Kepala Terbang


Kampung yang kudiami ini menjadi begitu hina. Kehinaan itu datang belum terlalu lama. Baru beberapa bulan saja. Seperti halnya seorang yang terhina, tempat kelahiranku tidak mendapat simpati. Cuma vonis antipati, kolot, barbar, cemooh, semburan umpatan, sumpah serapah, dan tudingan telunjuk-telunjuk yang teramat tegas, kasar, dan lancang menusuk ke batang hidung masyarakatnya, kami, juga aku. Awalnya, cemooh ini datang bersamaan dengan kepribadian yang  kami sebut  angkat lampah. Orang-orang menjadi begitu terlatih menggunakan lidah mereka untuk menjilat apa saja demi mengecap keindahan, kenikmatan, taraf hidup, status sosial, gengsi, juga style. Karena angkat lampah inilah, kehinaan itu muncul secara tersembunyi.

”Pengampu, maksudmu?” temanku merasa aneh.

”Ya, negeriku terlalu banyak pengangkat lampah. Tapi, bukan itu yang menjadi sebab utama kehinaan ini.”

”Lalu, apa?”

Lama juga aku menung. Diamku berada antara dua persimpangan tanda tanya: mau menceritakan aib sendiri atau tidak? ”Pengkhianatkah aku jika mengisahkan kepedihan negeri sendiri kepada orang lain? Sanggupkah aku menanggung sendiri derita masyarakat negeri ini jika tidak menceritakannya kepada sahabat terdekat?” Lantas, aku berani mengambil resiko untuk dikatakan sebagai pengkhianat. Aku tidak memakai istilah biar pecah di perut, jangan pecah di mulut.

Di kampungku, terlalu banyak upacara hitam. Orang-orang membicarakan Mbok Minah dan Sumilah.  Mereka berdua inilah yang memunculkan vonis hinaan terhadap kampung atau negeri kami. Informasi yang kudengar, mereka mempraktikkan ilmu hitam. Mejik, bermain dengan darah segar, lalu menghirupnya dengan lahap. Mereka bersekutu dengan setan. Persekutuan ini bukan hanya persekutuan tradisional, tetapi juga sudah terlalu modern sehingga sangat rumit untuk kita jelaskan dengan nyata.

Mbok Minah seorang penjual sayur di pasar. Sepintas lalu, memang itulah pekerjaannya. Namun, orang memandang lain. Mbok tersebut tidak lain adalah seorang pengamal black magic, hantu orang yang selalu melepaskan kepalanya terbang melata mencari tumbal. Setiap ke pasar, aku selalu saja pura-pura membeli beberapa ikat sayur. Saat itulah, aku seakan mempercayai omongan masyarakat tentang diri Mbok Minah. Kulihat dengan jelas, di matanya tersimpan kegerunan, dendam, pengasih, dan nyata sekali sosok hitam. Ada suatu sosok gelap di bola matanya. Wajahnya tidak pernah berseri meskipun setiap hari kutemui dia ulang-alik berjamaah di masjid.

Mbok Minah sentiasa menebar senyum apabila nampak seorang wanita hamil. Senyum manis pura-puranya pun akan menebar lembut kalau ada ibu-ibu membawa bayi ke pasar. Aku tahu bahwa ketika itulah Mbok Minah penuh semangat sebab dia bisa menghidu darah manis dari calon ibu dan bayi. Hidungnya akan mengembang penuh pesona. Matanya penuh dengan sinar nafsu. Hatinya penuh geram untuk segera memiliki mereka.

Sumilah pula, seorang gadis. Masyarakat merasa heran sekali. Mengapa seorang gadis secantik dia bisa terlibat dengan ilmu hitam seperti Mbok Minah. Padahal, dara itu bekerja di salah satu perusahaan eksploitasi minyak, merupakan perusahaan binafit di kampung kami. Lama-kelamaan, ketahuan juga. Persekutuan Sumilah dengan setan bertujuan agar atasannya sentiasa senang kepada dirinya. Ilmu kepala terbang dipergunakannya sebagai pengasih. Mengenai Sumilah, kebenarannya aku tidak tahu persis. Tapi, mana mungkin ada asap jika tiada bara.

”Ilmu untuk penjinak suami dan sebagai pengasih,” jelas Pak Ali, seorang bomo terpandang di kampung kami, pada suatu upacara jemputan kenduri di rumah Haji Thalib. Penjelasan Pak Ali muncul karena memang saat ini masyarakat tengah heboh-hebohnya memperbincangkan soal kepala terbang.

”Penjinak suami? Pengasih?” aku mengulangi dengan pertanyaan. Aku juga geli hati mendengar penjelasan itu. ”Menjinakkan suami dan memberikan kasih dengan kuasa setan?” sambungku pula.

”Apakah ampuh, Pak Ali? Kalau ampuh, kampung kita bisa gawat. Yang lebih gawat, kita kaum lelaki dan perusahaan-perusahaan, juga kantor-kantor. Tentu akan dikuasai kepala terbang.”

”Entahlah!” kata orangtua itu dengan keraguan.

Aku tak mempercayai keampuhan ilmu penjinak suami ini. Ini suatu kebohongan dan janji manis makhluk laknat. Ketidakpercayaanku ada alasannya. Aku berani mengatakan bahwa ilmu itu tidak mujarab. Seorang suami tidak akan pernah tunduk dengan perbudakan seperti itu. Baru kemarin, aku temukan seorang suami, tentu saja lelaki, yang sudah beranak lima. Beliau nikah-kawin lagi dengan seorang pelacur, padahal isterinya adalah kepala terbang, ilmu yang katanya bisa menjinakkan suami itu.

”Ternyata, isterinya  tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima kenyataan dengan terpaksa bahwa suaminya sudah nikah lain. Kepala terbang itu dimadu,” jelasku. ”Itu berarti, pengasihnya tidak ampuh, ‘kan?”

”Sebenarnya, pemilik ilmu kepala terbang harus ditumpaskan sebab mereka mendatangkan malapetaka. Bahkan, mereka membunuh generasi yang akan dan sudah lahir. Kita tidak patut membiarkan kelahiran menjadi tergencat. Setiap kelahiran, tentu ada kebaikan, walaupun tidak dipungkiri memiliki kejahatan,” tiba-tiba Ustad Rahman menyela. ”Mereka itu bukan lagi manusia, tetapi setan bertopeng manusia.”

”Pak Ustad betul. Kami sangat setuju. Setan bertopeng manusia jauh lebih berbahaya daripada segalanya,” beberapa warga menyambut serentak.

Acara kenduri selesai. Seperti acara seminar atau politik kedai kopi. Pembicaraan mengenai kepala terbang lesap begitu saja. Terbang entah ke mana. Orang-orang di kampung, termasuk aku, sibuk dengan aktivitas sehari-hari. Menoreh getah, menebang rumbia, membuat sagu rendang, menganyam tikar mengkuang, melaut, ke kantor, ke sekolah, mejeng ke mall, shoping ke plaza, berbelanja ke Matahari, shooting, dan sebagainya, hanyut dalam kamuflase kehidupan.

***

Semalam, heboh lagi. Seorang ibu meninggal ketika melahirkan. Menyelamatkan satu nyawa, tapi terpaksa melepaskan kepergian satu nyawa. Hari itu kutahu bahwa kelahiran telah mendatangkan kematian. Perjuangan seorang ibu yang belum tentu ikhlas melepaskan kesenangannya, meninggalkan dunia. Kelahiran dan kematian tersebut telah menyebar kabar. Mulut-mulut melompat dengan senangnya. Berkisah seperti Hikayat 1001 Malam. Nyaris semua mulut perempuan di kampungku bersambung jadi satu. Mulut-mulut itu berkicau seperti murai di pagi hari. Monyong!

”Isterinya meninggal karena sulit melahirkan. Sepertinya ada yang menahan kelahiran bayi itu dari dalam. Kandungannya sudah ditunggui oleh kepala terbang,” begitulah mulut-mulut Mak Kepoh yang heboh.

Memang suatu kekesalan yang terbayang. Mulut-mulut itu seperti tidak mempercayai takdir dari-Nya. Salah satu takdir kematian bukanlah seumpama kita menghadiri jemputan dalam suatu acara yang selalu molor. Kematian merupakan kepastian waktu yang sangat konsisten. Semestinya, kita belajar dari situ. Seperti halnya tidur, tiada lain adalah latihan kita sebelum meninggal dunia.

Dalam kasus mati beranak ini, nama Mbok Minah dan Sumilah tersusun secara tersembunyi dalam daftar tak tertulis. Mulut-mulut telah menerbangkan nama mereka bersama angin sebagai pembunuh. Keluarga si mati menjadi lepas kontrol dan menginginkan keadilan dari pemimpin kampung. Ya, keadilan supaya Mbok Minah dan Sumilah-paling tidak-diusir dari kampung kalau tidak mau diadili massa. Mbok penjual sayur dan dara pekerja di perusahaan minyak itu dianggap telah menyebarkan teror melalui kepala mereka yang terbang mengelilingi malam ke rumah-rumah mencari darah.

”Kalau begitu, kita mesti menghadirkan Mbok Minah dan Sumilah dalam pertemuan di balai adat. Kita buat pengadilan adat,” kata pemimpin kampung, Pak Sutardjo.

”Itu lebih baik,” ketus beberapa suara anti. Aku mendengar ada dendam dari suara itu. Bergemuruh!

”Di sana, mereka berdua akan kita basuh habis-habisan,” sambung mereka.

”Tenang, pertemuan itu nantinya bukanlah penghakiman,” kata Pak Sutardjo, ”tetapi, pengungkapan kejujuran. Tentu yang kita inginkan adalah kebenaran.”

”Betul, Pak. Kebenaran sudah pergi begitu jauh. Kita mesti mengejarnya,” tiba-tiba kuberanikan juga diri ini menyela dialog mereka. Entah kenapa, hatiku selalu ingin ikut campur bila mendengar nama kebenaran disebut-sebut. Aku tidak peduli apapun alasannya, yang dinamakan kebenaran, wajib memperoleh pembelaan secara adil dan arif. Walaupun aku paham bahwa kebenaran adalah kepahitan yang terlalu kelat sehingga kita merasa sulit untuk menelannya.

”Besok, kita jemput Mbok Minah dan Sumilah di balai adat,” Pak Sutardjo memutuskan.

Sungguh pun kabar tentang kepala terbang minta tumbal sudah tersiar,  aku sangat menghormati keputusan warga kampung yang bertindak tidak seperti vandalis. Orang-orang kampungku masih menjunjung tinggi nilai musyawarah dan perundingan. Persaudaraan masih kental melingkupi denyut kehidupan sosial kami. Inilah kekuatan. Tanpa kekuatan seperti ini, tentu saja Mbok Minah dan Sumilah sudah hangus terbakar atau mati dibunuh oleh sekelompok orang yang menyerupai manusia.

Ada di antara kita, seperti manusia. Tapi, ada yang lebih arif, laksana hewan saja. Seperti manusia dan laksana hewan merupakan dua kemungkinan yang jauh berbeda. Hanya orang-orang tolol yang memilih kehidupan seperti manusia. Ketika mereka hidup seperti manusia, di saat itulah sifat manusiawi mereka tercampak tak berguna. Emosi terlalu mudah berkobar. Akibatnya, berlaku hukum rimba. Keputusan warga kampungku bukanlah keputusan seperti manusia, tetapi memang keputusan manusia.

”Pertemuan ini adalah upaya kita mencari kedamaian dalam perundingan, bukan silat lidah” Pak Sutardjo memulainya. ”Mbok Minah dan Sumilah kami persilakan duduk pada kursi yang kami sediakan ini. Silakan!”

”Maaf,  Pak Tardjo. Kenapa kami dihadapkan seperti seorang pesalah?” ungkap Sumilah keheranan.

”Ya, Pak. Apalagi saya yang sudah tua ini. Kesalahan apa yang saya lakukan sehingga harus dihadirkan dalam pengadilan adat ini?” tanya Mbok Minah pula.

”Mbok Minah dan Sumilah. Ini terpaksa dilakukan karena permintaan warga.”

”Ya, tapi apa  kesalahan kami?”

”Sementara ini, Anda adalah tertuduh sebagai kepala terbang. Tolong berikan tanggapan tentang tuduhan ini.”

”Pak Tardjo, begitu mudahkan menuduh seseorang telah melakukan suatu pekerjaan setan? Hanya mendengar laporan warga tanpa membuktikan sendiri?” ada kemarahan di hati Sumilah.

”Sumilah, laporan warga merupakan salah satu bukti yang patut menjadi pertimbangan.”

”Benar, Pak. Gadis itu hanya ingin menyembunyikan kesalahannya di balik kepetahan lidahnya. Akui saja bahwa kamu pengamal kepala terbang. Jika tidak, mana mungkin bisa duduk di kursi manajer di perusahaan minyak itu,” tiba-tiba seorang warga nyeletuk dari kursi hadirin. ”Mbok Minah pula telah membuat suaminya bertekuk lutut.”

”Itu tidak benar, Pak. Itu fitnahan namanya. Suami saya tidak pernah bertekuk lutut kepada saya. Sebenarnya, saya amat sedih sebab dua minggu lalu dia baru menikahi seorang janda kembang. Apakah itu bukti bahwa suami saya sudah saya taklukkan?” ada airmata di kehidupan Mbok Minah.

”Saya pun demikian. Apakah karena saya diangkat menjadi manajer, lalu saya dapat dikatakan sebagai pengamal kepala terbang karena pengasih? Apakah Saudara tidak pernah melihat bahwa saya juga mempunyai kemampuan seperti yang lain?”

”Apapun alasannya, kematian dua hari yang lalu itu adalah ulah Anda berdua. Anda berdua telah masuk ke rahim isteriku sehingga dia sulit melahirkan. Dan akhirnya, dijemput ajal,” tambah  suami dari ibu yang mati beranak dua hari lalu. Ada dendam melompat-lompat di matanya, juga menendang-nendang emosinya.

”Kami juga tahu tentang kematian tidak wajar itu. Tapi, apakah kematian itu menjadi vonis terhadap kami? suara Sumilah agak meninggi. ”Kalau setiap kematian dikaitkan dengan seseorang, berarti kita tidak lagi mempercayai  takdir Tuhan.”

Satu jam berlalu. Sepertinya tiada hasil apa-apa. Aku hanya melihat luapan emosi, kemarahan, dendam, mungkin fitnahan yang buntu. Masalah tersebut sudah terjepit antara kebenaran dan pengelabuan. Apalagi yang ingin kita rundingkan bila semuanya berkutat pada kebenaran atau kesalahan masing-masing.

”Pak Tardjo, bisa saya mengajukan satu pertanyaan kepada Mbok Minah dan Sumilah serta hadirin?”

”Silakan!”

”Mbok dan Sumilah, begini saja. Apakah tuduhan ini Anda terima?”

Terdengar suara-suara mencibir pertanyaan bodohku. Aku tenang saja karena aku sudah siap dengan cibiran seperti apapun. Aku juga paham bahwa pertanyaanku itu pasti mengundang geli hati.

”Hadirin, apakah Anda semua menerima jawaban Mbok dan Sumilah?”

”Tidak terima karena mereka bersalah!”

”Sekarang sudah jelas, Pak.”

”Apanya yang sudah jelas?”

”Bahwa permasalahan ini  tidak akan pernah selesai di meja perundingan. Perundingan seperti ini tidak akan menghasilkan apa-apa, kecuali buncahan emosi semata-mata. Jadi, apa gunanya kita teruskan sebab cuma membuang waktu dan pekerjaan kita masih banyak.”

”Saudara-Saudara, perundingan ini memang tidak akan sampai pada tujuan. Masing-masing pasti mempertahankan kebenaran atau kesalahan. Kita tunda saja perundingan ini sambil mencari alternatif jalan keluar yang lain. Sekarang kita bersurai.”

Tiga hari kemudian terdengarlah kabar akan dilaksanakan upacara ”membela kampung”.  Upacara ini lazim dilakukan apabila masyarakat sangat resah dengan gangguan-gangguan mistik, makhluk halus, setan, dan hantu orang. Membela kampung merupakan upacara adat yang sangat agamis. Upacara ini juga adalah salah satu jalan final untuk mengusir roh jahat di negeri kami supaya tidak lagi mengganggu ketenteraman hidup masyarakat.

Aku tidak tahu entah ide dari siapa. Bukan hendak menentangnya,  tetapi aku justru sangat setuju gagasan ini. Sudah terlalu lama-sekitar dua-puluh tahun-upacara ini tidak pernah dilaksanakan lagi. Aku tidak tahu pasti penyebabnya. Mungkin saja dikarenakan warga kampung kami terlalu disibukkan dengan urusan penghidupan di dunia sebagai tempat senda gurau ini. Ya, kemungkinan itu sangat memungkinkan.

Hari itu, lelaki-perempuan tumpah-ruah berkumpul di masjid. Anak-anak juga ada. Remaja-remaja pun ikut serta. Mbok Minah dan Sumilah pun ada di sana. Pak Sutardjo mengenakan stelan gaya kiai.  Aku? Aaah, aku berpakaian biasa-biasa saja. Cuma mengenakan topi haji hadiah dari seorang haji pada musim haji tahun lalu. Di saat itulah, aku melihat orang-orang seperti alim semuanya. Mudah saja kita menebak bahwa kealiman itu selalu timbul tatkala kesempitan hidup mencekik kita, tetapi akan tenggelam lagi pada waktu kemewahan bermaharajalela.

Tak peduli terik, upacara ”membela kampung” berlangsung dengan penuh khidmat. Di sepanjang jalan-jalan kampung, kami memekikkan zikir sambil memutar butiran-butiran tasbih. Di setiap perempatan jalan dan parit-parit atau tempat-tempat yang dianggap ada penunggunya, dikumandangkan azan. Ketika itulah, bulu kuduk berdiri. Ada suasana seram membayangi sekujur tubuh. Kami sangat berharap agar asma Illahi mengenyahkan setan-setan dari kehidupan di kampung kami ini. Dalam hatiku berharap semoga setan-setan tidak terlalu pintar bermain dengan permainan ini. Aku juga berharap mudah-mudahan upacara ”membela kampung” ini bukan make up untuk membela diri.

”Semakin bingung. Entah siapa yang setan. Entah siapa kepala terbangnya. Semuanya sudah membaur dalam upacara ini,” kataku kepada Pak Sutardjo setelah semuanya selesai.

”Iya, tapi dengan upacara ini, mudah-mudahan akan aman.”

”Justru kemananan dan kehormatan hidup terletak di kepala dan hati kita, Pak. Bagaimana hidup bisa terhormat dan aman jika kepala kita biarkan terbang melata, bersekutu dengan setan, dan menghirup darah segar.” Orang-orang sudah kembali ke rumah masing-masing. Aku termenung di teras masjid. Aku rasakan ada kedamaian di sana.

Sehari kemudian, ada lagi seorang ibu meninggal ketika melahirkan. Mulut-mulut kembali melompat mengabarkan kisah tentang kepala terbang. Setan semuanya!***


Tinggalkan komentar

Filed under Cerpen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s