Rinduku pada Rasul


Rinduku pada Rasul

Ketika Subuh di Nabawi, sejuk yang meretakkan bibir-bibir

Mata meleleh dalam sepi, hati bergetar dalam gema takbir

Lalu, berlabuh

Dahi-dahi tersungkur di sajadah, menghapus resah

Berebut tangkap dalam taman rasyidah yang indah

Di sinilah rumah hijrah. Pembunuh berjuta gelisah

Salah satu makam hati di dua kota suci

Ziarah, sejarah, juga risalah rindu membuncah

Seluas malam, seluas siang, sedalam lautan tak bertepi

Kubah-kubah, jubah-jubah

Membentangkan kebesaran yang tak pernah sudah

Mengapa langkahku terus gelisah

Mencarimu, ingin sekali bersua

karena cinta yang telah kauberi sangat berarti

Bagai mimpi, aku begitu dekat denganmu

Bertegur sapa, tapi hanya dalam hati

Engkau tersenyum penuh berseri, suci

Tapi, rinduku ini masih seperti dulu lagi

Tunggu! Suatu saat nanti

Akan kubawa setangkai melati

Sebagai tanda rinduku tak pernah berbagi

Rumah sastra, 20 Januari 2008

Tinggalkan komentar

Filed under Puisi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s