karya Sastra (LMKS) Guru Bahasa dan Sastra Indonesia se-Indonesia yang ditaja oleh Dirjen Manajemen Dikdasmen, Depdiknas. Tahun 2006, novelnya yang berjudul ‘’Cinta, Che Sera Sera’’ memperoleh Juara Harapan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan yang ditaja oleh Pusat Perbukuan, Depdiknas. Tahun 2006, dia terpilih sebagai Guru Berprestasi Tingkat Kabupaten (Peringkat I) dan Tingkat Provinsi Riau (Peringkat I). Tahun 2007, cerpennya Hikayat Kampung Asap meraih Juara Harapan di Laman Cipta Sastra Dewan Kesenian Riau (DKR).  Pada tahun yang sama juga, terbit buku  kumpulan esainya berjudul ’’Membela Marwah Melayu’’ (UIR Press dan BKKI). Tahun 2008, novel Tangisan Batang Pudu (Gurindam Press, Pekanbaru) masuk nominasi Ganti Award. Tahun 2009, terbit kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut (Seligi Press, Pekanbaru). Tahun 2010, terbit kumpulan cerpennya berjudul Hikayat Kampung Asap (Seligi Press, Pekanbaru) dan di tahun yang sama, terbit pula novelnya Lautan Rindu (Mujahid Press, Bandung).  Tahun 2010, kumpulan cerpen Tuan Presiden, Keranda, dan Kapal Sabut memperoleh Anugerah Sagang Kategori Buku Pilihan. Berkat pernikahannya dengan Isnawati, S.Pd., kini telah dikaruniai 3 putra: M. Iqbal Al-Raziq, M. Syazily Al-Raziq, dan M. Qushairie Assiddiqqie. Ingin terus menulis sebelum sampai ke batas.

Tinggalkan komentar

Filed under Profil

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s