Kebudayaan Versus Kebiadaban


”Tentang musik mars dalam resepsi-resepsi kerajaan, pernah ada perdebatan sengit dalam parlemen. Yang pro musik mars dan brass-band, mendasarkan ulasannya pada sifat praktis yang tradisional. Kata mereka, bunyi brass-band dapat mengatasi setiap bunyi yang keluar dari mejelis resepsi, bahkan juga dapat mengatasi teriakan wanita yang kena cubit. Hal ini memberikan kemerdekaan yang lebih besar kepada pengunjung resepsi untuk bicara antara mereka karena mereka tahu bahwa orang-orang di sekelilingnya tidak dapat mendengarkan pembicaraannya. Yang anti musik mars pula, menamakan resepsi-resepsi kerajaan biadab karena orang-orang biadab sajalah yang mencari privasy dalam kebingar-bingaran.”

Prosais Angkatan ’45, Idrus, jauh-jauh hari telah memberikan perhatian serius dengan persoalan kebudayaan. Beliau mengungkapkannya lewat ”Hikayat Puteri Penelope” seperti nukilan di atas. Walaupun dengan ilustrasi begitu sederhana, Idrus ingin menggambarkan betapa suatu kebiadaban (barbarisme) mudah saja terjadi dalam lingkungan dan suasana apapun. Barbarisme akan menerkam kalangan seni, golongan pemerintahan, kaum politisi, para ekonom, kaum hukama, dan berbagai lapisan masyarakat yang lain. Kepribadian barbar bisa saja menggerogoti dan menjumudkan kesehatan ekonomi, geliat kesenian, dinamika politik, modernisasi pendidikan, kehidupan sosial-budaya, ataupun mampu mengancam masa depan dan kesehatan bangsa dan negara.

Apapun alasan, sebenarnya kebiadaban (barbarisme) bukanlah suatu kebudayaan, melainkan sama halnya dengan korupsi, yaitu suatu penyakit kronis yang amat membahayakan perwujudan cita-cita kebudayaan nasional. Jika terus dibiarkan hidup tanpa upaya pembasmian, penyakit ini tentunya akan menular ke berbagai lapisan kehidupan. Barbarisme akan menerpa siapa saja tanpa pandang bulu. Apabila kita mengatakan bahwa barbarisme sebagai suatu ”kebudayaan yang tidak sehat” pun, seharusnya tidak berterima.

Ignas Kleden mengatakan bahwa ukuran bagi sehatnya suatu kebudayaan ialah keseimbangan antara ketenangan dan gerak, antara tatakrama dan urakan, antara kepastian dan kegelisahan, antara harmoni dan kritik. Pendapat ini seolah-olah telah memilahkan bahwa adanya istilah ”kebudayaan yang sehat” dan ”kebudayaan yang tidak sehat”.

Abah perjalanan suatu kebudayaan, senantiasa ke visi perkembangan dan kemajuan. Dia bukan jumud, apalagi mundur. Tidak ada satu kebudayaan pun yang terbentuk oleh kita di dunia ini bergerak ke belakang. Persoalan adanya tingkat-polah kebiadaban, itu bukan merupakan kebudayaan. Kebiadaban merupakan aksiden yang coba menghalangi dinamisasi kebudayaan. Aksiden merupakan stagnasi dalam perjalanan budaya. Stagnasi ini berkemampuan menikam kebudayaan hingga tergeletak beku. Kemunculan aksiden akan mengakibatkan akselerasi kebudayaan menjadi tergencat. Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa adanya ”kebudayaan yang tidak sehat”, itu perlu kita luruskan dengan menyebutnya dengan ”bukan kebudayaan, tetapi suatu penyakit/kelainan dalam masyarakat.”

Berbagai hasil kreativitas kebudayaan, saat ini telah dicomoti oleh ”penyakit/kelainan” tersebut. Ada beberapa bentuk kebiadaban yang menonjol dan spesifik di dalamnya. Pertama, bermasker estetik, tetapi berselera rendahan. Ada gejala awal bahwa kelarisan seni musik di pasaran (tidak semuanya) bukan lagi karena keunggulan estetika dan keaslian (orisinalitas) musik yang dikandungnya, tetapi lebih condong disebabkan oleh kebiadaban. Di pasar-pasar, tersedia berbagai kaset digital yang menularkan penyakit/kelainan seperti ”goyang maut”.

Goyang maut” atau musik sejenisnya ini telah merambah dunia musik dengan suguhan kemolekan dan keseksian tubuh sebagai prioritasnya.  Sambil melantunkan lagu-lagu yang pernah populer dengan perubahan rentak dan tempo musik, mereka menggoyangkan seluruh tubuh dengan  gerakan erotis. Bahkan, di dalam masyarakat nyata, berkembang usaha  seperti orgen tunggal dengan suguhan semacam itu. Bukanlah kesenian sebagai kreasi kebudayaan yang ditampilkan, tetapi unsur seksualitas, suara-suara genit mengundang birahi, urak-urakan, kebingar-bingaran, bahkan selera rendah birahi kehewanan.

Tidak sedikit para ”artis” yang sanggup berpakaian minim, apakah itu suatu kebudayaan hakiki? Pantaskan foto bugil disebut sebagai hasil budaya yang estetis seperti buku ”syuga” itu? Berkualitas sangatkah-agaknya-kebudayaan kita dengan cara memamerkan sekebat dosa? Atau, amat bermutukah film-film yang menyuguhkan kevulgaran pornografinya? Sanggupkah kita katakan bahwa pelacuran (prostitusi) merupakan suatu kebudayaan, walaupun kita eufimisme-kan dengan sebutan ”kebudayaan yang tidak sehat?” Layakkah kita katakan semuanya itu merupakan suatu kebudayaan, padahal ia terwujud dari aksiden perangai dengan selera rendahan? Jika, ya, demikian, apakah perbedaan antara kebudayaan kita dengan ayam, lembu, atau sejenisnya?

Kedua, vandalisme. Kehadiran vandalisme sudah lama, selama usia dunia sebagai tempat tumbuh-kembang kebudayaan. Virtualnya, telah terjadi pengrusakan-pengrusakan, penghancuran-penghancuran, dan pemerkosaan-pemerkosaan kekayaan secara kasar/ganas. Bentuk-bentuk vandalisme, dapat dinyatakan sebagai berikut, yaitu: (1) Pengrusakan hasil karya seni, termasuk pencekalannya, hanya karena alasan demi keamanan. (2) Pengrusakan terhadap fasilitas-fasilitas umum, yang akhirnya menghambat kemajuan jaringan kebudayaan. (3) Upaya-upaya penghancuran suatu tradisi oleh negara tertentu dengan melancarkan perang, juga merupakan perwujudan perangai ini. (4) Pengeksploitasian hasil dan keindahan, baik di dalam maupun di atas bumi, telah banyak yang lodoh oleh para vandal dengan kilah demi pembangunan. (5) Kerenah para provokator yang bertindak memancing berbagai kerusuhan dan terorisme.

Kebudayaan (peradaban) terbentuk berdasarkan asas kesadaran. Suatu kesadaran bukanlah tertanam dalam diri manusia sebagai subjek sekaligus objek kebudayaan, tetapi sepatutnya tumbuh dan berkembang seiring dengan perilaku yang berbudaya (beradab). Ini berarti, kebudayaan bergerak ke masa depan, menuju kemajuan, memilih kearifan, mencari kebenaran, dan menyanggah barbarisme. Bukan kebudayaan namanya kalau telah melahirkan dekadensi moral, amoral, asusila, korupsi, manipulasi, monopoli, dan sejenisnya.

Kebudayaan merupakan suatu kenyataan (reality). Menghadapi kenyataan hidup dengan kebenaran berarti telah menciptakan, memajukan, dan mengembangkan iklim kebudayaan yang dikehendaki. Manusia tidak akan pernah terlepas dari kenyataan, juga imajinasi. Kalau Rendra mengatakan bahwa manusia dibatasi oleh dua kenyataan, yaitu kenyataan alam dan kenyataan kebudayaan, maka para epikuris seperti kaum sufi akan mengatakan bahwa manusia dibatasi oleh asas kesadaran aspek jagatraya (makrokosmos) dan aspek diri sendiri (mikrokosmos). Kedua kesadaran tersebut saling mempengaruhi satu sama lainnya. Di samping itu, keduanya akan menciptakan suatu depersonifikasi.

Sikap berontak lebih cocok untuk mencairkan budaya absolutisme,” demikian kata Rendra. Kebekuan memang tidak mendatangkan apa-apa, tidak bergerak, mati, dan berhenti berkarya atau berhenti bekerja. Berhenti berkarya berarti tidak menciptakan kebudayaan. Tidak menciptakan kebudayaan, akan mengundang munculnya kebiadaban. Selain dengan sikap Rendra tersebut, bagaimana kalau sikap berontak itu kita luahkan juga untuk melumpuhkan aksiden-aksiden yang menggencatkan akselerasi kebudayaan. Alangkah moleknya bilamana sikap berontak bertugas membunuh kebiadaban-kebiadaban, yang bukan merupakan pakaian hakiki manusia.

Ada budayawan berpendapat bahwa suatu kebudayaan yang sehat akan selalu memberikan ruang dan kemungkinan untuk masuknya unsur-unsur pembaruan demi perkembangan dan kemajuan. Namun, yang terjadi di sebalik pernyataan pernyataan tersebut, bukan mustahil bahwa unsur-unsur pembaruan dan perkembangan itu merupakan neokolonialisme. Incaran neokolonialisme bukan aspek fisik, melainkan menciptakan keterbelakangan mental.

Betapa banyak penjajahan gaya baru telah menghancurkan mentalitas generasi suatu bangsa. Oleh golongan tertentu, neokolonialisme ini mereka susupkan melalui mode-mode, style, informasi, industri, penciptaan sikap konsumerisme, teknologi, dan bahkan ilmu pengetahuan. Golongan tertentu tersebut dapat membaca kapan saat yang tepat terjadinya ketidakstabilan mentalitas generasi muda. Ketika itulah, akan terjadi masa peralihan sikap dari stabilitas kepada instabilitas (labil). Penjajahan model inilah yang sebenarnya dapat membahayakan kehidupan generasi untuk masa mendatang. Penjajahan macam ini akan mematikan masa depan dan menerokai kebiadaban.

Pemajuan dan pengembangan seperti ini bukan merupakan sikap untuk menciptakan iklim kebudayaan yang kita kehendaki. Akan tetapi, pretensi upaya penyusupan tersebut tiada lain adalah tindakan-tindakan kebiadaban atau non-kemanusiaan. Bangsa ini memang sudah sejak dulu telah memikirkan jalan keluar terbaik. Namun, belum dapat bertindak dengan lebih arif sehingga pengaruh sampingannya sangat dirasakan hingga kini, entah sampai kapan?***

Tinggalkan komentar

Filed under Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s